JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mempertahankan penguatan pada perdagangan sesi pertama Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (18/8/2026).
IHSG pada pukul 10.45 WIB tercatat berada di level 6.482,39 atau menguat 80,51 poin setara 1,26 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Penguatan juga terlihat pada indeks LQ45 yang naik 5,01 poin atau 0,79 persen ke posisi 637,29.
Pergerakan positif tersebut melanjutkan tren sejak pembukaan pasar ketika IHSG berada di level 6.462,58 atau naik sekitar 0,95 persen.
Kinerja IHSG hari ini menunjukkan respons positif investor meski pasar saham masih menghadapi sejumlah risiko eksternal.
Sebelumnya, pada Jumat (14/8/2026), IHSG mengakhiri perdagangan dengan lonjakan 1,59 persen ke level 6.401,89.
Namun, penguatan tersebut terjadi ketika investor asing masih mencatatkan aksi jual bersih saham senilai Rp397 miliar.
Tim Analis Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG masih memiliki peluang melanjutkan penguatan dengan level 6.450-6.480 menjadi area yang diperhatikan investor.
“Hari ini, IHSG berpeluang menguat dan akan menguji level 6.450-6.480,” kata Tim Analis Phintraco Sekuritas, Selasa (18/8/2026).
Meski prospek pasar domestik cukup positif, investor tetap perlu mencermati perkembangan geopolitik setelah kesepakatan gencatan senjata AS-Iran berakhir pada 17 Agustus 2026.
Phintraco Sekuritas menyebut Iran telah menutup peluang negosiasi baru dengan Amerika Serikat, sementara Washington juga menyatakan tidak akan memperpanjang gencatan senjata.
Ancaman Presiden Trump terhadap Oman turut menambah kekhawatiran pasar mengenai kemungkinan meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah.
Tekanan geopolitik tersebut berpotensi memengaruhi harga komoditas, arus modal global, nilai tukar, hingga keputusan investasi di pasar saham.
Di pasar komoditas, harga minyak mentah tercatat menguat lebih dari 2,5 persen pada perdagangan Senin.
Harga emas juga naik sekitar 0,9 persen seiring pelemahan dolar Amerika Serikat dan berkurangnya ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve.
“Namun para investor terus memantau ketegangan geopolitik di Timur Tengah,” ucap Tim Phintraco.
Dari dalam negeri, sentimen positif datang setelah pemerintah menyampaikan pidato kenegaraan serta Nota Keuangan RAPBN 2027.
Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya memaparkan sejumlah capaian ekonomi dan program pemerintah yang dinilai berpotensi memperkuat kepercayaan investor.
Investasi pada semester I 2026 disebut mencapai Rp1.010 triliun dan menciptakan lebih dari 1,4 juta lapangan pekerjaan.
Pemerintah juga menargetkan pertumbuhan ekonomi mencapai 6 persen pada akhir tahun, setelah pertumbuhan semester I tercatat 5,45 persen secara tahunan.
“Hal ini berpotensi menjadi faktor positif,” ucap Tim Phintraco.
Kenaikan investasi diperkirakan dapat menciptakan efek berganda terhadap konsumsi masyarakat dan penyaluran kredit.
Sejumlah sektor yang berpeluang menikmati dampak positif antara lain perbankan, barang konsumsi, industri, serta konstruksi.
Kebijakan ketahanan pangan pemerintah juga menjadi perhatian pasar setelah Presiden menyampaikan Indonesia telah mencapai swasembada beras, jagung, dan gula.
Menurut Phintraco Sekuritas, kondisi tersebut dapat memberikan sentimen positif bagi sektor poultry, perkebunan, pupuk, dan industri pengolahan makanan.
Dari sektor energi, pemerintah menyatakan Indonesia tidak lagi mengimpor solar sejak 1 Juli 2026 berkat penerapan biodiesel B50.
Implementasi B50 diproyeksikan menghemat devisa hingga Rp170 triliun setiap tahun sekaligus meningkatkan permintaan minyak sawit mentah atau CPO di pasar domestik.
Restrukturisasi perusahaan negara juga menjadi agenda penting yang berpotensi memengaruhi sentimen pasar saham.
Pemerintah menargetkan jumlah BUMN dapat ditekan menjadi maksimal 300 entitas hingga akhir 2026 dengan lebih dari 750 entitas yang dinilai tidak produktif akan ditutup.
Restrukturisasi tersebut diperkirakan mampu menghemat biaya overhead sekitar Rp50 triliun per tahun untuk kemudian dialihkan ke investasi dan industrialisasi.
Selain itu, pemerintah memproyeksikan dividen BUMN untuk tahun buku 2026 mencapai Rp200 triliun tanpa tambahan penyertaan modal negara.
Di tengah berbagai sentimen tersebut, pelaku pasar kini menunggu keputusan kebijakan suku bunga Bank Indonesia yang dijadwalkan diumumkan pada pekan ini.
Keputusan BI akan menjadi salah satu katalis penting bagi IHSG karena berkaitan dengan biaya dana, nilai tukar rupiah, kredit, serta daya tarik investasi di pasar domestik.
Dengan demikian, penguatan IHSG pada perdagangan Selasa mencerminkan kombinasi sentimen domestik yang positif dan respons investor terhadap perkembangan pasar global.***




