JAKARTA – Iran secara terbuka mengklaim kemenangan dalam konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Klaim tersebut disampaikan Ketua Parlemen Iran sekaligus kepala negosiator Teheran, Mohammad Bagher Ghalibaf, yang menyebut negaranya berhasil menggagalkan berbagai target strategis yang telah dirancang lawan sejak awal perang.
Pernyataan itu disampaikan Ghalibaf dalam pidato yang disiarkan televisi pemerintah Iran pada Rabu waktu setempat. Di tengah mulai terbukanya rincian kesepakatan terbaru antara Washington dan Teheran, pejabat senior Iran itu menegaskan bahwa hasil konflik justru memperkuat posisi negaranya di kawasan.
Menurut Ghalibaf, perang yang baru saja berakhir bukan sekadar konfrontasi militer, melainkan pertarungan ideologi dan nilai yang lebih besar.
“Perang baru-baru ini adalah perang antara front kebenaran dan kebohongan,” kata Ghalibaf.
Ia menilai hasil konflik menunjukkan bahwa Iran mampu mempertahankan kepentingan nasionalnya sekaligus menggagalkan agenda yang diusung AS dan Israel.
“Kami tidak membiarkan Amerika Serikat dan Israel mencapai sembilan tujuan yang mereka tetapkan sejak awal perang,” ujarnya.
Diplomasi dari Posisi Kekuatan
Dalam pidatonya, Ghalibaf juga menegaskan bahwa Iran tidak memandang diplomasi sebagai bentuk kompromi yang lahir dari kelemahan. Sebaliknya, negosiasi hanya dapat dilakukan ketika posisi negara berada dalam keadaan kuat.
Ia menyebut pendekatan yang dianut Teheran sebagai “diplomasi kekuatan”, yaitu negosiasi yang tetap menjadi bagian dari perjuangan politik dan strategis negara.
“Ketika saya berbicara tentang negosiasi dan diplomasi, yang saya maksud adalah diplomasi kekuatan,” kata Ghalibaf.
Ia menambahkan bahwa dirinya mendukung proses perundingan selama negosiasi tersebut tetap menjadi instrumen untuk memperjuangkan kepentingan nasional Iran.
Pernyataan itu sekaligus memperlihatkan bagaimana pemerintah Iran berupaya membangun narasi bahwa kesepakatan yang dicapai dengan AS bukanlah hasil tekanan Washington, melainkan buah dari posisi tawar Teheran yang dinilai semakin kuat setelah konflik berakhir.
Ungkap Ketidakpercayaan kepada Pemerintah AS
Dalam kesempatan yang sama, Ghalibaf mengungkapkan pandangannya terhadap pemerintah Amerika Serikat. Ia mengaku pernah secara langsung menyampaikan ketidakpercayaannya kepada Wakil Presiden AS, JD Vance.
Menurutnya, pengalaman panjang hubungan Iran dengan Washington membuat Teheran tetap berhati-hati dalam membaca setiap langkah diplomasi yang dilakukan Amerika Serikat.
Meski demikian, Iran tetap terlibat dalam proses negosiasi yang menghasilkan sejumlah kesepakatan penting, termasuk terkait keamanan kawasan dan aktivitas ekonomi pascakonflik.
Sikap ini menunjukkan bahwa meskipun hubungan kedua negara masih dipenuhi kecurigaan, kepentingan strategis mendorong keduanya untuk mencari titik temu demi menghindari eskalasi yang lebih besar.
Selat Hormuz Tetap Jadi Kartu Strategis Iran
Salah satu bagian yang paling menarik dari pernyataan Ghalibaf adalah komentarnya mengenai Selat Hormuz, jalur pelayaran energi paling vital di dunia yang menjadi penghubung utama ekspor minyak dari kawasan Teluk.
Ghalibaf mengingatkan kembali unggahannya di media sosial X selama perang berlangsung. Saat itu ia memperingatkan bahwa dinamika di Selat Hormuz tidak akan pernah kembali seperti sebelum konflik.
“Selama perang, saya menulis di X bahwa Selat Hormuz tidak akan pernah kembali ke kondisi sebelumnya, dan itu tetap benar hingga hari ini,” katanya.
Meski mengisyaratkan adanya perubahan permanen dalam lanskap geopolitik kawasan, Ghalibaf menegaskan Iran tidak memiliki niat untuk mengganggu pelayaran internasional secara sepihak.
“Namun, ini tidak berarti bahwa kami bermaksud untuk bertindak di Selat Hormuz yang bertentangan dengan hukum internasional atau peraturan maritim, tidak pernah. Kami akan bertindak dalam kerangka hukum internasional,” tegasnya.
Pernyataan tersebut dinilai penting karena Selat Hormuz selama ini menjadi salah satu titik paling sensitif dalam perdagangan energi global. Setiap ketegangan di kawasan itu berpotensi memicu lonjakan harga minyak dunia dan mengganggu rantai pasok internasional.
Dokumen Kesepakatan AS-Iran Mulai Terungkap
Di tengah klaim kemenangan Iran, perhatian internasional juga tertuju pada dokumen prinsip-prinsip kesepakatan yang berhasil dicapai antara AS dan Iran.
Dokumen tersebut mengungkap sejumlah poin yang dianggap menguntungkan Teheran. Dalam kerangka awal perjanjian, Iran hanya diwajibkan untuk tidak mengembangkan senjata nuklir, sementara berbagai pembatasan ekonomi dan tekanan internasional terhadap negara itu akan mulai dikurangi secara bertahap.
Kesepakatan tersebut memberikan tenggat waktu selama 60 hari bagi kedua pihak untuk menyusun perjanjian final yang lebih rinci.
Salah satu poin utama adalah komitmen Amerika Serikat untuk mengakhiri blokade angkatan laut serta menghentikan berbagai bentuk pembatasan dan intervensi yang selama ini diterapkan terhadap Iran.
Selain itu, Washington juga disebut akan menarik pasukannya menjauh dari kawasan sebagai bagian dari upaya menurunkan ketegangan regional.
Sebagai timbal balik, Iran menyatakan kesediaannya menjamin jalur aman bagi kapal-kapal komersial yang melintasi rute dari Teluk Persia menuju Teluk Oman maupun sebaliknya selama periode 60 hari tanpa biaya tambahan.
Sanksi Berpotensi Dicabut, Iran Dapat Suntikan Dana Raksasa
Bagian paling mencolok dari dokumen tersebut adalah komitmen ekonomi yang disebut mencapai sedikitnya USD300 miliar untuk mendukung rekonstruksi dan pembangunan ekonomi Iran.
Jika terealisasi, angka tersebut akan menjadi salah satu paket dukungan ekonomi terbesar yang pernah diterima Iran dalam beberapa dekade terakhir.
Amerika Serikat juga disebut berkomitmen menghapus berbagai jenis sanksi terhadap Teheran, termasuk yang berasal dari Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Dewan Gubernur Badan Energi Atom Internasional (IAEA), serta sanksi yang diberlakukan pemerintah AS sendiri.
Tak hanya itu, Washington juga akan menerbitkan pengecualian khusus yang memungkinkan Iran kembali mengekspor minyak mentah, produk minyak bumi, dan turunannya secara lebih leluasa.
Fasilitas tersebut mencakup dukungan terhadap transaksi perbankan dan layanan perdagangan internasional yang selama bertahun-tahun menjadi kendala utama bagi perekonomian Iran akibat embargo dan pembatasan finansial.
Kemenangan Politik atau Kompromi Strategis?
Meski Iran mengklaim sebagai pihak yang memenangkan perang, sejumlah pengamat menilai keberhasilan terbesar Teheran justru terletak pada hasil negosiasi pascakonflik.
Dengan potensi pencabutan sanksi, akses kembali ke pasar energi global, serta peluang investasi ratusan miliar dolar, Iran berpeluang memperoleh keuntungan ekonomi yang sangat signifikan.
Di sisi lain, Amerika Serikat mendapatkan jaminan bahwa program pengembangan senjata nuklir Iran tidak akan berlanjut, sebuah isu yang selama bertahun-tahun menjadi sumber ketegangan utama antara kedua negara.
Situasi ini membuat kesepakatan terbaru AS-Iran dipandang bukan sekadar penghentian konflik, tetapi juga menjadi titik balik yang berpotensi mengubah peta geopolitik Timur Tengah, stabilitas Selat Hormuz, dan arah pasar energi dunia dalam beberapa tahun ke depan.