JAKARTA – Ledakan pipa gas tanam milik PT Transportasi Gas Indonesia (TGI) di wilayah Rokan, Riau, berdampak signifikan terhadap sektor energi nasional dengan menggerus produksi minyak hingga sekitar 2 juta barel pada awal 2026.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan fakta tersebut dalam Rapat Kerja bersama Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis.
“Kami laporkan bahwa kami di awal tahun ini mengalami musibah kecil di Sumatera. Pipa kami bocor, sehingga potensi kehilangan (minyak) sekitar 2 juta barel di awal tahun,” ujar Bahlil.
Bahlil menegaskan bahwa insiden tersebut tidak bisa dianggap semata sebagai kecelakaan karena terdapat unsur kelalaian yang harus dipertanggungjawabkan.
Sebagai bentuk tanggung jawab, Bahlil memastikan akan menjatuhkan sanksi tegas kepada pejabat terkait baik di lingkungan Kementerian ESDM maupun badan usaha milik negara.
“Saya akan langsung memberikan sanksi kepada pejabat yang ada di ESDM dan di BUMN terkait,” ucap Bahlil.
Ledakan pipa gas PT TGI sebelumnya juga memicu kebakaran besar di Kabupaten Indragiri Hilir pada Jumat (2/1) yang menyebabkan 10 orang terluka serta merusak kendaraan dan bangunan di sekitar lokasi.
Insiden serupa kembali terjadi pada Jumat (9/1) dini hari di Desa Tani Makmur, Kecamatan Rengat Barat, Kabupaten Indragiri Hulu, sebagaimana disampaikan Kepolisian Resor Inhu.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menyatakan pemulihan aliran gas di Rokan kini menjadi perhatian utama pemerintah.
“Sudah mulai mengalir dari beberapa hari yang lalu, tapi kan alirannya itu kami tambahkan secara bertahap. Tidak (langsung) maksimal, kami tahan (alirannya).”
“Sudah dua kali meledak, jadi kami jaga (alirannya),” ujar Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Laode Sulaeman ketika ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (21/1).
Penyesuaian aliran gas dilakukan secara hati-hati karena penahanan terlalu lama berpotensi menekan produksi minyak nasional.
Pada 2026, Kementerian ESDM menargetkan lifting minyak sebesar 610 ribu barel per hari atau meningkat 5 ribu barel per hari dibandingkan target tahun sebelumnya.
Untuk menutup kehilangan produksi akibat insiden tersebut, Kementerian ESDM ditugaskan menambah pasokan sekitar 5 ribu hingga 6 ribu barel minyak per hari.
Pemerintah memperkirakan produksi minyak di Rokan akan kembali ke kondisi normal dalam beberapa hari ke depan seiring stabilisasi aliran gas.***