JAKARTA β Vatikan menyuarakan kekhawatiran serius atas eskalasi konflik Timur Tengah yang terus memakan korban sipil dan memperparah krisis kemanusiaan global.
Pernyataan itu disampaikan dalam forum resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa di Jenewa pada Kamis (26/3/2026), ketika perwakilan Vatikan menilai situasi telah memasuki fase yang mengkhawatirkan.
Dalam sidang Dewan HAM, Uskup Agung Ettore Balestrero menegaskan bahwa tragedi yang berlangsung saat ini telah menimbulkan penderitaan luas bagi warga sipil, termasuk anak-anak dan keluarga yang terpaksa mengungsi.
Melansir Vatican News, Jumat, ia menyoroti meningkatnya serangan terhadap fasilitas sipil seperti rumah sakit, sekolah, dan kawasan permukiman yang memperlihatkan tingkat kehancuran yang semakin kompleks.
Vatikan juga mengingatkan bahwa penggunaan teknologi canggih dalam konflik bersenjata berpotensi memperburuk dampak kemanusiaan jika tidak dikendalikan secara ketat.
Mengutip seruan Paus Leo XIV, Vatikan menegaskan bahwa penderitaan manusia tidak boleh diabaikan karena luka yang dirasakan korban sejatinya adalah luka seluruh umat manusia.
Pesan moral tersebut menegaskan bahwa solusi militer bukanlah jalan keluar, karena kekerasan hanya akan memperpanjang siklus kehancuran dan memperdalam krisis.
Vatikan pun mendorong seluruh pihak untuk kembali ke jalur diplomasi, dialog terbuka, serta kepatuhan penuh terhadap hukum internasional sebagai satu-satunya cara mencapai perdamaian berkelanjutan.
Seruan itu juga menekankan pentingnya tanggung jawab moral global untuk menghentikan konflik sebelum situasi berubah menjadi krisis yang tidak dapat dikendalikan.
Dalam forum terpisah bersama UNHCR, Vatikan kembali menyoroti lonjakan jumlah pengungsi yang terus meningkat seiring konflik yang belum mereda.
Disampaikan bahwa kebutuhan bantuan kemanusiaan melonjak tajam, sementara dukungan sumber daya justru mengalami penurunan signifikan.
Ketimpangan antara anggaran untuk perang dan bantuan kemanusiaan disebut semakin memperjelas krisis prioritas global saat ini.
Vatikan mengingatkan bahwa pengungsi bukan sekadar angka statistik, melainkan individu dengan identitas, kisah hidup, dan harapan yang nyata.
Anak-anak menjadi kelompok paling rentan karena banyak dari mereka tumbuh tanpa akses pendidikan, lingkungan keluarga yang stabil, bahkan kehilangan kesempatan menikmati masa kecil secara layak.
Komunitas internasional diminta memperkuat solidaritas global, terutama karena sebagian besar pengungsi ditampung oleh negara berkembang dengan keterbatasan sumber daya.
Vatikan juga mendorong peningkatan pendanaan yang lebih stabil serta perluasan program pemukiman kembali sebagai solusi jangka panjang.
Lebih jauh, ditegaskan bahwa konflik bukanlah sesuatu yang terjadi secara alami, melainkan hasil dari kebijakan dan keputusan politik yang keliru.
Oleh karena itu, upaya perdamaian harus dimulai dengan menghentikan retorika kebencian dan menggantinya dengan dialog yang rasional dan bertanggung jawab.
Mengulang pesan Paus, stabilitas dunia hanya dapat dicapai melalui komunikasi yang jujur dan kerja sama, bukan ancaman atau kekuatan militer.
Selain Timur Tengah, Vatikan juga menyoroti situasi di Eropa yang masih menghadapi dampak perang berkepanjangan, khususnya konflik di Ukraina yang telah berlangsung lebih dari empat tahun.
Krisis kemanusiaan di kawasan tersebut dinilai belum menunjukkan tanda mereda, sehingga seruan penghentian permusuhan kembali digaungkan.
Vatikan menegaskan bahwa perdamaian tidak boleh terus ditunda dan mengapresiasi negara-negara yang telah memberikan perlindungan sementara bagi para pengungsi.***