Awan mendung kian pekat menyelimuti garasi Yamaha di musim MotoGP 2026. Sang pemenang balapan, Alex Rins, tak mampu menyembunyikan rasa frustrasinya setelah performa hancur-hancuran di GP Amerika Serikat. Rins bahkan melontarkan kalimat pedas yang menggambarkan betapa hancurnya mentalitas tim saat ini: “Apa yang sebenarnya saya lakukan di sini?”
Proyek mesin V4 baru yang digadang-gadang menjadi juru selamat Yamaha di musim 2026 justru berubah menjadi mimpi buruk. Di sirkuit COTA, Amerika Serikat, pabrikan berlogo garpu tala tersebut benar-benar menyentuh titik terendahnya. Keempat pembalap Yamaha—termasuk tim satelit—resmi menduduki empat posisi buncit di klasemen balapan.
Alex Rins, yang biasanya tampil kompetitif, harus puas kualifikasi di posisi terakhir dan finis paling buncit dengan selisih lebih dari 38 detik dari sang pemenang. Bahkan, ia tertinggal 10 detik dari rekan setimnya, Fabio Quartararo.
Hancurnya Mental Sang Juara
Usai balapan, Rins tampak sangat terpukul. Ia mengungkapkan berbagai kendala teknis pada motor M1 miliknya yang tidak memberikan respons saat ditarik gas, terutama di tikungan tajam. Kendala ini, ditambah dengan performa motor yang lamban, membuat motivasinya hancur berkeping-keping.
“Melihat empat motor Yamaha ada di barisan paling belakang itu sangat menyakitkan. Saya sampai membatin, ‘Wow, apakah kita semua benar-benar terpuruk di sini?'” ujar Rins lirih, sebagaimana dilaporkan GPOne.
Kekecewaan Rins memuncak saat ia merasa tidak memiliki kendali apa pun atas motornya. “Saya merasa tidak berguna di atas motor. Saya tidak bisa belok, tidak bisa pindah arah, tidak bisa melakukan apa pun. Di momen itu saya bertanya pada diri sendiri, ‘Sial, apa yang sebenarnya saya lakukan di sini?'”
Yamaha dalam Status Siaga Merah
Krisis ini diperparah dengan kondisi internal tim yang goyah. Fabio Quartararo sudah lebih dulu memutuskan untuk angkat kaki ke Honda musim depan karena hilangnya kepercayaan pada proyek Yamaha. Hingga seri ketiga, Yamaha baru mengantongi 9 poin di klasemen konstruktor—sebuah angka yang sangat memprihatinkan bagi pabrikan raksasa.
Quartararo bahkan sempat melontarkan pernyataan pedas kepada media Prancis bahwa tim teknisi Yamaha saat ini “sama sekali tidak tahu cara memperbaiki masalah” pada mesin V4 mereka.
Bos Yamaha, Paolo Pavesio, mengakui bahwa timnya sedang berada di posisi yang sangat sulit. Setelah sempat menarik para pembalapnya dari kewajiban wawancara media di GP Thailand karena performa buruk, Pavesio akhirnya angkat bicara.
“Kami memiliki gunung besar yang harus didaki,” ungkapnya, mengakui bahwa proses pembangunan ulang tim dan evolusi mesin baru ini memakan waktu dan pengorbanan yang lebih besar dari yang diperkirakan.