Menyusul pernyataan mengejutkan Presiden AS Donald Trump pada Sabtu dini hari, Venezuela kini berada di persimpangan sejarah dengan masa depan politik yang diliputi ketidakpastian. Trump mengklaim bahwa pasukan Amerika Serikat telah menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro, membuka jalan bagi potensi perubahan rezim setelah lebih dari dua dekade pemerintahan sosialis.
Dalam unggahan di Truth Social, Trump menyebut Maduro dan istrinya telah “ditangkap dan diterbangkan keluar dari negara” menyusul apa yang ia gambarkan sebagai “serangan skala besar” terhadap Venezuela. Operasi tersebut, menurut laporan, melibatkan unit elit Delta Force dan berlangsung sekitar pukul 02.00 waktu setempat, dengan sasaran instalasi militer di Caracas dan sejumlah wilayah sekitarnya.
Ledakan-ledakan yang terdengar di ibu kota memicu kepanikan warga, memaksa banyak orang keluar rumah di tengah malam tanpa kepastian mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Hingga kini, belum ada kejelasan resmi mengenai kondisi atau lokasi Maduro.
Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodriguez mengaku pemerintah tidak mengetahui keberadaan kepala negara dan menuntut Amerika Serikat memberikan “bukti kehidupan segera.” Situasi ini memperdalam kekosongan kekuasaan dan menimbulkan pertanyaan besar mengenai siapa yang akan memimpin Venezuela dalam fase transisi krusial ini—yang oleh banyak pihak disebut sebagai akhir dari 26 tahun kekuasaan politik yang dimulai sejak era Hugo Chávez.
Dalam pusaran ketidakpastian tersebut, nama pemimpin oposisi María Corina Machado kembali mencuat sebagai figur sentral. Perempuan berusia 58 tahun itu dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian pada Oktober 2025 atas dedikasinya memperjuangkan demokrasi, meski selama bertahun-tahun hidup dalam persembunyian akibat tekanan rezim Maduro.
Machado sebelumnya memenangkan 93 persen suara dalam pemilihan pendahuluan oposisi 2023, namun didiskualifikasi dari pemilihan presiden Juli 2024. Ia kemudian mendukung kandidat pengganti, Edmundo González, yang menurut klaim oposisi meraih lebih dari 67 persen suara. González sendiri melarikan diri ke Spanyol pada September 2024 setelah diterbitkannya surat perintah penangkapan.
Oposisi Venezuela mengaku hingga kini belum menerima informasi resmi mengenai status Maduro. Meski demikian, mereka telah menyiapkan peta jalan transisi kekuasaan, termasuk rencana “100 jam pertama dan 100 hari pertama” pasca-kejatuhan rezim.
Machado secara terbuka menyatakan dukungannya terhadap strategi tekanan Trump terhadap Venezuela, menyebutnya sebagai langkah yang membuat rezim “lebih lemah dari sebelumnya.” Ia juga berjanji melakukan pergeseran besar dalam kebijakan luar negeri, termasuk menjadikan Venezuela sebagai sekutu utama Israel di Amerika Latin dan membuka kedutaan besar di Yerusalem—membalikkan kebijakan lama Caracas sejak 2009.