ISLAMABAD, PAKISTAN – Perundingan lanjutan gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran berakhir tanpa hasil di Islamabad, Pakistan, pada Sabtu (11/4/2026) hingga Minggu (12/4/2026). Delegasi AS yang dipimpin Wakil Presiden JD Vance meninggalkan meja perundingan setelah lebih dari 20 jam negosiasi maraton, memicu kegagalan kesepakatan penghentian perang yang telah berlangsung sejak 28 Februari 2026.
Vance langsung mengumumkan kegagalan tersebut dan menyatakan bahwa dampaknya jauh lebih berat bagi pihak Iran. “Kabar buruknya adalah kami belum mencapai kesepakatan, dan saya pikir itu kabar buruk bagi Iran jauh lebih besar daripada kabar buruk bagi Amerika Serikat,” ujar Vance, seperti dikutip Reuters.
Menurut Vance, kegagalan utama berakar pada ketidaksepakatan soal program nuklir Iran. AS mengusulkan pembatasan ketat yang ditolak mentah-mentah oleh Teheran. Sementara itu, delegasi Iran justru mengklaim perundingan masih berlanjut. “Negosiasi akan berlanjut meskipun masih ada beberapa perbedaan,” tulis pernyataan resmi Pemerintah Iran di akun X resminya.
Tak lama setelah pengumuman kegagalan, Presiden AS Donald Trump mengeluarkan pernyataan tegas. Ia menyatakan AS akan memblokade Selat Hormuz dan mencegat semua kapal yang membayar biaya lintas ke Iran. Langkah ini disebut sebagai respons langsung terhadap kebuntuan perundingan.
Lima Alasan Utama di Balik Kegagalan Perundingan
Meski isu nuklir menjadi sorotan utama, setidaknya ada lima faktor krusial yang menjadi batu sandungan, seperti diuraikan Times of India. Berikut penjelasan lengkapnya:
1. Perselisihan Program Nuklir Iran
Program nuklir menjadi penghalang terbesar. AS menuntut Iran tidak boleh memiliki kemampuan memproduksi senjata nuklir dan meminta pengawasan ketat serta pembatasan pengayaan uranium. Iran menolak keras, menyebut tuntutan tersebut melanggar kedaulatannya, meskipun Teheran berulang kali menyatakan tidak mengejar senjata nuklir.
2. Permintaan Pencabutan Sanksi dan Pencairan Aset
Iran datang ke meja perundingan dengan harapan sanksi ekonomi dicabut total dan aset-asetnya yang dibekukan di berbagai negara, termasuk Qatar, segera dicairkan. Namun, pihak AS secara tegas menolak memenuhi tuntutan tersebut.
3. Perebutan Kendali Selat Hormuz
Selat Hormuz yang menjadi jalur vital bagi seperlima pasokan minyak dunia menjadi rebutan sengit. Iran bersikeras mempertahankan kontrol penuh dan telah memberlakukan biaya lintas bagi kapal tanker sejak perang meletus. AS menolak mentah-mentah dan menuntut akses bebas ke perairan tersebut.
4. Cakupan Gencatan Senjata yang Berbeda
Teheran menginginkan kesepakatan mencakup kompensasi kerusakan perang dan perluasan cakupan hingga Lebanon. Sebaliknya, AS membatasi fokus hanya pada isu nuklir dan kebebasan navigasi Selat Hormuz, sehingga kedua pihak sulit menemukan titik temu.
5. Hilangnya Kepercayaan yang Sudah Rapuh
Rasa saling tidak percaya mendominasi suasana perundingan. Ini bukan kali pertama. Sejak April 2025 hingga Februari 2026, kedua negara telah dua kali gagal bersepakat. Bahkan, pada perundingan terakhir sebelum perang pecah, Trump memutuskan membom Teheran dan menewaskan sejumlah pejabat tinggi Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Trauma itu masih membekas dan semakin menyulitkan upaya damai kali ini.
Kegagalan perundingan di Islamabad memperburuk ketegangan di Timur Tengah. Harga minyak dunia diprediksi akan terus meroket akibat ancaman blokade Selat Hormuz, sementara risiko eskalasi militer semakin nyata. Pantauan terus dilakukan terhadap langkah selanjutnya kedua negara, yang hingga kini belum memberikan sinyal kesediaan untuk kembali ke meja perundingan.