JAKARTA – Anggota Komisi V DPR RI Sujatmiko menegaskan bahwa maraknya banjir dan bencana hidrometeorologi di berbagai daerah merupakan dampak langsung dari lemahnya tata kelola air, tata ruang, dan pembangunan infrastruktur yang tidak berpijak pada prinsip lingkungan.
Politikus PKB tersebut menilai hujan sejatinya adalah anugerah alam, namun berubah menjadi ancaman serius ketika manusia gagal memahami dinamika alam dan mengelolanya secara bijak.
“Hujan itu seharusnya kita syukuri. Tetapi karena kita kurang memahami dan kurang memperhatikan perubahan alam, air yang turun dari langit justru menimbulkan banjir,” kata Sujatmiko dalam keterangan persnya, di Jakarta, Minggu (8/2/2026).
Ia menjelaskan bahwa pengelolaan air hujan idealnya dilakukan melalui dua pendekatan utama, yakni menampung air di permukaan bumi dan mengembalikannya ke dalam tanah sebagai cadangan jangka panjang.
“Pada musim kemarau, baik untuk pertanian, air minum, maupun kebutuhan lainnya. Air hujan juga perlu dimasukkan kembali ke dalam tanah sebagai cadangan air tanah,” ucap Sujatmiko.
Namun dalam praktiknya, pendekatan pengisian ulang air tanah masih jarang diterapkan sehingga limpasan air hujan langsung mengalir di permukaan dan memicu banjir besar.
“Hujan memiliki siklus alami dengan intensitas yang berbeda-beda, mulai dari siklus lima tahunan hingga 50 bahkan 100 tahunan. Karena itu, penting bagi pemerintah dan masyarakat untuk memahami pola tersebut, dengan penjelasan teknis dari BMKG,” ujar Sujatmiko.
Di sisi lain, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menegaskan bahwa perubahan iklim bukan lagi sekadar ancaman, melainkan kenyataan yang kini dampaknya kian nyata di Indonesia.
Berdasarkan data pemantauan BMKG, tren kenaikan suhu global berjalan seiring dengan meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem yang memicu bencana hidrometeorologi di berbagai wilayah Tanah Air.***