Belakangan ini, istilah ptosis ramai dibicarakan di media sosial setelah musisi sekaligus dokter bedah plastik, dr. Teuku Adifitrian atau Tompi, mengkritik materi stand-up comedy Pandji Pragiwaksono di spesial Netflix Mens Rea. Tompi menilai bahwa menjadikan “mata sayu” atau “mata mengantuk” sebagai bahan lelucon tidak etis, karena itu merupakan kondisi medis nyata.
Pandji merespons dengan santai, tapi diskusi ini berhasil membuat banyak orang penasaran: sebenarnya apa itu ptosis?
Definisi Ptosis
Ptosis, atau yang secara medis disebut blepharoptosis, adalah kondisi di mana kelopak mata atas turun lebih rendah dari posisi normalnya. Akibatnya, mata terlihat sayu, setengah tertutup, atau seperti sedang mengantuk. Kondisi ini bisa terjadi pada satu mata saja (unilateral) atau kedua mata (bilateral), dan tidak selalu berarti orang tersebut sedang lelah—ini adalah masalah anatomis atau neurologis.
Jenis Ptosis
Ptosis dibedakan menjadi dua jenis utama:
Ptosis kongenital: Bawaan sejak lahir, biasanya karena kelainan perkembangan otot pengangkat kelopak mata (levator palpebra superioris).
Ptosis akuisita: Muncul di usia dewasa, sering akibat penuaan, cedera, atau penyakit tertentu.
Ada berbagai faktor yang bisa menyebabkan ptosis, antara lain penuaan alami, di mana otot dan kulit kelopak mata menjadi kendur. Cedera atau trauma pada mata, kepala, atau saraf juga bisa menyebabkan Ptosis. Kemudian Ptosis juga bisa disebabkan oleh gangguan saraf, seperti stroke, diabetes, tumor otak, atau miastenia gravis (penyakit autoimun yang melemahkan otot).
Gejala yang Biasa Terjadi
Selain kelopak mata turun, penderita ptosis sering mengalami mata terlihat lebih kecil atau asimetris. Penglihatan kabur jika kelopak menutupi sebagian pupil. Penderita Ptosis punya kebiasaan mengangkat alis atau memiringkan kepala ke belakang untuk melihat lebih jelas.
Penderita Ptosis juga kerap mengalami sakit kepala, lelah mata, atau ketegangan di dahi karena otot terus bekerja ekstra. Pada anak-anak, jika tidak ditangani bisa menyebabkan mata malas (ambliopia) permanen.
Dampak Jika Tidak Ditangani
Ptosis ringan mungkin hanya memengaruhi estetika, tapi jika parah bisa mengganggu penglihatan sehari-hari, menyebabkan kesulitan membaca, mengemudi, atau aktivitas lain. Pada anak, pengobatan dini sangat penting untuk mencegah gangguan perkembangan penglihatan.
Cara Pengobatan
Pengobatan disesuaikan dengan tingkat keparahan dan penyebab. Untuk kasus ringan yang tidak mengganggu penglihatan, cukup dipantau rutin. Untuk kasus berat, operasi menjadi pilihan utama, berupa blefaroplasti atau koreksi ptosis untuk mengencangkan otot levator atau menghilangkan kelebihan kulit. Prosedur ini relatif aman, cepat pulih, dan sering memberikan hasil estetis yang baik.
Penderita Ptosis juga bisa menggunakan kacamata khusus dengan penyangga kelopak mata (ptosis crutch) untuk solusi sementara.
Polemik antara Tompi dan Pandji ini, meski kontroversial, membawa manfaat positif: meningkatkan kesadaran masyarakat tentang ptosis sebagai kondisi medis yang serius, bukan sekadar “mata ngantuk” biasa.
Jika Anda atau orang terdekat mengalami gejala mirip, segera konsultasikan ke dokter mata atau spesialis bedah plastik untuk evaluasi lebih lanjut. Pencegahan dan penanganan dini bisa membuat perbedaan besar.



