JAKARTA – Sistem layanan kesehatan Palestina menghadapi tekanan berat setelah krisis obat-obatan semakin memburuk akibat penahanan dana kliring atau maqasa oleh Israel yang berlangsung berkepanjangan.
Kementerian Kesehatan Palestina memperingatkan kondisi tersebut kini mengancam keselamatan ribuan pasien yang bergantung pada pengobatan rutin, termasuk pasien kanker, penderita penyakit kronis, hingga pasien gagal ginjal yang membutuhkan layanan cuci darah secara berkelanjutan.
Krisis kesehatan ini muncul di tengah semakin menipisnya persediaan obat esensial dan perlengkapan medis di berbagai fasilitas kesehatan pemerintah, sehingga kemampuan rumah sakit untuk memberikan layanan optimal terus menurun.
Menurut otoritas kesehatan Palestina, lebih dari 4.000 pasien kanker menjadi kelompok yang paling rentan terdampak akibat keterbatasan akses terhadap terapi dan obat-obatan yang dibutuhkan untuk melanjutkan pengobatan mereka.
Penyebab utama krisis tersebut adalah tertahannya dana kliring Palestina yang selama ini menjadi salah satu sumber pendapatan terbesar pemerintah.
Dana kliring atau maqasa merupakan pendapatan pajak atas barang-barang yang masuk ke wilayah Palestina yang dipungut oleh Israel atas nama Otoritas Palestina.
Sejak 2019, Israel mulai melakukan pemotongan terhadap sebagian dana tersebut dan dalam lebih dari setahun terakhir tidak lagi menyalurkan dana yang menjadi hak Palestina.
Akibat kebijakan itu, nilai dana yang belum disalurkan disebut telah melampaui 5 miliar dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp90,4 triliun.
Kementerian Kesehatan Palestina menyebut dampaknya kini semakin terasa di sektor kesehatan karena pemerintah mengalami kesulitan memenuhi kewajiban pembayaran kepada perusahaan farmasi dan pemasok alat kesehatan.
Kondisi tersebut memperlambat proses pengadaan obat dan perlengkapan medis yang dibutuhkan rumah sakit serta pusat layanan kesehatan di berbagai wilayah Palestina.
Data terbaru menunjukkan lebih dari 726 jenis obat dan bahan medis habis pakai telah habis dari gudang pusat penyimpanan nasional.
Selain itu, stok berbagai obat penting yang digunakan untuk menangani kondisi darurat dan penyakit berat juga mengalami penurunan drastis.
Kementerian mencatat sebanyak 180 obat esensial dari total 520 jenis yang biasa tersedia saat ini sudah tidak lagi memiliki stok.
Situasi yang sama terjadi pada pengobatan kanker, di mana 50 jenis obat dari 97 kategori terapi kanker dilaporkan telah habis.
Kekurangan tidak hanya terjadi pada obat-obatan, tetapi juga pada kebutuhan penunjang layanan kesehatan lainnya.
Sebanyak 79 jenis bahan laboratorium dilaporkan tidak tersedia sehingga menghambat proses pemeriksaan dan diagnosis pasien.
Di saat bersamaan, 265 jenis perlengkapan medis khusus juga mengalami kekosongan yang berdampak langsung terhadap tindakan medis dan pembedahan.
Kementerian Kesehatan Palestina menegaskan bahwa penahanan dana selama kurang lebih 15 bulan menjadi faktor utama yang mempercepat terjadinya krisis kesehatan nasional tersebut.
Pendapatan kliring diketahui menyumbang sekitar 68 persen dari total pemasukan pemerintah Palestina sehingga penghentian aliran dana tersebut menciptakan tekanan fiskal yang sangat besar.
Dampak paling nyata terlihat pada pelayanan rumah sakit pemerintah yang kini mengalami keterbatasan operasional akibat minimnya pasokan obat dan perlengkapan medis.
Lebih dari 11.000 operasi dilaporkan terpaksa ditunda karena rumah sakit tidak memiliki sumber daya yang cukup untuk menjalankan prosedur medis sesuai kebutuhan pasien.
Penundaan ribuan operasi tersebut dikhawatirkan dapat memperburuk kondisi kesehatan masyarakat dan meningkatkan risiko komplikasi bagi pasien yang membutuhkan penanganan segera.
Menghadapi situasi yang semakin kritis, Kementerian Kesehatan Palestina meminta dukungan cepat dari komunitas internasional untuk membantu menjaga keberlangsungan layanan kesehatan.
Permohonan bantuan juga disampaikan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan berbagai organisasi kemanusiaan internasional agar segera mengirimkan obat-obatan serta perlengkapan medis darurat.
Palestina memperkirakan kebutuhan mendesak untuk menutup kekurangan pasokan kesehatan saat ini mencapai sekitar 50 juta dolar Amerika Serikat atau setara Rp904,7 miliar.
Otoritas kesehatan menilai bantuan internasional menjadi langkah penting untuk mencegah krisis kemanusiaan yang lebih luas, terutama bagi ribuan pasien yang saat ini bergantung pada ketersediaan obat penyelamat nyawa.***