JAKARTA — Stabilitas nilai tukar rupiah kini menjadi faktor krusial dalam menentukan kembalinya aliran dana asing ke pasar saham Indonesia di tengah penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang masih dibayangi ketidakpastian global.
Kondisi terkini menunjukkan bahwa pergerakan IHSG belum sepenuhnya ditopang oleh fundamental domestik, melainkan lebih dipengaruhi sentimen eksternal yang bersifat sementara.
Para pelaku pasar pun masih menunggu sinyal kuat, terutama dari stabilisasi kurs Rupiah, sebelum meningkatkan eksposur terhadap aset berdenominasi domestik.
Head of Research and Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menegaskan bahwa kestabilan mata uang menjadi prasyarat utama untuk menarik kembali kepercayaan investor global.
“Selama volatilitas Rupiah masih tinggi, investor global cenderung akan tetap berhati-hati dalam meningkatkan eksposur terhadap aset berdenominasi Rupiah.”
“Stabilisasi nilai tukar akan menjadi prasyarat penting untuk melihat pembalikan aliran dana asing yang lebih berkelanjutan,” ujar Rully sebagaimana keterangan resmi di Jakarta, Rabu (6/5/2026).
Ia menilai penguatan IHSG saat ini belum mencerminkan perubahan fundamental yang signifikan, meskipun sejumlah indikator makroekonomi menunjukkan hasil di atas ekspektasi.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 tercatat mencapai 5,61 persen secara tahunan, namun belum cukup menjadi katalis kuat untuk membalikkan arus dana asing yang masih keluar dari pasar.
“Masih terlalu dini untuk mengasumsikan bahwa penguatan ini akan berlanjut, mengingat aliran dana asing masih mencatatkan outflow dan belum terdapat katalis baru yang cukup kuat untuk mengubah arah pasar,” ujar Rully.
Sementara itu, Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Novani Karina Saputri, mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi awal tahun didorong kuat oleh konsumsi domestik dan belanja pemerintah.
Momentum Ramadan dan Lebaran menjadi pendorong utama meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat yang berdampak signifikan terhadap pertumbuhan.
“Pertumbuhan 5,61 persen (yoy) ditopang oleh akselerasi belanja pemerintah yang meningkat signifikan hingga sekitar 21,8 persen (yoy), serta konsumsi domestik yang solid.”
“Strategi frontloading stimulus fiskal turut memberikan dorongan terhadap aktivitas ekonomi di awal tahun,” ujar Novani.
Namun secara kuartalan, ekonomi Indonesia masih mencatat kontraksi sebesar 0,8 persen, yang menunjukkan adanya pengaruh faktor musiman.
“Kami melihat pertumbuhan berpotensi mengalami normalisasi pada kuartal berikutnya seiring meredanya efek Ramadhan dan Lebaran, serta berkurangnya dampak frontloading fiskal,” ujar Novani.
Dari sisi global, tekanan mulai terasa melalui pelemahan ekspor, peningkatan impor, serta kontraksi sektor pertambangan akibat turunnya harga komoditas dunia.
Ke depan, Bank Indonesia diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen sepanjang 2026, seiring inflasi yang relatif stabil dan pertumbuhan ekonomi yang masih terjaga.
Namun risiko tetap membayangi apabila tekanan terhadap Rupiah berlanjut dan harga minyak global tetap tinggi, yang berpotensi mendorong kebijakan moneter lebih ketat.
“Pasar akan mencermati sejumlah katalis utama ke depan, termasuk hasil Market Accessibility Review MSCI pada Juni 2026 serta konsistensi kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah,” ujar Novani.
Pada perdagangan Rabu sore, menjelang sesi penutupan, IHSG tercatat menguat 0,20 persen atau naik 21,11 poin ke level 7.078,22.
Di saat yang sama, nilai tukar Rupiah juga menguat 0,21 persen atau naik 36,50 poin di kisaran Rp17.387 per dolar AS.
Meski demikian, investor asing masih membukukan aksi jual bersih sebesar Rp518,39 miliar pada perdagangan sebelumnya, menandakan kepercayaan yang belum sepenuhnya pulih.***