NGANJUK – Program becak listrik bagi pembecak lansia di Nganjuk menjadi sorotan setelah ratusan unit bantuan digulirkan untuk meringankan beban fisik para pekerja sektor informal yang selama puluhan tahun menggantungkan hidup dari tenaga kayuh.
Bantuan becak listrik ini hadir di tengah kondisi kesehatan para pembecak lansia yang kian menurun, mulai dari gangguan penglihatan hingga nyeri sendi kronis akibat aktivitas berat setiap hari.
Distribusi becak listrik di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, menjadi bagian dari langkah nyata pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan pekerja kecil, sekaligus menjawab tantangan usia dan keterbatasan fisik yang mereka hadapi.
Muaji (75), warga Nganjuk, telah menjadi saksi perubahan zaman sejak mulai menarik becak pada era 1980-an, namun usia tak lagi bersahabat dengan kondisi tubuhnya yang semakin rapuh.
Dalam tujuh tahun terakhir, penglihatan mata kirinya terus menurun akibat kelilipan yang tak kunjung pulih, membuat pandangannya samar dan memburuk dari waktu ke waktu.
“Jadi meski kondisi mata saya seperti ini, saya tetap menarik becak. Selain itu, napas saya pun sering terengah-engah jika mengantarkan penumpang dalam kondisi panas dan jarak yang jauh,” ujar Muaji, ketika ditemui di Nganjuk, Kamis (26/2).
Keterbatasan tersebut tak menghentikan langkahnya mencari nafkah, meski setiap kayuhan kini terasa lebih berat dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Harapan baru muncul ketika Muaji menerima satu unit becak listrik gratis yang disalurkan melalui Gerakan Solidaritas Nasional sebagai bagian dari program Presiden Prabowo Subianto.
“Saya senang sekali, sungguh. Terima kasih banyak atas becaknya, semoga bisa menjadi berkah untuk bekerja,” imbuh dia.
Secara keseluruhan, sebanyak 220 unit becak listrik dibagikan kepada para pembecak lansia di Nganjuk dalam seremoni di Pendopo KRT. Sorokoesoemo yang turut dihadiri Bupati Marhaen Djumadi.
Program ini menargetkan pekerja sektor informal yang rentan secara ekonomi dan kesehatan, dengan harapan teknologi sederhana berbasis listrik dapat mengurangi tekanan fisik sekaligus memperpanjang produktivitas mereka.
Bagi Mispan (60), bantuan tersebut bukan hanya alat transportasi, melainkan solusi atas nyeri sendi dan sakit pinggang yang selama ini ia tanggung akibat rutinitas mengayuh becak setiap hari.
Ia mengaku rasa sakit kerap muncul di pergelangan kaki dan punggung bawah, terutama saat membawa penumpang dalam jarak jauh atau kondisi cuaca terik.
“Jadi terima kasih Pak Prabowo, alhamdulillah dapat becak listrik. Sekali lagi, terima kasih,” ujar dia.
Kehadiran becak listrik ini diharapkan menjadi titik balik kesejahteraan pembecak lansia Nganjuk, sekaligus simbol perhatian pemerintah terhadap kelompok pekerja kecil yang jarang tersorot namun berperan penting dalam denyut ekonomi daerah.***

