JAKARTA – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis tekanan terhadap nilai tukar rupiah akan berangsur mereda dalam beberapa bulan mendatang. Keyakinan itu didasarkan pada perkembangan geopolitik internasional yang dinilai semakin kondusif dan berpotensi mengurangi ketidakpastian yang selama ini membebani pasar keuangan global.
Optimisme tersebut disampaikan setelah rupiah ditutup menguat 35 poin ke posisi Rp17.881 per dolar Amerika Serikat (AS). Menurut Purbaya, sejumlah indikator menunjukkan bahwa risiko eksternal yang sebelumnya menekan mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia, mulai menunjukkan tanda-tanda penurunan.
Ia menyoroti perkembangan hubungan antara Amerika Serikat, Iran, dan Israel yang dinilai bergerak ke arah yang lebih positif. Berbagai laporan internasional, kata dia, mengindikasikan adanya peluang tercapainya kesepakatan yang dapat menurunkan tensi geopolitik di kawasan yang selama ini menjadi salah satu sumber ketidakpastian ekonomi dunia.
“Saya percaya dalam dua hingga tiga bulan ke depan situasinya akan jauh lebih baik dibandingkan saat ini,” ujar Purbaya di Jakarta.
Menurutnya, ketika ketegangan geopolitik mereda, sejumlah faktor eksternal yang selama ini menjadi pemicu pelemahan rupiah juga akan berkurang. Dalam kondisi tersebut, fundamental ekonomi domestik yang tetap terjaga diyakini akan memberikan ruang lebih besar bagi penguatan nilai tukar.
Purbaya menilai stabilitas global memiliki peran penting dalam mengembalikan minat investor terhadap aset-aset di negara berkembang. Dengan berkurangnya tekanan dari luar negeri, kinerja ekonomi nasional berpotensi menjadi faktor utama yang mendorong penguatan mata uang Indonesia.
Pemerintah dan BI Perkuat Sinergi Jaga Pasar Keuangan
Di tengah dinamika pasar yang masih berlangsung, pemerintah disebut terus memperkuat koordinasi dengan Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas sektor keuangan. Salah satu langkah yang ditempuh adalah keterlibatan pemerintah dalam menjaga stabilitas pasar surat utang negara agar imbal hasil obligasi tidak melonjak secara berlebihan.
Purbaya menjelaskan bahwa kestabilan pasar obligasi sangat penting untuk mempertahankan kepercayaan investor, khususnya investor asing yang masih memegang porsi signifikan pada instrumen surat utang domestik.
“Mengapa kami melakukan hal tersebut? Untuk memastikan investor asing yang saat ini memegang obligasi domestik tidak mengalami apa yang disebut sebagai kerugian modal (capital loss). Ini dapat mendorong mereka menarik dananya ke luar negeri,” katanya.
Menurut dia, lonjakan yield obligasi berpotensi memicu arus keluar modal asing apabila investor menilai risiko investasi meningkat. Karena itu, langkah antisipatif diperlukan agar stabilitas pasar keuangan tetap terjaga dan kepercayaan investor tidak terganggu.
Ia menegaskan bahwa koordinasi erat antara pemerintah dan bank sentral menjadi salah satu instrumen penting dalam menjaga ketahanan ekonomi nasional di tengah gejolak eksternal.
Kepercayaan investor, lanjutnya, merupakan faktor yang sangat menentukan dalam menjaga kestabilan rupiah. Apabila pasar keuangan tetap stabil dan prospek ekonomi nasional terjaga, tekanan terhadap mata uang domestik diperkirakan akan semakin berkurang.
Pelemahan Rupiah Belum Ganggu Kondisi Fiskal
Meski nilai tukar rupiah masih berada dalam tekanan, Purbaya memastikan kondisi fiskal pemerintah tetap aman. Ia menegaskan bahwa asumsi pelemahan nilai tukar telah diperhitungkan dalam penyusunan anggaran negara sehingga tidak menimbulkan risiko signifikan terhadap kesehatan fiskal.
“Dari sisi anggaran, kami telah menghitung depresiasi nilai tukar rupiah hingga mendekati level saat ini. Jadi, kondisi anggaran kami masih baik, meskipun rupiah melemah ke level sekarang,” ujarnya.
Pernyataan tersebut sekaligus memberikan sinyal bahwa pemerintah telah menyiapkan berbagai skenario dalam menghadapi volatilitas pasar keuangan global. Dengan demikian, pelemahan rupiah yang terjadi belakangan ini belum mengubah arah kebijakan fiskal maupun target pembangunan yang telah ditetapkan.
Purbaya menilai fondasi fiskal Indonesia masih cukup kuat untuk menghadapi berbagai tantangan eksternal yang muncul akibat ketidakpastian ekonomi dunia.
Fundamental Ekonomi Jadi Kunci Penguatan Rupiah
Lebih jauh, Menteri Keuangan menegaskan bahwa kekuatan fundamental ekonomi tetap menjadi faktor utama yang menentukan pergerakan nilai tukar dalam jangka panjang. Oleh sebab itu, fokus pemerintah saat ini adalah memastikan momentum pertumbuhan ekonomi tetap terjaga secara berkelanjutan.
“Saat ini, fokus saya adalah memastikan perekonomian domestik terus tumbuh kuat dalam jangka menengah, jangka pendek, maupun jangka panjang. Pada akhirnya, hal itu akan memperkuat nilai tukar mata uang hampir secara otomatis,” tuturnya.
Menurut Purbaya, pertumbuhan ekonomi yang kuat akan menciptakan kepercayaan lebih besar dari investor global terhadap Indonesia. Ketika investasi meningkat dan aktivitas ekonomi terus berkembang, maka permintaan terhadap rupiah juga berpotensi meningkat.
Ia menambahkan bahwa Indonesia masih menjadi salah satu destinasi investasi yang menarik di kawasan Asia maupun tingkat global. Prospek pertumbuhan yang relatif tinggi membuat Indonesia memiliki daya saing dibandingkan banyak negara lain.
“Saya percaya para investor, khususnya investor penanaman modal asing (FDI) dan investor asing lainnya, senang berinvestasi di negara yang menawarkan prospek pertumbuhan paling menjanjikan. Di kawasan ini, pertumbuhan ekonomi kita jauh lebih cepat dibandingkan banyak negara lainnya,” ucapnya.
Indonesia Masuk Jajaran Negara dengan Pertumbuhan Tercepat
Purbaya juga menyoroti posisi Indonesia di kelompok negara-negara G20 yang masih menunjukkan performa pertumbuhan ekonomi yang kompetitif. Menurutnya, Indonesia saat ini berada di posisi kedua setelah India dalam hal pertumbuhan ekonomi di antara negara anggota G20.
Capaian tersebut menjadi indikator bahwa ekonomi nasional masih memiliki daya tahan yang kuat di tengah perlambatan yang terjadi di sejumlah negara besar dunia.
Dengan prospek pertumbuhan yang tetap solid, pemerintah meyakini gejolak nilai tukar yang terjadi saat ini bersifat sementara dan belum memberikan dampak signifikan terhadap aktivitas ekonomi domestik.
Optimisme tersebut menjadi dasar keyakinan pemerintah bahwa rupiah berpotensi kembali menguat seiring membaiknya kondisi global, stabilitas pasar keuangan yang terjaga, serta terus menguatnya fundamental ekonomi Indonesia dalam beberapa bulan mendatang.





