Sebuah pesta “pernikahan” antarnegara yang unik dan menyentuh hati baru saja digelar di Negeri Sakura. Kebun Binatang Tobe (Tobe Zoo) di Prefektur Ehime, Jepang, resmi memperkenalkan Jennifer, orangutan betina asal Kalimantan, berdampingan dengan pasangan barunya, Hayato, dalam upacara bertajuk “Orangutan Jennifer & Hayato Unveiling Ceremony” pada Sabtu (6/6/2026).
Hayato (15 tahun) merupakan orangutan jantan kelahiran Jepang yang selama ini menjadi bintang di Tobe Zoo. Di usia yang sama, Jennifer hadir sebagai “mempelai betina” pilihan. Di balik kemasannya yang menggemaskan, perjodohan dua satwa berstatus sangat terancam punah (critically endangered) ini merupakan wujud nyata kerja sama konservasi sekaligus simbol eratnya persahabatan antara Indonesia dan Jepang.
Resepsi Mewah Bernuansa Nusantara di Jepang
Upacara perkenalan resmi yang digelar mulai pukul 10.00 waktu setempat ini berlangsung meriah layaknya pesta pernikahan manusia. Tak tanggung-tanggung, acara ini dihadiri langsung oleh Gubernur Prefektur Ehime Tokihiro Nakamura, jajaran pejabat tinggi setempat, serta perwakilan dari KBRI Tokyo.
Berkat kolaborasi apik dengan Asosiasi Persahabatan Ehime-Indonesia, para pengunjung yang memadati Tobe Zoo disuguhkan dengan festival budaya Indonesia yang kental, meliputi pertunjukan musik angklung dan tari-tarian Nusantara.
Digelar juga sesi foto interaktif mengenakan pakaian adat Indonesia bagi warga lokal. untuk kuliner, dihidangkan masakan Indonesia dengan cita rasa otentik. Ada pula pertunjukan melukis langsung oleh seniman Yoshinari Ishimura, serta toko pop-up pernak-pernik eksklusif karya ilustrator Akisa Yagi.
Meskipun disambut euforia besar, Gubernur Nakamura menegaskan pihak kebun binatang tidak akan egois dalam mengejar keturunan. “Proses penjodohan akan dilakukan secara bertahap dan tidak terburu-buru demi menjaga kesejahteraan dan kenyamanan satwa,” ungkapnya bijak.
Perjuangan Jennifer Beradaptasi dengan Musim Dingin
Jennifer sendiri bukan penghuni lama. Ia didatangkan langsung dari Taman Safari Indonesia pada Desember 2025 lewat program International Collaborative Breeding Loan. Langkah ini menjadi krusial mengingat populasi orangutan Kalimantan di penangkaran Jepang terus menyusut dalam satu dekade terakhir.
Sebelum akhirnya didekatkan dengan Hayato dan menyapa publik, Jennifer harus melewati masa karantina dan adaptasi yang ketat di dalam ruang internal khusus untuk membiasakan tubuhnya dengan hawa dingin ekstrem khas musim dingin Jepang.
Publik Jepang “Sawer” Dana hingga Miliaran Rupiah
Saking cintanya masyarakat Jepang pada pasangan baru ini, program penggalangan dana yang dibuka sejak 16 April 2026 langsung kebanjiran donasi. Hanya dalam waktu 27 hari, dana yang terkumpul mencapai 12,55 juta yen (sekitar Rp1,4 miliar), melompati target awal yang hanya 10 juta yen.
Melihat antusiasme luar biasa tersebut, pengelola kebun binatang menaikkan target baru menjadi 25 yen (sekitar Rp2,8 miliar). Gubernur Nakamura mengaku terharu dengan kebaikan hati para donatur.
“Jumlah target tercapai jauh lebih cepat dari yang diharapkan. Kami ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua orang yang telah mendukung,” kata Nakamura penuh syukur.
Pihak Tobe Zoo sudah merinci alokasi “uang sumbangan” dari para netizen dan warga tersebut:
| Nominal Dana | Alokasi Penggunaan |
| 10 Juta Yen Pertama | Pengadaan alat analisis hormon medis dan kamera pengawas 24 jam penuh di kandang. |
| Dana Tambahan | Pembelian alat USG (Ultrasonografi) serta pembuatan ayunan khusus untuk mencegah stres. |
Sebagai bentuk ucapan terima kasih bagi konglomerat atau donatur yang menyumbang minimal 150.000 yen (sekitar Rp17 juta), Tobe Zoo memberikan hadiah eksklusif. Mulai dari boneka replika Jennifer berbahan kain felt yang dibuat mirip aslinya, hingga kesempatan langka menjadi “perawat orangutan” selama satu hari penuh.