WASHINGTON, AS – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengeluarkan ancaman tegas kepada wartawan yang membocorkan informasi terkait insiden dua pilot jet tempur AS yang ditembak jatuh di Iran pekan lalu.
Ancaman ini muncul di tengah upaya pemerintah AS memastikan keamanan nasional dan mengendalikan penyebaran informasi sensitif.
Trump menyampaikan pernyataan tersebut di Gedung Putih, Senin (6/4), menegaskan bahwa wartawan atau media yang mengungkap informasi tersebut bisa menghadapi hukuman penjara. “Kita akan mendatangi perusahaan media yang merilisnya, dan kita akan mengatakan, ‘Demi keamanan nasional, berikan informasinya atau masuk penjara,’” ujar Trump,.
“Orang yang membuat berita itu akan masuk penjara jika dia tidak mengatakannya,” tambahnya.
Trump menekankan keseriusan pemerintah dalam menangani kebocoran informasi terkait keselamatan pilot militer AS. Namun, Presiden tidak menyebutkan secara spesifik media mana yang menjadi sasaran. Pejabat Gedung Putih pun menolak memberikan komentar terkait detail insiden ini.
Media Iran pertama kali melaporkan insiden jatuhnya jet tempur AS di wilayah Iran, memicu perdebatan luas di dunia maya mengenai nasib kedua pilot sebelum media utama AS memberitakannya. Menurut sumber resmi, salah satu pilot berhasil diselamatkan sementara pilot lainnya sempat hilang. Seorang pejabat Gedung Putih menyatakan,
“Investigasi sedang berlangsung,” menunjukkan proses penelusuran masih aktif dilakukan.
Akhir pekan lalu, sejumlah media termasuk CNN melaporkan hilangnya pilot jet tempur AS serta upaya militer AS untuk melakukan penyelamatan. Pemerintah AS kemudian mengonfirmasi bahwa pilot kedua berhasil ditemukan pada Minggu pagi dalam misi yang digambarkan Direktur CIA John Ratcliffe sebagai “sebanding dengan mencari sebutir pasir di tengah gurun.”
Insiden ini melibatkan jet tempur jenis F-15 yang memiliki dua awak, berbeda dengan jet tempur siluman F-35 yang hanya dikemudikan oleh satu pilot. Kejadian ini menyoroti risiko tinggi operasi militer di wilayah konflik dan pentingnya informasi yang akurat bagi publik.
Ancaman Trump terhadap media dan wartawan menambah ketegangan seputar kebebasan pers di tengah isu keamanan nasional yang sensitif. Sementara itu, pihak militer AS terus menegaskan komitmennya untuk memastikan keselamatan awaknya, sambil melakukan investigasi terkait insiden yang memicu perhatian global ini.