Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan bahwa Indonesia akan memasuki puncak musim hujan pada Januari hingga Februari mendatang. Pada periode tersebut, intensitas curah hujan diperkirakan meningkat signifikan di sejumlah wilayah, terutama Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara.
BMKG juga mencatat keberadaan tiga sistem cuaca aktif di sekitar Indonesia, yakni Siklon Bakung serta dua bibit siklon tropis 93S dan 95S. Ketiganya berpotensi memicu hujan lebat hingga ekstrem yang dapat meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi.
Untuk mengantisipasi dampak cuaca ekstrem, BMKG terus melakukan pemantauan intensif dan menyiapkan berbagai langkah mitigasi, salah satunya melalui operasi modifikasi cuaca. Upaya ini dilakukan untuk mengendalikan awan hujan agar tidak menumpuk di wilayah daratan padat penduduk.
“Operasi modifikasi cuaca dilakukan untuk mencegah awan hujan mendekati daratan Indonesia. Jika awan bergerak mendekat, akan disemai menggunakan bahan NaCl agar hujan turun di wilayah perairan atau lokasi yang lebih aman. Apabila awan sudah berada di atas Jakarta, kami menggunakan kapur tohor atau CaO agar awan terpecah dan tidak menghasilkan hujan,” ujar Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Senin (15/12).
Menurut Faisal, modifikasi cuaca terbukti mampu menurunkan intensitas curah hujan sekitar 20 hingga 50 persen. Langkah tersebut dinilai efektif untuk membantu pengendalian dan mitigasi bencana yang dipicu oleh cuaca ekstrem.
Saat ini, operasi modifikasi cuaca telah dilakukan di enam wilayah, antara lain Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, dan Lampung. Selain itu, BMKG bersama BNPB, di bawah koordinasi Kementerian Perhubungan, juga mengembangkan platform informasi cuaca terpadu untuk mendukung keselamatan transportasi darat, laut, dan udara.
BMKG memastikan koordinasi dengan berbagai instansi terkait, termasuk BNPB, BPBD, dan Basarnas, terus diperkuat. Masyarakat pun diimbau untuk tetap waspada namun tidak panik dalam menghadapi potensi cuaca ekstrem.
“Kami mengajak masyarakat tetap tenang, sambil terus memantau informasi cuaca resmi dan bersiap menghadapi kemungkinan hujan lebat dan gelombang tinggi,” tutup Faisal.