Gelombang bantuan kemanusiaan terus berdatangan dari berbagai daerah di Indonesia untuk korban banjir dan longsor yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Bencana yang terjadi sejak akhir November 2025 itu telah merenggut 1.182 korban jiwa dan menyebabkan ratusan ribu warga mengungsi.
Pemerintah Aceh pada Kamis (9/1/2026) kembali memperpanjang status tanggap darurat untuk ketiga kalinya hingga 22 Januari 2026, menyusul terjadinya banjir susulan di Aceh Timur dan Aceh Utara dalam dua hari terakhir. Perpanjangan ini dilakukan untuk memastikan penanganan darurat dan distribusi bantuan berjalan optimal di tengah ancaman cuaca ekstrem.
Solidaritas dari Jawa hingga Sulawesi
Dukungan kemanusiaan datang dari berbagai penjuru Tanah Air. Pemerintah Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, pada Jumat (9/1/2026) memberangkatkan bantuan senilai lebih dari Rp 251 juta untuk korban bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
“Kami turut berduka sedalam-dalamnya atas musibah yang menimpa saudara-saudara kita di Aceh dan Sumatra. Alhamdulillah, hari ini bantuan dapat kami kirimkan,” ujar Bupati Boyolali, Agus Irawan.
Bantuan yang disalurkan melalui lembaga Solo Peduli tersebut meliputi makanan cepat saji, pakaian baru, perlengkapan ibadah, serta alat komunikasi bagi wilayah terdampak. Pada hari yang sama, Kodam II/Sriwijaya mengirimkan logistik dasar ke Aceh Tamiang berupa beras, air mineral, pakaian, sajadah, mukena, hingga panel surya portabel.
Sementara itu, dari Sulawesi Selatan, Pemerintah Kabupaten Bone telah menyalurkan donasi sebesar Rp 1,25 miliar pada 2 Januari 2026 untuk mendukung upaya pemulihan korban bencana.
Ribuan Ton Logistik Disalurkan, Bantuan Tunai Digelontorkan
Juru Bicara Pos Komando Penanganan Banjir dan Longsor Aceh, Murthalamuddin, menyampaikan bahwa pemerintah telah menyalurkan 1.788 ton logistik sejak 30 November 2025 hingga 6 Januari 2026. Selain bantuan barang, Kementerian Sosial juga memberikan bantuan tunai sebesar Rp 5 juta per keluarga sebagai dukungan pemulihan ekonomi bagi warga terdampak.
Ratusan Pesantren Terdampak, Kebutuhan Mendesak Masih Tinggi
Dampak bencana juga melumpuhkan sektor pendidikan keagamaan. Data Kementerian Agama mencatat 261 pondok pesantren di 17 kabupaten/kota di Aceh terdampak, dengan dua pesantren hilang dan empat lainnya roboh akibat terjangan banjir dan longsor.
Kepala Bidang Pendidikan dan Sumber Daya Santri Aceh, Sazali, mengungkapkan bahwa 268 dayah (pesantren) membutuhkan pembangunan sumur bor baru karena sumur lama tertimbun lumpur. Selain itu, sedikitnya 66 pesantren belum dapat memulai kegiatan belajar mengajar lantaran keterbatasan alat berat berukuran kecil untuk membersihkan material lumpur.
“Kami sangat membutuhkan bantuan kitab dan perlengkapan belajar. Semuanya hanyut terbawa banjir. Kami juga berharap dukungan untuk pembangunan sumur bor,” ujar Tk Hed Abduluthaleb, pimpinan Pesantren Al-Qadri di Kecamatan Nisam, Aceh Utara.
Ratusan Ribu Mengungsi, Ancaman Cuaca Ekstrem Masih Membayangi
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana, hingga Jumat (9/1/2026) tercatat 238.627 orang masih mengungsi, sementara 145 orang dinyatakan hilang. Provinsi Aceh menjadi wilayah dengan jumlah korban meninggal terbanyak, yakni 544 jiwa.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan potensi cuaca ekstrem berupa hujan lebat masih akan melanda Aceh hingga 10 Januari 2026, sehingga masyarakat diminta tetap waspada terhadap kemungkinan banjir dan longsor susulan.