TEHERAN, IRAN – Pemerintah Iran menyatakan tidak gentar menghadapi ancaman perang dari Amerika Serikat. Teheran menegaskan bahwa rezim Republik Islam memiliki mekanisme berlapis untuk mengganti Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei jika nekat dibunuh oleh Washington.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dalam wawancara eksklusif dengan India Today, Rabu (25/2/2026), merespons santernya wacana di media AS tentang skenario serangan yang menargetkan pemimpin tertingginya. Araghchi menilai kekhawatiran tersebut tidak berdasar karena sistem pemerintahan di Iran tidak bertumpu pada satu figur.
“Ini adalah sebuah sistem. Ini adalah mekanisme yang mapan yang ada di dalam sistem itu sendiri, jadi tidak akan ada yang runtuh. Semua orang akan diganti melalui prosedur yang telah ditetapkan,” tegas Araghchi.
Lebih lanjut, diplomat top Iran itu menjelaskan bahwa fondasi utama sistem ini bukan sekadar individu, melainkan dukungan massa.
“Sistem kami tidak bergantung pada individu. Sistem ini didukung oleh rakyat. Jadi, saya sama sekali tidak khawatir. Bahkan di tengah perang, tidak ada yang runtuh, dan kami mampu melanjutkan pertahanan diri kami,” ujarnya.
Pernyataan garang Teheran ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan. Isu pembunuhan Khamenei disebut-sebut sebagai “garis merah” oleh sekutu utama Iran, Hizbullah.
Ancaman Hizbullah
Seorang pejabat Hizbullah yang berbicara kepada AFP pada hari yang sama mengungkapkan sikap berbeda dari kelompoknya. Menurutnya, Hizbullah tidak akan terlibat secara militer jika AS hanya melakukan serangan terbatas terhadap Iran. Namun, kelompok militan Lebanon itu siap turun tangan jika keselamatan Khamenei terancam, yang didefinisikan sebagai “garis merah” yang tidak bisa ditoleransi.
Sementara itu, ancaman keras justru datang dari Israel. Dua pejabat senior Lebanon mengungkapkan kepada Reuters bahwa Tel Aviv telah mengirimkan pesan tidak langsung melalui berbagai saluran. Israel memperingatkan akan melancarkan serangan besar-besaran ke Lebanon, menargetkan infrastruktur sipil termasuk bandara, jika Hizbullah ikut campur dalam perang potensial antara AS dan Iran.
Peringatan ini tidak main-main mengingat militer Israel (IDF) baru saja memberikan pukulan telak kepada Hizbullah selama perang 2024 lalu. Serangan tersebut berhasil menewaskan pemimpin Hizbullah Hassan Nasrallah, ribuan milisi, serta menghancurkan sebagian besar persenjataan mereka.
Pada Rabu, IDF merilis laporan terbaru yang merinci operasi penumpasan terhadap aset teror Hizbullah. Serangan disebut mencakup peluncur roket, lokasi pembuatan senjata, dan pusat komando unit elite.
“Selama beberapa bulan terakhir, pasukan IDF telah beroperasi di Lebanon selatan untuk membongkar infrastruktur teroris dan mencegah upaya organisasi teroris Hizbullah untuk mempersenjatai diri kembali,” demikian pernyataan IDF.
Operasi tersebut juga menargetkan posisi pengamatan dan penembakan yang digunakan sebagai basis peluncur anti-tank Hizbullah. IDF menegaskan bahwa keberadaan senjata dan milisi di Lebanon selatan merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap kesepahaman yang telah disepakati antara Israel dan Lebanon.