TEHERAN, IRAN – Pemerintah Iran menolak usulan gencatan senjata yang diajukan Amerika Serikat, meskipun ancaman keras dilontarkan Presiden AS Donald Trump terkait serangan terhadap infrastruktur vital negara itu. Keputusan ini menegaskan ketegangan yang terus meningkat di kawasan Timur Tengah setelah lebih dari lima minggu konflik antara Iran, AS, dan Israel.
Kantor berita resmi Iran, IRNA, melaporkan pada Senin (6/4) bahwa Teheran telah menyampaikan tanggapannya melalui Pakistan mengenai proposal gencatan senjata yang diajukan Amerika. Namun, IRNA tidak merinci isi tawaran tersebut.
“Dalam tanggapan ini yang diuraikan dalam sepuluh poin Iran telah menolak gencatan senjata dan bersikeras pada perlunya penghentian konflik secara definitif,” tulis IRNA, dikutip kantor berita AFP, Selasa (7/4/2026).
Selain menolak gencatan senjata, Teheran juga menekankan sejumlah tuntutan yang harus dipenuhi untuk mengakhiri konflik secara permanen. Di antaranya adalah penghentian seluruh konflik di kawasan, protokol jalur aman melalui Selat Hormuz, rekonstruksi wilayah terdampak, serta pencabutan sanksi internasional.
Media The New York Times, mengutip dua pejabat senior Iran yang tidak disebutkan namanya, melaporkan bahwa Iran juga meminta jaminan keamanan jangka panjang. Teheran menekankan agar serangan Israel terhadap sekutunya, Hizbullah di Lebanon selatan, dihentikan.
Rencana Iran juga mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz untuk pelayaran internasional. Setiap kapal akan dikenai biaya sekitar US$2 juta, yang pendapatannya akan dibagi dengan Oman. Dana ini akan digunakan untuk membangun kembali infrastruktur yang rusak akibat serangan AS dan Israel, bukan sebagai kompensasi langsung, menurut laporan New York Times.
Menanggapi hal ini, Presiden AS Donald Trump menyebut rencana Iran sebagai “proposal yang signifikan”, namun menegaskan bahwa tawaran tersebut masih belum memadai. Sebelumnya, pada Minggu (5/4), Trump memperingatkan bahwa jika Iran tidak membuka jalur pelayaran bebas melalui Selat Hormuz pada Selasa (7/4) malam, ia akan memerintahkan serangan terhadap pembangkit listrik dan jembatan penting di negara itu.
Beberapa negara telah bertindak sebagai mediator dalam upaya menghentikan konflik ini, namun ketegangan terus meningkat seiring waktu. Konflik yang dipicu serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran ini telah menimbulkan kekhawatiran internasional terkait keamanan energi global dan stabilitas geopolitik kawasan.
Para analis menilai, penolakan Iran terhadap gencatan senjata menegaskan posisi Teheran yang bersikeras pada penyelesaian menyeluruh, bukan kompromi parsial. “Iran menunjukkan bahwa mereka ingin menyelesaikan konflik ini secara definitif, bukan hanya sementara,” ujar salah satu analis Timur Tengah yang enggan disebutkan namanya.
Situasi ini menempatkan Selat Hormuz sebagai titik kritis yang dapat memengaruhi arus perdagangan dan pasokan minyak dunia. Dengan biaya navigasi yang ditetapkan Iran dan jaminan keamanan yang diminta, jalur strategis ini kembali menjadi pusat perhatian global, terutama bagi negara-negara pengimpor minyak utama.