JAKARTA – Proses transfer kapal induk ITS Giuseppe Garibaldi dari Italia ke Indonesia memasuki tahap persiapan pengiriman. Di tengah dinamika keamanan jalur pelayaran internasional, TNI Angkatan Laut mulai mempercepat penyiapan personel pengawak dan fasilitas pangkalan sebagai bagian dari rencana integrasi kapal induk tersebut ke dalam kekuatan pertahanan nasional.
Perkembangan ini menjadi sinyal bahwa proyek akuisisi salah satu kapal perang terbesar yang pernah dimiliki Indonesia bergerak menuju fase implementasi. Kehadiran Garibaldi dipandang tidak sekadar sebagai penambahan alutsista, tetapi juga sebagai langkah transformasi kemampuan operasi maritim TNI AL ke level yang lebih tinggi.
Kepala Biro Informasi Pertahanan Kementerian Pertahanan Brigadir Jenderal TNI Rico Ricardo Sirait memastikan proses pengiriman kapal saat ini masih berlangsung. “Sedang berjalan dan sudah dalam proses tahapan untuk persiapan pengiriman ke Indonesia,” kata Rico.
Menurutnya, pemerintah berharap kapal tersebut dapat tiba di Indonesia dalam tahun ini. Namun, sejumlah faktor eksternal masih berpotensi memengaruhi jadwal pelayaran, terutama kondisi keamanan di jalur laut internasional yang akan dilalui.
Selat Hormuz Jadi Faktor Penentu
Salah satu perhatian utama dalam proses pengiriman adalah situasi di kawasan Selat Hormuz, yang selama beberapa tahun terakhir menjadi salah satu titik paling sensitif dalam percaturan geopolitik global.
Jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab itu merupakan rute strategis bagi lalu lintas perdagangan dan distribusi logistik internasional, termasuk pergerakan aset-aset militer.
Rico mengakui perkembangan situasi keamanan di kawasan tersebut dapat berdampak terhadap jadwal pengiriman kapal ke Indonesia.
“Dengan kondisi Selat Hormuz, yang konflik juga di sana ya, jadi mungkin ada keterbatasan distribusi, waktu pengiriman, dan sebagainya,” ujarnya.
Bagi kalangan pertahanan, faktor keamanan rute pelayaran menjadi aspek krusial karena perpindahan kapal perang berukuran besar memerlukan pengaturan logistik, pengawalan, serta perencanaan lintasan yang matang.
TNI AL bersiap menyambut Era Kapal Induk
Di balik proses pengiriman yang masih berjalan, TNI AL telah mulai mempersiapkan sumber daya manusia yang akan mengoperasikan Garibaldi.
Langkah tersebut menjadi bagian penting dalam proses transfer kemampuan atau capability transfer. Pengoperasian kapal induk membutuhkan personel dengan kualifikasi khusus, mulai dari awak navigasi, teknisi mesin, operator sistem tempur, hingga kru penerbangan yang akan mendukung operasi helikopter dari geladak kapal.
Selain menyiapkan awak, TNI AL juga tengah mempersiapkan pangkalan yang akan menjadi home base kapal tersebut setelah tiba di Indonesia.
Persiapan infrastruktur dinilai menjadi tantangan tersendiri karena Garibaldi memiliki dimensi dan kebutuhan dukungan logistik yang jauh lebih besar dibanding kapal-kapal kombatan yang saat ini beroperasi di armada TNI AL.
Hibah, Tetapi Butuh Investasi Besar
Garibaldi diperoleh Indonesia melalui skema hibah dari Pemerintah Italia setelah mendapat persetujuan Senat Italia pada Maret lalu.
Meski statusnya hibah, Indonesia tetap harus mengeluarkan investasi signifikan untuk memastikan kapal dapat beroperasi secara optimal dalam jangka panjang.
Pemerintah sebelumnya menyetujui anggaran sebesar 450 juta dolar Amerika Serikat untuk kebutuhan akuisisi dan penyesuaian kapal. Selain itu, disiapkan pula 250 juta dolar AS untuk pengadaan helikopter angkut dan 300 juta dolar AS untuk helikopter utilitas yang akan mendukung operasi dari atas kapal.
Investasi tersebut mencerminkan bahwa nilai utama Garibaldi tidak hanya berada pada platform kapal, tetapi juga pada kemampuan udara yang menjadi inti konsep operasional kapal induk.
Perkuat Kemampuan Proyeksi Kekuatan Maritim
Masuknya Garibaldi ke jajaran alutsista nasional diperkirakan akan memberikan dimensi baru bagi kekuatan laut Indonesia.
Selama ini, operasi maritim TNI AL bertumpu pada kapal perang permukaan, kapal selam, dan unsur udara yang berbasis di darat. Kehadiran kapal induk akan memungkinkan pengerahan unsur udara secara lebih fleksibel di wilayah operasi yang jauh dari pangkalan utama.
Dalam perspektif militer, kemampuan tersebut dikenal sebagai *sea-based air capability*, yakni kemampuan menghadirkan dukungan udara dari laut tanpa bergantung sepenuhnya pada landasan pacu di daratan.
Kemampuan itu dinilai penting bagi Indonesia sebagai negara kepulauan dengan wilayah laut yang sangat luas serta memiliki sejumlah kawasan strategis yang berada jauh dari pusat-pusat kekuatan militer.