Ketegangan politik antara Amerika Serikat dan Iran resmi tumpah ke panggung Piala Dunia 2026. Pemerintah AS di bawah rezim Donald Trump bersikap kukuh tidak akan melonggarkan pembatasan perjalanan super ketat bagi Tim Nasional Iran, meskipun laga krusial Grup G melawan Belgia di SoFi Stadium sudah di depan mata.
Akibat kebijakan “tanpa ampun” ini, jaminan tertulis dari FIFA bahwa Iran bisa mendarat dua hari sebelum kickoff menjadi tidak berharga. Skuad Iran dipaksa menjalani nasib lelah: menjadi tim komuter yang harus pulang-pergi melintasi perbatasan Tijuana (Meksiko) ke Los Angeles (AS) hanya dalam waktu 24 jam!
Nestapa Timnas Iran: Diusir ke Meksiko dan Tanpa Istirahat Hotel
Tijuana terpaksa dipilih menjadi base camp darurat bagi negara Timur Tengah tersebut. Sebelumnya, mereka bermarkas di Tucson, Arizona, sebelum akhirnya “diusir” karena pemerintah AS melarang personel timnas Iran berada lebih dari 24 jam di wilayah mereka jika tidak ada jadwal tanding resmi.
Kondisi diskriminatif ini langsung memantik amarah sang juru taktik Iran, Amir Ghalenoei.
“Kami adalah tim yang paling tertindas di seluruh Piala Dunia ini. Kami bahkan tidak mendapatkan waktu istirahat satu hari pun di hotel (di AS) untuk memaksimalkan proses pemulihan fisik pemain pasca-laga pembuka,” keluh Ghalenoei emosional.
Suasana tim makin runyam ketika visa penyerang andalan mereka, Mehdi Taremi, sempat hangus usai laga pertama. Beruntung, Departemen Luar Negeri AS mengonfirmasi bahwa masalah visa ganda Taremi telah diselesaikan pada Minggu (21/6/2026).
Dalih Gedung Putih: Demi Keamanan Nasional
Di kubu seberang, Direktur Eksekutif Gugus Tugas Gedung Putih untuk Piala Dunia, Andrew Giuliani, menegaskan protes keras Iran ke FIFA tidak akan mengubah protokol keamanan negara mereka.
Skenario usir-kembali ini dipastikan tetap berlaku setelah laga kontra Belgia nanti malam. Begitu peluit panjang laga kontra Belgia selesai, skuad Iran hanya diberi waktu beberapa jam sebelum harus terbang 27 menit kembali ke perbatasan Tijuana, Meksiko.
Terkait laga ketiga melawan Mesir di Seattle, Jumat depan, Giuliani menyebut regulasi masih bisa berubah secara dinamis tergantung hasil diskusi intelijen.
Meskipun dikritik merugikan fisik pemain Iran, Giuliani berkilah pemindahan markas ke Tijuana justru mempersingkat waktu terbang tim daripada harus bertahan di Arizona.
Pejabat Tim Dicekal karena Informasi Intelijen
Gedung Putih memastikan semua pemain dan tim pelatih inti Iran telah mendapatkan visa masuk resmi. Kendati demikian, ada beberapa pejabat teras jajaran luar negeri federasi Iran yang visanya ditolak mentah-mentah.
“Ada beberapa pejabat tim yang belum menerima visa, dan itu karena ada informasi (intelijen) yang merugikan mereka. Fokus utama kami selalu untuk melindungi kepentingan warga Amerika dan seluruh pengunjung internasional di turnamen ini,” pungkas Giuliani.
Meskipun tensi keamanan luar biasa ketat hingga para pemain Iran kerap terlihat dikawal oleh personel bersenjata mesin, komunitas intelijen AS memastikan hingga saat ini belum ada ancaman terorisme nyata yang mengintai jalannya Piala Dunia 2026.