JAKARTA – Catatan mekarnya bunga sakura selama 12.00 tahun yang dirintis Profesor Yasuyuki Aono dipastikan tetap berlanjut meski sang ilmuwan telah wafat.
Peneliti dari Universitas Metropolitan Osaka itu mendedikasikan kariernya untuk memetakan tanggal mekarnya pohon sakura sebagai penanda perubahan iklim.
Bahkan pada bulan-bulan terakhir hidupnya, Aono masih menghitung hari hingga bunga sakura mekar. April 2025 lalu, ia mengunggah foto spreadsheet berisi catatan puncak berbunga pohon ceri gunung (Prunus jamasakura) dengan tanggal “4 April.” Namun, baris berikutnya bertuliskan “2026” tak sempat ia isi. Aono meninggal pada 5 Agustus 2025.
“Anda bisa melihat dengan jelas bahwa dia berencana untuk melanjutkan,” kata Tuna Acisu, ilmuwan data dari Our World in Data, yang menerbitkan grafik berdasarkan data Aono, dilansir The Guardian, Rabu (15/4/2026).
Kekhawatiran akan terhentinya catatan bersejarah itu mendorong Acisu meluncurkan pencarian pengamat baru. Seorang peneliti di Jepang kemudian menawarkan diri untuk melanjutkan pengamatan formal di lokasi yang sama, Arashiyama, Kyoto. “Sungguh menyenangkan mengetahui bahwa kumpulan data ini terus dilanjutkan,” ujar Acisu.
Catatan Aono, yang bersumber dari arsip sejak abad ke-9, menjadi salah satu data iklim terpanjang di dunia. Ia bahkan belajar membaca bahasa Jepang kuno untuk menelusuri festival sakura di Kyoto dan menghitung tanggal mekarnya bunga dari catatan sejarah.
Temuan penting Aono termasuk puncak berbunga tahun 2021 dan 2023 yang tercatat paling awal sepanjang sejarah, masing-masing pada hari ke-85 dan ke-84. “Itu benar-benar pengalaman yang luar biasa,” kenang Richard Primack, profesor biologi Universitas Boston yang pernah bertemu Aono pada 2006.
Upaya melanjutkan catatan ini dinilai sangat berharga secara akademis. “Kesinambungan data pembungaan pohon sakura gunung akan menjadi kontribusi penting bagi penelitian perubahan iklim,” kata Toshio Katsuki, ahli dendrologi dari Institut Penelitian Kehutanan di Ibaraki.