Indonesia berada di ambang kehilangan salah satu keajaiban alam terbesarnya untuk selamanya. Para ilmuwan merilis peringatan dini yang mengerikan: lapisan es abadi yang bertengger di kawasan Puncak Jaya, Papua, diperkirakan akan punah total paling lambat pada tahun 2027. Pemanasan global yang dipicu perubahan iklim dan hantaman fenomena cuaca El Niño menjadi algojo utama di balik mencairnya benteng es tropis ini.
Sebagai gunung tertinggi di Asia Tenggara, Puncak Jaya selama ini menjadi benteng pertahanan bagi gletser tropis terakhir di benua Asia. Namun, status legendaris tersebut kini nyaris runtuh.
Data pemantauan satelit dan lapangan menunjukkan kenyataan pahit bahwa kawasan tersebut telah kehilangan sekitar 97 persen lapisan esnya dalam 44 tahun terakhir. Dari enam gletser megah yang pernah menyelimuti puncak Papua, kini hanya tersisa dua pertahanan terakhir, yaitu Gletser Carstensz dan East Northwall Firn. Keduanya diprediksi mustahil bertahan hingga akhir dekade ini.
El Niño 2026: Akselerator Kematian Gletser Tropis
Peneliti iklim dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Donaldi Permana, mengungkapkan bahwa lonjakan suhu global telah mengacaukan siklus alam di Puncak Jaya. Ketika suhu memanas, batas ketinggian pembentukan salju ikut bergeser naik. Akibatnya, presipitasi yang seharusnya turun menyelimuti puncak dalam bentuk salju segar justru berubah menjadi guyuran air hujan.
“Pemanasan menyebabkan lebih banyak presipitasi turun sebagai hujan daripada salju. Air hujan ini bertindak seperti air panas yang mempercepat pencairan lapisan es yang sudah ada,” jelas Permana, dikutip dari Colombia Climate School, Rabu (27/5/2026).
Melalui sampel inti es (ice core) sepanjang 32 meter yang dibor dari bumi Papua, tim peneliti menemukan fakta bahwa laju kematian gletser melesat hingga lima kali lipat setiap kali El Niño datang menyerang. Pada El Niño periode 2015–2016, penipisan vertikal es melonjak drastis dari 1 meter per tahun menjadi 5,3 meter per tahun.
Secara kronologis, penyusutan ini laksana sebuah tragedi yang kasat mata:
-
Tahun 1850: Luas gletser mencapai 19,3 kilometer persegi (setara 3.500 lapangan sepak bola).
-
Periode 2022–2024: Es menyusut drastis hingga tersisa 0,16 – 0,23 kilometer persegi saja (hanya setara 40 lapangan sepak bola).
“Dengan meningkatnya kemungkinan kembalinya fenomena El Niño kuat pada paruh kedua tahun 2026 ini, kepunahan total gletser Indonesia kemungkinan besar akan terkunci di tahun 2026 hingga 2027,” cetus Permana memperingatkan.
Sirnanya Identitas Spiritual dan Warisan Budaya Papua
Kehilangan gletser ini bukan sekadar hilangnya tumpukan es dingin bagi sains, melainkan sebuah duka kebudayaan yang mendalam. Bagi masyarakat adat Papua, puncak gunung yang berselimut salju putih dianggap sebagai kawasan sakral dengan nilai spiritual tertinggi. Gletser diyakini sebagai tempat suci bersemayamnya roh para leluhur sekaligus pilar identitas mereka.
Wewin Wira Cornelis Wahid, peneliti keberlanjutan asal Indonesia, menegaskan kepada GlacierHub bahwa cairnya es ini adalah pengikisan paksa terhadap akar sejarah lokal. “Salju abadi bukan sekadar bentang alam eksotis, melainkan bagian dari tubuh spiritual masyarakat adat. Hilangnya es ini mencerminkan runtuhnya warisan budaya Papua,” ratapnya.
Sementara itu, Mike Kaplan, geolog dari Lamont-Doherty Earth Observatory, menganalogikan gletser tropis Indonesia sebagai “alarm peringatan dini” bagi kehancuran iklim bumi. Kaplan memperingatkan, bahkan jika seluruh umat manusia menghentikan emisi gas rumah kaca detik ini juga, bumi tetap membutuhkan waktu lama untuk mendingin. Bagi gletser Papua yang kian sekarat, waktu tampaknya sudah habis.