JAKARTA – Nama Lionel Messi kembali menjadi bahan perdebatan di Piala Dunia 2026. Setelah sebelumnya menuai sorotan akibat tekel keras terhadap bek Aljazair, Aissa Mandi, yang tidak berujung kartu merah, kini kapten Timnas Argentina itu kembali berada di tengah kontroversi terkait penerapan aturan baru yang dikenal sebagai “Hukum Prestianni”.
Perdebatan mencuat usai beredarnya foto Messi yang terlihat menutupi mulut saat berbicara setelah mencetak gol dalam kemenangan Argentina 3-0 atas Aljazair. Momen tersebut memicu pertanyaan di kalangan penggemar sepak bola mengenai konsistensi penerapan regulasi baru FIFA, terutama setelah gelandang Paraguay Miguel Almiron mendapat kartu merah karena tindakan serupa.
Kontroversi ini berkembang di tengah upaya FIFA dan International Football Association Board (IFAB) memperketat aturan terkait perilaku pemain di lapangan. Namun, sejumlah pengamat menilai kasus yang melibatkan Messi dan Almiron memiliki konteks yang berbeda secara fundamental.
Sorotan Baru untuk Messi
Messi menjadi salah satu pemain yang paling banyak dibicarakan sepanjang fase awal Piala Dunia 2026. Selain berperan penting dalam kemenangan Argentina atas Aljazair, pemain berusia 39 tahun itu juga sempat menjadi sorotan karena insiden tekel terhadap Aissa Mandi yang dinilai sebagian pihak layak mendapat hukuman lebih berat.
Ketika polemik tersebut belum sepenuhnya mereda, muncul perdebatan baru setelah sejumlah cuplikan pertandingan memperlihatkan Messi berbicara sambil menutupi mulutnya. Di media sosial, sebagian pengguna mempertanyakan mengapa sang megabintang tidak mendapatkan sanksi, sementara Miguel Almiron justru harus meninggalkan lapangan lebih cepat akibat tindakan yang dianggap serupa.
Perbandingan antara kedua kasus itu segera memicu diskusi luas mengenai batasan dan interpretasi aturan baru yang diterapkan FIFA selama turnamen berlangsung.
Almiron Jadi Korban Pertama Aturan Baru
Miguel Almiron tercatat sebagai pemain pertama yang menerima kartu merah berdasarkan regulasi anyar tersebut. Insiden terjadi saat Paraguay menghadapi Turki dalam laga fase grup yang berakhir dengan kemenangan 1-0 bagi wakil Amerika Selatan itu.
Dalam pertandingan tersebut, mantan pemain Newcastle United itu tertangkap kamera menutupi mulutnya ketika terlibat perselisihan dengan pemain lawan. Wasit kemudian mendapatkan rekomendasi untuk meninjau kejadian melalui Video Assistant Referee (VAR).
Setelah melihat tayangan ulang di monitor tepi lapangan, wasit memutuskan mengeluarkan kartu merah langsung kepada Almiron. Keputusan itu menjadi salah satu momen paling banyak dibahas sejak dimulainya turnamen.
Apa Itu “Hukum Prestianni”?
Aturan yang populer disebut “Hukum Prestianni” lahir setelah muncul sejumlah kontroversi di level sepak bola internasional. Regulasi tersebut disahkan IFAB dengan tujuan meningkatkan transparansi dalam interaksi antarpemain di lapangan.
Nama aturan itu merujuk pada kontroversi yang sebelumnya melibatkan pemain Benfica, Gianluca Prestianni, serta bintang Real Madrid, Vinicius Junior. Dalam sejumlah kasus sebelumnya, tindakan menutupi mulut dinilai menyulitkan proses identifikasi ucapan yang berpotensi mengandung hinaan, provokasi, atau pelanggaran disiplin lainnya.
Melalui regulasi baru tersebut, pemain dapat dikenai hukuman berat apabila secara sengaja menutupi mulut ketika berada dalam situasi konfrontasi dengan lawan.
Poin Penting yang Membedakan Messi dan Almiron
Meski sekilas terlihat serupa, banyak pihak menegaskan bahwa tindakan Messi tidak memenuhi unsur pelanggaran sebagaimana yang diatur dalam “Hukum Prestianni”.
Berdasarkan rekaman pertandingan, Messi diketahui menutupi mulut saat berbicara kepada rekan setimnya setelah mencetak gol kedua Argentina pada menit ke-60. Tidak terdapat indikasi adanya perselisihan ataupun interaksi konfrontatif dengan pemain lawan pada momen tersebut.
Di sisi lain, Almiron melakukan tindakan serupa ketika sedang berhadapan langsung dengan pemain lawan dalam situasi yang dinilai memanas. Faktor inilah yang menjadi dasar utama penerapan kartu merah.
Jurnalis sepak bola Inggris, Henry Winter, menegaskan bahwa kata kunci dalam aturan tersebut adalah “konfrontasi”. Menurutnya, pemain tetap diperbolehkan menutupi mulut ketika berdiskusi dengan rekan setim mengenai taktik atau komunikasi internal tim.
“Pemain boleh menutup mulut ketika berkomunikasi dengan rekan setim, membahas taktik, dan sebagainya. Tidak ada alasan untuk tidak mengetahuinya karena semua pemain telah diberi penjelasan sebelum turnamen,” tulis Winter melalui akun media sosial X.
FIFA Beri Penjelasan Resmi
Di tengah berkembangnya perdebatan, FIFA akhirnya mengeluarkan penjelasan resmi mengenai kartu merah yang diterima Almiron. Organisasi sepak bola dunia itu menegaskan bahwa keputusan wasit sepenuhnya sesuai dengan amandemen regulasi yang mulai diberlakukan pada Piala Dunia 2026.
“Setelah tinjauan VAR dalam pertandingan antara Turki dan Paraguay, Miguel Almiron diberi kartu merah karena menutupi mulutnya. Menyusul pertemuan khusus IFAB pada April lalu, sejumlah amandemen diperkenalkan untuk diterapkan di Piala Dunia FIFA 2026, termasuk kartu merah bagi pemain yang terlihat menutupi mulutnya dalam situasi konfrontasi dengan lawan,” tulis FIFA dalam pernyataan resminya.
Penjelasan tersebut sekaligus memperjelas bahwa tindakan Messi dalam laga melawan Aljazair tidak masuk dalam kategori yang diatur oleh regulasi baru tersebut.
Debat Konsistensi Wasit Masih Berlanjut
Meski FIFA telah memberikan klarifikasi, diskusi mengenai konsistensi penerapan aturan masih terus bergulir. Sebagian penggemar menilai setiap tindakan menutupi mulut seharusnya mendapatkan perhatian yang sama, sementara kelompok lain berpendapat bahwa konteks kejadian harus menjadi faktor utama dalam pengambilan keputusan.
Kontroversi ini menunjukkan bagaimana aturan baru masih membutuhkan proses adaptasi, baik bagi pemain, pelatih, suporter, maupun perangkat pertandingan. Di sisi lain, perdebatan tersebut juga menjadi bukti bahwa setiap tindakan Lionel Messi di panggung terbesar sepak bola dunia selalu mendapat sorotan ekstra.
Dengan fase grup Piala Dunia 2026 yang masih berlangsung, penerapan “Hukum Prestianni” diperkirakan akan terus menjadi perhatian. FIFA pun menghadapi tantangan untuk memastikan setiap keputusan diambil secara konsisten agar tidak memunculkan persepsi adanya perlakuan berbeda terhadap pemain tertentu, termasuk para bintang besar dunia.