TEHERAN, IRAN — Pemerintah Iran merespons keras rencana Amerika Serikat (AS) yang disebut akan memblokade Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang dilalui sekitar 20 persen distribusi minyak dunia. Teheran menegaskan tidak akan gentar menghadapi tekanan tersebut dan siap mengambil langkah balasan jika diperlukan.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyampaikan sikap tegas negaranya usai kembali dari Islamabad, Pakistan, dalam rangkaian perundingan terkait ketegangan dengan Washington.
“Jika mereka melawan, kami akan melawan, dan jika mereka mengajukan argumen logis, kami akan menghadapinya dengan logika,” tegas Ghalibaf di Teheran, seperti dikutip AFP, Senin (13/4/2026).
Ia menambahkan bahwa Iran tidak akan tunduk pada tekanan apa pun yang dianggap mengancam kedaulatan negara.
“Kami tidak akan tunduk pada ancaman apa pun, biarkan mereka menguji tekad kami sekali lagi sehingga kami dapat memberi mereka pelajaran yang lebih besar,” lanjutnya.
Di sisi lain, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menyatakan bahwa pihaknya telah menguasai penuh situasi keamanan di Selat Hormuz. Jalur sempit tersebut menjadi salah satu titik vital perdagangan energi global.
Dalam pernyataan resminya, komando angkatan laut IRGC menegaskan bahwa seluruh aktivitas pelayaran berada dalam pengawasan militer Iran.
“Semua lalu lintas… berada di bawah kendali penuh angkatan bersenjata,” tulis IRGC dalam unggahan berbahasa Persia di platform X.
Pihaknya juga mengeluarkan peringatan keras terhadap potensi eskalasi konflik di kawasan tersebut.
“Musuh akan terjebak dalam pusaran maut di Selat jika melakukan kesalahan,” lanjut pernyataan tersebut, disertai video yang memperlihatkan kapal-kapal dalam bidikan militer.
Meski demikian, IRGC memastikan bahwa jalur pelayaran tetap dibuka untuk kapal sipil internasional sesuai ketentuan yang berlaku. Pernyataan itu sekaligus membantah klaim sejumlah pihak yang menyebut Selat Hormuz telah ditutup.
Dalam keterangan terpisah, IRGC menegaskan bahwa setiap kapal militer asing yang mendekati wilayah tersebut dengan alasan apa pun akan dianggap sebagai pelanggaran terhadap situasi gencatan dan akan ditindak.
Sementara itu, Presiden AS, Donald Trump, sebelumnya menyatakan bahwa Angkatan Laut AS akan mulai melakukan blokade terhadap kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz.
“Mulai sekarang, Angkatan Laut Amerika Serikat akan memblokade semua kapal yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz,” ujar Trump dalam pernyataan di platform Truth Social.
Langkah tersebut diperkuat oleh pernyataan United States Central Command (CENTCOM) yang menyebutkan bahwa operasi akan mulai diberlakukan pada Senin pukul 10.00 waktu setempat.
Namun demikian, implementasi di lapangan dilaporkan tidak sepenuhnya sesuai dengan pernyataan awal. Kapal-kapal yang tidak menuju pelabuhan Iran masih diizinkan untuk melintas, menunjukkan adanya pembatasan dalam penerapan kebijakan tersebut.
Situasi ini menambah ketegangan di kawasan Teluk, dengan Selat Hormuz kembali menjadi titik krusial dalam dinamika geopolitik global. Hingga kini, belum ada tanda-tanda meredanya eskalasi antara kedua negara.