PT Rekayasa Industri (Rekind) menorehkan catatan penting dalam komitmennya terhadap keselamatan kerja, dengan mencatatkan pencapaian impresif, jam kerja sebanyak 381.691.497 tanpa kecelakaan (zero accident). Catatan ini diakui oleh pemilik proyek (owner) serta Kementerian Ketenagakerjaan RI, terhitung sejak periode Januari 2015 hingga Desember 2025.
Direktur Utama Rekind Triyani Utaminingsih, menyampaikan capaian ini bukan sekadar angka statistik, melainkan cerminan kuatnya budaya keselamatan yang mengakar di seluruh lini perusahaan. Hal tersebut disampaikannya usai kegiatan Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2K3) bersama jajaran manajemen dan direksi Rekind Group, belum lama ini.
βIni bukan hanya soal angka, tapi bukti nyata komitmen seluruh insan Rekind dalam menjaga keselamatan kerja. Kami percaya, setiap pekerja berhak pulang ke rumah dengan selamat,β ujarnya.
Selama satu dekade terakhir, Rekind konsisten menempatkan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) sebagai prioritas utama. P2K3 pun menjadi momentum penting untuk terus memperkuat budaya keselamatan yang lebih proaktif dan berkelanjutan, sekaligus wujud kepatuhan terhadap Undang-Undang No.1 Tahun 1970 serta Permenaker No.13 Tahun 2025.
Triyani Utaminingsih, yang akrab disapa Yani, juga mendorong partisipasi aktif seluruh karyawan dalam memberikan masukan dan ide konstruktif. Menurutnya, kolaborasi menjadi kunci dalam menghadapi tantangan keselamatan kerja yang semakin kompleks. βSaya yakin, dengan komitmen bersama, kita bisa menciptakan lingkungan kerja yang aman, sehat, dan produktif,β tambahnya.
Dari sisi eksternal, hasil survei Pro Safera tahun 2025 turut memperkuat capaian ini. Perusahaan konsultan K3LL di sektor migas tersebut menilai Rekind berada di jalur yang tepat (on the track) dalam membangun budaya keselamatan. Secara psikologis, mayoritas pekerja dari level bawah hingga manajemen, memiliki kesadaran K3 yang kuat, bahkan berada di level proaktif atau independen. Tak hanya itu, Rekind juga dinilai memiliki sistem yang solid sebagai fondasi dalam menjaga konsistensi implementasi K3 di seluruh proyek.
Meski demikian, tantangan ke depan tetap perlu diantisipasi. Direktur Operasi & Teknologi/Pengembangan Rekind Yusairi, mengingatkan peningkatan aktivitas proyek di tahun 2026 akan berdampak pada lonjakan jam kerja dan jumlah tenaga kerja.
βKondisi ini berpotensi meningkatkan risiko unsafe action dan unsafe condition. Karena itu, pengawasan harus diperkuat, implementasi program HSE ditingkatkan, serta awareness keselamatan terus dibangun,β tegasnya.
Dia menambahkan, kolaborasi, komunikasi, dan komitmen bersama harus terus diperkuat agar seluruh aktivitas tetap berjalan aman, terkendali, dan berkelanjutan.