JAKARTA – Keputusan bek Tottenham Hotspur, Cristian Romero, yang memilih kembali ke Argentina dan absen pada laga penutup musim Liga Inggris memicu polemik dan kritik tajam dari mantan pemain Spurs, Ramon Vega.
Ramon Vega secara terbuka menyebut langkah Romero sebagai tindakan yang “tidak terhormat dan bentuk ketidakpedulian terhadap klub” di tengah situasi penting tim.
Meski demikian, pelatih Tottenham Roberto De Zerbi memberikan pembelaan dengan menyatakan bahwa kepulangan Romero bertujuan untuk menjalani proses pemulihan cedera lutut, namun ia juga mengakui kekecewaan yang dirasakan para pendukung.
Dalam pernyataannya, Vega membandingkan situasi tersebut dengan pengalamannya sendiri saat masih aktif bermain, di mana ia tetap tampil meski mengalami cedera serius demi membela klub.
“Saya bermain di final Piala Liga 1999 dengan kondisi pergelangan kaki patah selama berminggu-minggu dan tetap turun ke lapangan,” ujar Vega dikutip BBC, Sabtu (23/5/2026).
Ia menambahkan bahwa keputusan tersebut bahkan berisiko pada karier internasionalnya bersama tim nasional Swiss, namun ia tetap mengutamakan klub.
“Saya mempertaruhkan karier internasional saya demi membawa Tottenham meraih trofi, dan saya akan melakukannya lagi tanpa ragu,” lanjutnya.
Vega juga mengungkapkan bahwa dirinya harus menepi hingga sembilan bulan setelah pertandingan tersebut, namun baginya pengorbanan itu sepadan dengan kehormatan mengenakan seragam Spurs.
Sementara itu, Romero sendiri merupakan sosok penting di tim nasional Argentina, termasuk saat menjadi starter dalam kemenangan di final Piala Dunia 2022 melawan Prancis.
Pemain berusia 28 tahun tersebut juga terus tampil konsisten dengan timnas Argentina dalam beberapa pertandingan terakhir, bahkan sempat dipercaya sebagai kapten dalam kemenangan atas Mauritania pada Maret lalu.
Kontroversi ini pun menyoroti perdebatan klasik antara komitmen pemain terhadap klub dan kebutuhan pemulihan cedera, terutama di tengah jadwal padat sepak bola modern.***