JAKARTA – Tanggal 12 Mei menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah demokrasi Indonesia. Pada hari itu, empat mahasiswa Universitas Trisakti tewas tertembak saat mengikuti aksi demonstrasi menuntut Presiden Soeharto mundur dari jabatannya.
Peristiwa berdarah yang kemudian dikenal sebagai Tragedi Trisakti tersebut menjadi pemicu gelombang reformasi yang akhirnya menjatuhkan pemerintahan Orde Baru setelah berkuasa selama 32 tahun.
Empat mahasiswa yang gugur dalam tragedi itu adalah Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie. Mereka meninggal dunia akibat luka tembak di sejumlah bagian vital tubuh seperti kepala, dada, dan tenggorokan.
Gelombang demonstrasi mahasiswa kala itu dipicu krisis ekonomi dan ketidakpuasan publik terhadap pemerintahan Soeharto. Aksi unjuk rasa terjadi di berbagai daerah, terutama di Jakarta, dengan tuntutan utama reformasi total dan pergantian kepemimpinan nasional.
Mahasiswa Universitas Trisakti menjadi salah satu kelompok yang turun ke jalan menuju Gedung DPR/MPR. Situasi memanas ketika massa aksi mulai membubarkan diri pada sore hari.
“Para mahasiswa yang melakukan unjuk rasa mulai bergerak mundur sekira pukul 17.15 WIB. Namun saat itu aparat keamanan juga turut mengikuti mundurnya para mahasiswa tersebut,” demikian keterangan dalam catatan peristiwa sejarah 12 Mei.
Ketegangan meningkat ketika mahasiswa berlindung di area Kampus Trisakti di kawasan Slipi, Jakarta Barat. Beberapa jam kemudian, suara tembakan pecah di sekitar lokasi aksi.
“Sekira pada pukul 20.00 WIB, dilaporkan empat mahasiswa tewas dan satu lainnya dalam keadaan kritis,” tulis laporan tersebut.
Insiden penembakan itu langsung menyulut amarah publik. Demonstrasi mahasiswa dan masyarakat sipil semakin meluas di berbagai kota. Tekanan terhadap pemerintahan Soeharto pun tak terbendung.
Meski aparat keamanan saat itu mengklaim pengamanan aksi tidak menggunakan peluru tajam, kematian empat mahasiswa menjadi simbol kekerasan negara terhadap gerakan reformasi.
Tragedi Trisakti kemudian dikenang sebagai tonggak penting lahirnya era Reformasi di Indonesia. Hanya beberapa hari setelah peristiwa itu, situasi nasional semakin tidak terkendali hingga akhirnya Presiden Soeharto mengundurkan diri pada 21 Mei 1998.
Kekuasaan kemudian diserahkan kepada Wakil Presiden BJ Habibie yang membuka babak baru perjalanan demokrasi Indonesia.
Hingga kini, Tragedi Trisakti masih terus dikenang sebagai simbol perjuangan mahasiswa dalam memperjuangkan demokrasi, kebebasan sipil, dan perubahan politik nasional.



