Suara tenang nan tegas di radio komunikasi itu menjadi penuntun setia saat Lewis Hamilton menyentuh garis finis di GP Barcelona-Catalunya 2026. Untuk pertama kalinya setelah hampir dua tahun berpuasa gelar, sang juara dunia tujuh kali itu akhirnya berdiri di podium tertinggi—kali ini, dibalut seragam merah legendaris Ferrari.
Pria di balik pelantang suara Hamilton itu adalah Carlo Santi, seorang pria Italia berusia 52 tahun asal Verona. Menariknya, Santi awalnya hanyalah seorang “insinyur cadangan” yang tidak diproyeksikan untuk mendampingi Hamilton dalam jangka panjang.
Dari Ban Serep Menjadi Mitra Emas
Sebelum musim 2026 dimulai, Ferrari memutuskan untuk menggeser posisi Riccardo Adami—engineer yang mendampingi Hamilton di musim debutnya yang mengecewakan—ke akademi pembalap mereka. Santi kemudian ditunjuk sebagai pengganti sementara (interim) sejak tes pramusim.
Namun, yang terjadi selanjutnya adalah keajaiban chemistry. Hubungan komunikasi Santi dan Hamilton langsung klop sejak balapan pertama.
Di GP China Hamilton meraih podium pertama bersama Ferrari (Posisi ke-3). Kemudian di GP Kanada & Monako Hamilton mengamankan podium kedua berturut-turut. Sementara di GP Barcelona Hamilton mengonversi posisi start terdepan menjadi kemenangan emosional pertama bagi tim berlambang Kuda Jingkrak tersebut.
Gaya komunikasi Santi yang sangat klir dan langsung dinilai menjadi pembeda besar dibanding musim lalu, di mana radio tim Hamilton dan Adami sering kali diwarnai salah paham.
Jejak Karier Sang ‘Italian Bono’: Dulu Bersama Kimi Raikkonen
Santi bukanlah orang baru di garasi Maranello. Lulusan Teknik Mesin dari Politeknik Milan ini memulai kariernya di Ferrari sebagai teknisi simulator.
Jejak emasnya di F1 tercatat saat ia menjadi race engineer bagi juara dunia 2007, Kimi Raikkonen, pada musim 2018. Tangan dingin Santi-lah yang mengawal pembalap berjuluk The Ice Man itu meraih kemenangan ke-21 sekaligus kemenangan terakhirnya di F1 pada GP Amerika Serikat 2018. setelah itu, Santi sempat ditarik ke peran manajemen jarak jauh di Maranello sebelum akhirnya “turun gunung” untuk Hamilton.
Akankah Menjadi Duet Paling Ikonik di Ferrari?
Bagi penggemar F1, ikatan emosional pembalap dan teknisinya sangat krusial. Hamilton sendiri terkenal memiliki hubungan legendaris dengan Peter ‘Bono’ Bonnington selama 12 tahun kejayaannya di Mercedes. Kini, setelah Bono mendampingi pembalap muda Kimi Antonelli di Mercedes, Hamilton merasa telah menemukan belahan jiwa barunya di trek dalam diri Santi. Publik pun mulai menjuluki Santi sebagai “The Italian Bono.”
“Sangat luar biasa bisa merayakan kemenangan bersamanya di podium,” ungkap Hamilton emosional. “Kami bertemu tanpa saling kenal sebelumnya, namun kami langsung cocok. Carlo adalah orang yang sangat tenang. Susah melihatnya mengekspresikan emosi secara berlebih, dia hanya tersenyum saat saya memeluknya erat. Saya suka berpikir bahwa momen ini telah membakar kembali cintanya pada dunia engineering, sama seperti yang ia lakukan pada jiwa membalap saya.”
Meskipun demikian, bos Ferrari, Fred Vasseur, memilih untuk tetap membumi dan memuji keselarasan ini sebagai hasil kerja kolektif seluruh tim.
“Carlo adalah bagian penting dari proses ini, dan kecocokan antara dia dan Lewis memang sangat bagus. Tapi saat kami meraih hasil, itu karena secara kolektif kami melakukan pekerjaan dengan baik,” pungkas Vasseur.