PYONGYANG, KORUT – Korea Utara kembali menarik perhatian dunia internasional setelah melakukan uji coba rudal hipersonik pada Minggu (4/1/2026). Uji peluncuran ini menegaskan komitmen Pyongyang untuk terus memperkuat kemampuan militernya di tengah dinamika geopolitik global yang kian memanas.
Kantor Berita Pusat Korea (KCNA) melaporkan, rudal tersebut berhasil menghantam sasaran di perairan lepas pantai timur Semenanjung Korea dengan jarak tempuh sekitar 1.000 kilometer. Peluncuran dilakukan dari wilayah Pyongyang ke arah timur laut dan dipimpin langsung oleh pemimpin tertinggi Korea Utara, Kim Jong Un.
Dalam laporan KCNA yang dirilis Senin (5/1/2026), Kim Jong Un menegaskan bahwa penguatan kekuatan nuklir merupakan prioritas strategis negaranya.
“Ini adalah tugas strategis yang sangat penting untuk mempertahankan sekaligus memperluas daya tangkal nuklir yang kuat dan andal,” ujar Kim.
Ia menilai, uji coba rudal tersebut mencerminkan kesiapan penuh kekuatan nuklir Korea Utara serta meningkatkan kepercayaan diri militer dalam menghadapi berbagai kemungkinan konflik.
Venezuela Dijadikan Pembenaran Penguatan Nuklir
Dalam pernyataannya, Kim Jong Un turut mengaitkan perkembangan geopolitik global dengan kebutuhan Korea Utara memperkuat persenjataan strategisnya. Ia menyinggung peristiwa penggulingan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh militer Amerika Serikat sebagai contoh nyata pentingnya memiliki daya tangkal militer yang kuat.
“Mengapa senjata nuklir diperlukan dapat dilihat dari krisis geopolitik terbaru dan dinamika internasional yang semakin kompleks,” kata Kim, sebagaimana dikutip KCNA.
Sebagaimana diberitakan Antara, Senin (5/1/2026), pada hari yang sama Kementerian Luar Negeri Korea Utara mengeluarkan kecaman keras terhadap serangan Amerika Serikat ke Venezuela. Pyongyang menilai tindakan tersebut sebagai pelanggaran kedaulatan paling serius serta perbuatan sewenang-wenang yang bertentangan dengan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan hukum internasional.
Korea Utara bahkan menyebut aksi militer tersebut kembali menegaskan “watak liar dan brutal” Amerika Serikat dalam hubungan internasional.
Kim Jong Un juga memerintahkan militernya untuk terus meningkatkan kapabilitas persenjataan, khususnya sistem senjata ofensif. Menurutnya, menjaga negara-negara pesaing agar selalu menyadari kesiapan militer Korea Utara merupakan bagian penting dari strategi pencegahan perang, sekaligus untuk membuat sistem daya tangkal nuklir semakin kuat dan sulit digoyahkan.
Jepang Deteksi Dua Rudal Balistik
Sementara itu, Kementerian Pertahanan Jepang melaporkan mendeteksi peluncuran sedikitnya dua rudal balistik dari pantai barat Korea Utara pada Minggu pagi. Otoritas Jepang mencatat, rudal tersebut diluncurkan pada pukul 07.54 dan 08.05 waktu setempat.
Kedua rudal mencapai ketinggian maksimum sekitar 50 kilometer dengan jarak tempuh masing-masing sekitar 900 kilometer dan 950 kilometer. Pemerintah Jepang memastikan, rudal-rudal itu jatuh di luar zona ekonomi eksklusif (ZEE) negaranya.
Sinyal Politik ke Korea Selatan dan China
Sejumlah media Korea Selatan menilai uji coba rudal tersebut juga mengandung pesan politik. Peluncuran ini disebut sebagai sinyal peringatan tidak langsung kepada Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, agar Seoul tidak mengangkat isu program nuklir Korea Utara dalam pertemuannya dengan Presiden China, Xi Jinping.
Unjuk kekuatan tersebut dinilai sejalan dengan parade militer Korea Utara di Pyongyang pada Oktober lalu, ketika Pyongyang memamerkan rudal balistik jarak pendek Hwasong-11 yang diklaim telah dipersenjatai dengan hulu ledak hipersonik.
Menurut laporan The Korea Times, Minggu (4/1/2026), Kepala Staf Gabungan Korea Selatan menyebut sejumlah rudal diluncurkan dari wilayah sekitar Pyongyang pada pukul 07.50 waktu setempat. Rudal-rudal tersebut melesat sejauh sekitar 900 kilometer sebelum jatuh di Laut Timur. Militer Korea Selatan menyatakan tetap meningkatkan tingkat kesiapsiagaan.
Peluncuran ini menjadi provokasi rudal pertama Korea Utara pada tahun 2026, setelah uji coba terakhir dilakukan pada 7 November 2025, saat Pyongyang menembakkan rudal balistik jarak pendek ke perairan yang sama.
Sejumlah analis menilai, waktu peluncuran tersebut bukanlah kebetulan. Uji coba dilakukan hanya sehari setelah pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump melancarkan operasi militer mendadak di Venezuela, sehingga memperkuat dugaan adanya pesan geopolitik yang ingin disampaikan Korea Utara kepada komunitas internasional.