JAKARTA — Skema prasmanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai dapat memperkuat manfaat program, tidak hanya dalam pemenuhan gizi siswa, tetapi juga dalam pembentukan kebiasaan hidup sehat, kedisiplinan, kebersamaan, dan kepedulian terhadap lingkungan sekolah.
Analis Politik Digdaya Indonesia, Fadhil Abdurrahim, mengatakan pengembangan metode penyajian makanan dapat menjadi bagian dari inovasi pelayanan MBG agar manfaatnya semakin luas. Melalui kegiatan makan bersama, siswa juga berkesempatan mempelajari nilai-nilai positif yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Program MBG memiliki dimensi yang lebih luas daripada sekadar distribusi makanan. Jika dikelola dengan tepat, ruang makan sekolah dapat menjadi tempat anak-anak belajar berbagi, mengantre, menjaga kebersihan, dan menghargai makanan,” ujar Fadhil.
Menurut dia, skema prasmanan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengambil makanan sesuai kebutuhan. Kebiasaan tersebut berpotensi membantu mengoptimalkan konsumsi pangan sekaligus menekan sisa makanan yang tidak termakan.
Fadhil merujuk pada naskah berjudul “MBG Prasmanan: Republik di Balik Piring Seng” karya pengamat kebijakan publik Rais Kaharuddin. Dalam naskah tersebut, disebutkan rata-rata sisa makanan pada model penyajian kotak mencapai 14,2 persen, sedangkan pada model prasmanan sebesar 3,7 persen.
Angka tersebut dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam mengeksplorasi metode penyajian makanan yang sesuai dengan kebutuhan penerima manfaat. Meski demikian, penerapannya perlu mempertimbangkan kondisi sekolah, kesiapan fasilitas, serta standar keamanan pangan.
“Efisiensi program pemerintah tidak cukup dihitung dari besarnya anggaran yang terserap atau jumlah porsi yang dibagikan. Kita juga perlu mengukur berapa banyak makanan yang benar-benar dikonsumsi, berapa banyak limbah yang dihasilkan, dan seberapa baik kualitas layanan yang diterima siswa,” katanya.
Fadhil mengapresiasi upaya Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, dalam mendorong pengembangan dan peningkatan kualitas pelaksanaan MBG. Menurutnya, inovasi pelayanan yang berorientasi pada kebutuhan penerima manfaat dapat mendukung pencapaian tujuan program secara berkelanjutan.
Ia menilai, pemenuhan kebutuhan gizi dan pembentukan karakter dapat berjalan beriringan melalui kegiatan makan bersama di sekolah. Selain membiasakan siswa mengonsumsi makanan bergizi, kegiatan tersebut dapat dimanfaatkan untuk menanamkan kedisiplinan, tanggung jawab, dan sikap saling menghargai.
“Apresiasi perlu diberikan kepada pimpinan BGN yang terus mendorong penyempurnaan pelaksanaan MBG. Melalui inovasi pelayanan yang efisien, aman, berkualitas, dan mendukung pendidikan karakter, MBG berpeluang memberikan manfaat yang semakin luas bagi masyarakat,” ujar Fadhil.
Dalam penerapannya, skema prasmanan dapat memberikan pengalaman belajar yang dekat dengan keseharian siswa. Mereka dapat dibiasakan mengantre secara tertib, mengambil makanan secukupnya, menjaga kebersihan peralatan makan, serta merapikan area setelah selesai makan.
Menurut Fadhil, pembiasaan tersebut dapat melengkapi pendidikan formal apabila dilaksanakan secara konsisten dan disesuaikan dengan usia serta kemampuan peserta didik.
Kebiasaan mengambil makanan sesuai kebutuhan, misalnya, dapat mengenalkan pentingnya menghargai pangan sejak dini. Sementara itu, keterlibatan siswa dalam menjaga kebersihan setelah makan dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap lingkungan sekolah.
“Jangan sampai kita hanya mengubah bentuk penyajian makanan, tetapi melupakan tujuan yang lebih besar. MBG harus memberikan manfaat gizi, mendukung proses pendidikan, dan membangun kebiasaan positif bagi anak-anak,” katanya.
Fadhil menambahkan, pengembangan metode penyajian perlu disesuaikan dengan karakteristik setiap satuan pendidikan. Ketersediaan air bersih, fasilitas pencucian peralatan makan, ruang penyajian yang memadai, dan pengaturan antrean menjadi sejumlah unsur pendukung yang dapat diperhatikan.
Kesiapan fasilitas tersebut penting untuk menunjang kenyamanan siswa sekaligus menjaga kelancaran kegiatan makan bersama. Koordinasi antara penyelenggara MBG dan pihak sekolah juga dapat membantu pelaksanaan program berlangsung selaras dengan aktivitas pembelajaran.
Dengan mempertimbangkan kapasitas masing-masing sekolah, skema prasmanan dapat dikembangkan secara bertahap sesuai kebutuhan. Pendekatan ini juga memberi ruang bagi satuan pendidikan untuk menyesuaikan metode penyajian dengan kondisi fasilitas dan karakteristik peserta didik.
Keberagaman kondisi sekolah di berbagai daerah menjadi salah satu pertimbangan dalam pengembangan layanan MBG. Penyesuaian berdasarkan kebutuhan setempat diharapkan dapat mendukung pelaksanaan program yang semakin efektif dan memberikan manfaat bagi seluruh siswa.
Fadhil berpandangan, pengembangan MBG perlu didukung pemantauan berkala untuk memperoleh gambaran mengenai manfaat program bagi penerima. Sejumlah aspek yang dapat diperhatikan meliputi tingkat konsumsi makanan, jumlah sisa pangan, penggunaan kemasan, kualitas menu, serta kenyamanan kegiatan makan bersama.
Hasil pemantauan tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan metode penyajian yang sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Dengan demikian, pengembangan program dapat diarahkan untuk mendukung pemenuhan gizi sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya.
Menurut dia, pendekatan yang fleksibel memungkinkan setiap sekolah menerapkan metode penyajian berdasarkan kesiapan fasilitas dan kebutuhan siswa. Skema prasmanan dapat menjadi salah satu alternatif apabila dinilai sesuai dengan kondisi setempat dan mampu memenuhi ketentuan keamanan pangan.
“Program sebesar MBG membutuhkan evaluasi yang transparan dan berbasis bukti. Jika skema prasmanan terbukti lebih efektif di suatu wilayah, pendekatan tersebut dapat dikembangkan dengan tetap memperhatikan kesiapan sekolah dan standar keamanan pangan,” ujar Fadhil.
Ia menambahkan, kolaborasi pemerintah, penyelenggara program, sekolah, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga kesinambungan pengembangan MBG. Sinergi tersebut diharapkan dapat mendukung peningkatan kualitas layanan sekaligus memastikan inovasi yang diterapkan tetap berorientasi pada kebutuhan peserta didik.
Bagi Digdaya Indonesia, pengembangan kualitas MBG merupakan bagian dari dukungan terhadap keberhasilan program strategis pemerintah. Melalui inovasi pelayanan, evaluasi berkala, dan penyesuaian dengan kondisi di lapangan, MBG diharapkan semakin optimal dalam mendukung pemenuhan gizi, pembentukan karakter, serta tumbuh kembang anak Indonesia.