Nemesio Rubén Oseguera Cervantes, atau yang lebih dikenal dengan julukan “El Mencho”, tewas dalam operasi militer besar-besaran di Tapalpa, Jalisco, pada Minggu (22/2/2026). Pemimpin Jalisco New Generation Cartel (CJNG) ini bukan sekadar buronan; ia adalah hantu yang menghantui dua negara dengan nilai kepala mencapai US$ 15 juta (sekitar Rp 252 miliar).
Operasi presisi ini merupakan hasil kolaborasi intelijen tingkat tinggi antara militer Meksiko dan Amerika Serikat. Meski demikian, Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum menegaskan kedaulatan negaranya.
“Target kita adalah menegakkan hukum tanpa perlu campur tangan pasukan asing di tanah Meksiko,” tegasnya saat memuji keberanian prajurit di lapangan.
Transformasi Kelam: Dari Penegak Hukum Menjadi Musuh Negara
Lahir di Michoacán pada 1966, perjalanan hidup El Mencho adalah sebuah anomali yang mengerikan. Ia pernah merasakan dinginnya sel penjara di California pada 1994 akibat kasus heroin. Ironisnya, sekembalinya ke Meksiko, ia sempat mengenakan seragam polisi di Jalisco.
Namun, lencana polisi itu segera ditukar dengan senapan mesin. El Mencho merangkak naik dari kepala pembunuh bayaran di Kartel Milenio hingga menjadi pilar keamanan bagi Kartel Sinaloa.
Pada 2010, melalui aliansi strategis dan pernikahan dengan klan Los Cuinis, ia mendirikan CJNG—sebuah mesin pembantai yang menggabungkan kekejaman ekstrem dengan manajemen jaringan global.
“El Mencho membangun kekuasaannya dengan kombinasi kekerasan brutal dan diplomasi jaringan,” ungkap analis keamanan David Saucedo. Di bawah komandonya, CJNG menjelma menjadi korporasi kriminal yang mengendalikan jalur fentanil dari Tiongkok hingga ke jalanan Amerika.
CJNG bukan sekadar kartel; mereka adalah tentara bayangan. Di bawah kepemimpinan El Mencho, kelompok ini pernah mencetak sejarah kelam dengan menembak jatuh helikopter militer pada 2015.
Mereka tidak segan menculik putra pimpinan Kartel Sinaloa atau menyerang pejabat tinggi pemerintah di siang bolong. El Mencho-lah yang mengubah peta persaingan narkotika menjadi perang terbuka yang tak berkesudahan.
Meksiko Menjadi “Neraka” Pasca-Kematian
Tumbangnya sang raja tidak lantas membawa kedamaian. Sebaliknya, kematian El Mencho memicu “narcoblockades” massal di 20 negara bagian. Kendaraan-kendaraan dibakar untuk menutup akses kota, suara tembakan menggema, dan sedikitnya 14 nyawa melayang dalam kerusuhan yang pecah hanya beberapa jam setelah berita kematiannya tersebar.
Saking gawatnya situasi, AS dan Kanada segera mengeluarkan peringatan perjalanan darurat dan membatalkan sejumlah jadwal penerbangan. Para pakar memperingatkan bahwa meski kepalanya telah dipenggal, struktur CJNG yang terdesentralisasi justru bisa memicu perang saudara antar-faksi yang jauh lebih tidak terduga dan mematikan.