JOHANNESBURG, AFSEL – Para pemimpin Eropa, Kanada, dan Jepang menolak rencana perdamaian 28 poin yang diajukan Presiden AS Donald Trump untuk mengakhiri perang Rusia-Ukraina. Mereka menyebut proposal tersebut masih jauh dari layak dan membutuhkan banyak perbaikan.
Pernyataan tersebut ditandatangani oleh kepala pemerintahan dan negara Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Spanyol, Belanda, Polandia, Finlandia, Norwegia, Uni Eropa, Kanada, serta Jepang.
“Draf awal dari rencana 28 poin tersebut mencakup elemen-elemen penting yang akan menjadi esensial untuk perdamaian yang adil dan langgeng,” bunyi pernyataan bersama itu. “Oleh karena itu, kami percaya bahwa draf tersebut merupakan basis yang akan memerlukan pekerjaan tambahan.”
Isi Krusial yang Kontroversial
Para pemimpin Barat secara khusus mengkritik poin-poin yang dinilai melemahkan posisi Ukraina secara permanen, antara lain:
- Pembatasan kekuatan militer Ukraina maksimal 600.000 personel (dari saat ini sekitar 880.000)
- Larangan permanen bergabung dengan NATO
- Penyerahan de facto Krimea, sebagian besar Donetsk dan Luhansk kepada Rusia meski wilayah itu belum sepenuhnya dikuasai Moskow
- Jaminan keamanan yang dianggap kabur, hanya berupa “respons militer terkoordinasi” tanpa mekanisme jelas jika Rusia menyerang lagi
“Kami juga prihatin dengan usulan pembatasan terhadap angkatan bersenjata Ukraina, yang akan membuat Ukraina rentan terhadap serangan di masa depan,” tegas pernyataan itu.
Trump Beri Batas Waktu hingga Kamis
Presiden Trump sebelumnya memberikan ultimatum kepada Presiden Volodymyr Zelenskyy untuk menerima proposal tersebut paling lambat Kamis mendatang. Proposal ini diketahui disusun melalui koordinasi langsung antara Washington dan Moskow.
“Dia harus menerimanya, dan jika dia tidak mau, maka, saya kira, mereka sebaiknya terus berperang saja,” ujar Trump kepada wartawan, Jumat (21/11).
Eropa Bersikeras: Tak Ada Keputusan Tanpa Ukraina
Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menegaskan kembali prinsip yang sudah lama dipegang Uni Eropa.
“Tidak ada keputusan tentang Ukraina tanpa Ukraina,” katanya, Jumat. Sementara Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menyatakan bahwa diskusi di Johannesburg akan difokuskan pada “penguatan” proposal agar lebih menguntungkan Kyiv.
Ukraina Siapkan Delegasi ke Swiss
Menanggapi tekanan tersebut, kantor Presiden Zelenskyy pada Sabtu malam mengumumkan bahwa delegasi Ukraina akan segera bertolak ke Swiss untuk bertemu perwakilan Amerika Serikat guna membahas kerangka perdamaian.
“Ukraina tidak akan pernah menjadi penghalang bagi perdamaian, dan perwakilan negara Ukraina akan membela kepentingan sah rakyat Ukraina,” demikian pernyataan resmi kantor presiden Ukraina.
Zelenskyy sendiri pada Jumat menyebut negaranya sedang menghadapi “salah satu momen paling sulit” dalam sejarah, dengan pilihan berat antara “kehilangan martabatnya atau risiko kehilangan mitra kunci”.
Putin Anggap Proposal Bisa Jadi Dasar
Dari Moskow, Presiden Vladimir Putin pada Jumat menyatakan bahwa rencana 28 poin Trump “dapat berfungsi sebagai dasar untuk penyelesaian perdamaian akhir”, meski ia mengakui Rusia belum terlibat pembicaraan mendalam mengenai isi proposal tersebut.
Dengan sikap tegas Eropa dan ultimatum Trump yang semakin dekat, nasib proposal perdamaian kontroversial ini kini berada di persimpangan kritis.
