JAKARTA – Gencatan senjata selama 10 hari diberlakukan mulai 17 April 2026, menyusul enam pekan pertempuaran antar Israel dan kelompok militan Hizbullah, yang menewaskan lebih dari 2.000 orang serta memaksa lebih daru satu juta warga Lebabon mengungsi.
Analis politik Lebanon, Joseph Helou, kepada Sputnik menilai kesepakatan ini tidak berbeda jauh dengan gencatan senjata sebelumnya pada 2024. “Israel dapat menafsirkan atau menafsirkan ulang gencatan senjata saat ini untuk kepentingannya sendiri,” ujarnya.
Helou menambahkan, klausul dalam kesepakatan terbaru sebagian besar sudah tercantum dalam perjanjian 27 November 2024 yang ditengahi Amerika Serikat, namun “dilanggar oleh Israel sebanyak 15.000 kali.”
Menurutnya, gencatan senjata kali ini menunjukkan Israel “tampaknya menyerah pada logika diskusi yang matang” dengan Lebanon. Meski demikian, ia menekankan, “kecuali jika proses nyata untuk mengakhiri perselisihan besar antara Lebanon dan Israel diluncurkan kembali, kita tidak bisa benar-benar berbicara tentang berakhirnya konflik secara 100%.”