JAKARTA – Penyerang Timnas Iran, Mohammad Mohebi, akhirnya memberikan klarifikasi terkait selebrasi gol yang memicu perdebatan usai laga Iran kontra Selandia Baru pada Piala Dunia 2026. Gestur yang dilakukan pemain berusia 27 tahun itu menjadi sorotan publik dan memunculkan desakan agar FIFA melakukan peninjauan lebih lanjut.
Kontroversi bermula ketika Iran bermain imbang 2-2 melawan Selandia Baru di Stadion Los Angeles, California, Selasa (16/6/2026) waktu setempat. Dalam pertandingan Grup G tersebut, Mohebi mencetak gol penyama kedudukan yang menjaga peluang Iran di fase grup.
Namun perhatian publik tidak hanya tertuju pada gol yang dicetak pemain FC Rostov tersebut. Selebrasi yang ia lakukan sesaat setelah mencetak gol justru menjadi bahan perdebatan di media sosial dan kalangan suporter.
Dalam tayangan siaran pertandingan, Mohebi terlihat mengacungkan dua jari dengan gerakan tertentu sebelum mengarahkannya ke atas. Gestur itu kemudian ditafsirkan beragam oleh publik, terutama karena pertandingan berlangsung di tengah meningkatnya sensitivitas politik yang mengiringi kehadiran Iran di Piala Dunia 2026.
Menurut laporan sejumlah media internasional, termasuk The Express, sebagian suporter meminta FIFA menelaah makna di balik selebrasi tersebut untuk memastikan tidak ada unsur politik yang melanggar regulasi turnamen.
Sorotan terhadap Iran Sudah Muncul Sebelum Kick-off
Polemik yang mengiringi selebrasi Mohebi tidak muncul dalam ruang hampa. Sejak sebelum pertandingan dimulai, atmosfer di sekitar laga Iran melawan Selandia Baru memang telah dipenuhi berbagai isu nonsepak bola.
Di luar stadion, sejumlah kelompok menggelar aksi protes yang berkaitan dengan situasi politik Iran. Sementara di dalam arena pertandingan, lagu kebangsaan Iran memunculkan respons beragam dari penonton. Sebagian memberikan tepuk tangan, sementara yang lain menyambutnya dengan siulan dan sorakan.
Sorotan juga tertuju pada banyaknya bendera bergambar simbol “Singa dan Matahari” yang terlihat di tribun penonton. Lambang tersebut merupakan simbol yang identik dengan era sebelum Revolusi Iran 1979 dan kerap digunakan oleh kelompok oposisi.
Kehadiran simbol itu kembali menghidupkan diskusi mengenai politik Iran di tengah penyelenggaraan turnamen sepak bola terbesar dunia tersebut. Situasi ini membuat setiap ekspresi pemain Iran selama pertandingan mendapat perhatian lebih besar dibanding biasanya.
Mohebi Bantah Ada Pesan Tertentu
Menanggapi berbagai spekulasi yang berkembang, Mohebi menegaskan bahwa selebrasi yang ia lakukan sama sekali tidak memiliki pesan tersembunyi.
Pemain yang menjadi salah satu andalan lini depan Iran itu menyatakan gerakan tersebut muncul secara spontan karena luapan emosi setelah berhasil mencetak gol penting bagi timnya.
“Pertama, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh suporter Iran yang datang ke Los Angeles. Mereka menciptakan atmosfer yang luar biasa dalam pertandingan ini,” kata Mohebi seperti dikutip The Mirror.
Ia menjelaskan bahwa selebrasi tersebut dilakukan tanpa perencanaan dan murni merupakan ekspresi kegembiraan.
“Selebrasi itu muncul begitu saja saat momen pertandingan berlangsung. Saya melakukannya seperti ini,” ujar Mohebi sambil memperagakan kembali gerakan tangannya.
Mohebi kembali menekankan bahwa aksinya tidak mengandung pesan politik maupun makna lain yang sedang ramai diperbincangkan.
“Saya hanya ingin melakukannya untuk para suporter. Itu hanya selebrasi, tidak lebih dari itu,” tegasnya.
Rekan Setim Justru Akui Ada Unsur Politik
Menariknya, di tengah upaya Mohebi meredam kontroversi, rekan setimnya Ramin Rezaeian justru membuat pengakuan berbeda terkait selebrasi gol yang ia lakukan dalam pertandingan yang sama.
Bek senior berusia 36 tahun tersebut mencetak gol pertama Iran pada menit ke-32. Setelah membobol gawang Selandia Baru, Rezaeian menarik jersey hingga menutupi sebagian wajahnya.
Selebrasi itu juga mengundang banyak pertanyaan dari media. Tidak seperti Mohebi yang membantah adanya pesan khusus, Rezaeian mengakui bahwa tindakannya memang memiliki makna politik.
“Itu memang sesuatu yang bersifat politik,” kata Rezaeian.
Meski demikian, pemain veteran tersebut memilih tidak menjelaskan lebih jauh mengenai pesan yang ingin disampaikan.
“Saya tidak ingin membahasnya. Kami berada di sini untuk menjawab pertanyaan tentang sepak bola. Jika ada masalah di antara kami, rakyat Iran, itu adalah urusan kami sendiri,” lanjutnya.
Pernyataan tersebut semakin menambah perhatian terhadap skuad Iran yang sejak awal turnamen berada di bawah sorotan akibat berbagai isu di luar lapangan.
Iran Wajib Bangkit Hadapi Belgia
Terlepas dari kontroversi yang mengiringi pertandingan, hasil imbang melawan Selandia Baru membuat Iran mengawali perjalanan mereka di Grup G dengan satu poin.
Tambahan satu angka itu menjaga peluang Iran untuk lolos ke fase berikutnya, meski tantangan berat sudah menanti. Pada pertandingan selanjutnya, Iran dijadwalkan menghadapi Belgia pada 21 Juni sebelum menutup fase grup dengan menghadapi Mesir lima hari kemudian.
Dua laga tersebut diperkirakan akan menjadi penentu nasib Iran di Piala Dunia 2026. Di tengah tekanan besar dari dalam dan luar lapangan, fokus tim kini akan diuji untuk tetap menjaga performa demi meraih tiket ke babak gugur.