JAKARTA – Dinamika politik nasional menuju Pemilihan Presiden 2029 mulai menunjukkan arah yang semakin jelas setelah hasil survei terbaru Adidaya Institute memetakan kekuatan tokoh dan partai politik yang berpotensi menjadi pemain utama dalam kontestasi mendatang.
Meski masa pemilu masih beberapa tahun lagi, nama Presiden Prabowo Subianto masih menjadi figur paling dominan dalam persepsi publik, baik dari sisi tingkat pengenalan maupun dukungan elektoral yang berhasil dihimpun.
Temuan survei tersebut mengindikasikan bahwa tingkat kepercayaan masyarakat terhadap kepemimpinan Prabowo masih menjadi faktor utama yang menjaga posisinya tetap berada di puncak persaingan politik nasional.
Dalam pengukuran popularitas tokoh nasional, Prabowo mencatat angka tertinggi dengan tingkat keterkenalan mencapai 96,6 persen di kalangan responden.
Posisi berikutnya ditempati Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang memperoleh tingkat popularitas sebesar 92,7 persen.
Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan berada di urutan selanjutnya dengan angka 91,5 persen.
Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi berhasil menembus jajaran elite politik nasional dengan tingkat popularitas mencapai 90,4 persen.
Nama mantan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo juga masih masuk dalam kelompok tokoh dengan tingkat pengenalan yang tinggi di tengah masyarakat.
Prabowo Masih Menjadi Pilihan Utama Pemilih
Dominasi Prabowo tidak hanya terlihat dari sisi popularitas, tetapi juga tercermin dalam simulasi pemilihan presiden yang dilakukan lembaga survei tersebut.
Dalam simulasi tersebut, Prabowo memperoleh elektabilitas sebesar 32,6 persen atau unggul cukup jauh dibandingkan para pesaingnya.
Dedi Mulyadi muncul sebagai tokoh yang berhasil menempati posisi kedua dengan dukungan sebesar 14,2 persen.
Sementara Anies Baswedan berada di posisi berikutnya dengan elektabilitas mencapai 10,7 persen.
Menurut Direktur Adidaya Institute Ahmad Fadhli , kondisi ini menunjukkan bahwa Dedi Mulyadi mulai diperhitungkan sebagai salah satu figur yang berpotensi mengubah konfigurasi politik nasional menjelang Pilpres 2029.
“Kita tidak bisa menolak kenyataan ini. Dalam situasi yang mungkin tidak menguntungkan ini, Prabowo Subianto justru masih menjadi Calon Presiden terkuat dengan popularitas dan elektabilitas tertinggi.”
“Ini tentu karena kepercayaan rakyat kepada Presiden Prabowo,” ungkap Ahmad Fadhli.
Dedi Mulyadi Pimpin Bursa Calon Wakil Presiden
Persaingan menjadi lebih menarik ketika simulasi diarahkan pada posisi calon wakil presiden.
Dalam skenario tersebut, Dedi Mulyadi justru tampil sebagai figur dengan tingkat keterpilihan paling tinggi.
Politikus yang saat ini menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat itu mengumpulkan elektabilitas sebesar 23,9 persen.
Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY menyusul di posisi kedua dengan raihan 13,8 persen.
Adapun Gibran Rakabuming Raka berada sangat dekat dengan perolehan 13,7 persen.
Hasil ini memperlihatkan bahwa peta persaingan calon wakil presiden masih sangat terbuka dan berpotensi menghadirkan kejutan politik.
“Dengan elektabilitas yang cukup besar, KDM dan AHY bisa menjadi kuda hitam dalam opsi pencalonan Cawapres di Pilpres mendatang. Ini harus jadi early warning bagi mas Gibran,” ucap Fadhli.
Efek Prabowo Dongkrak Elektabilitas Gerindra
Selain mengukur kekuatan tokoh, survei juga memotret dukungan publik terhadap partai politik jika pemilihan legislatif digelar saat ini.
Partai Gerindra tampil sebagai partai dengan tingkat elektabilitas tertinggi dengan perolehan 30,5 persen.
Posisi kedua ditempati PDIP yang meraih dukungan sebesar 11,5 persen.
Sementara Partai Keadilan Sejahtera (PKS) berada di urutan ketiga dengan angka 9,1 persen.
Kesenjangan yang cukup lebar antara Gerindra dan partai-partai lain menunjukkan kuatnya efek elektoral dari figur Prabowo terhadap partai yang dipimpinnya.
Menurut hasil pembacaan survei, keberhasilan berbagai program pemerintah turut berkontribusi terhadap meningkatnya persepsi positif masyarakat terhadap Gerindra.
“Saya kira raihan elektabilitas Gerindra memang tidak dapat dipisahkan dengan elektabilitas Prabowo Subianto.”
“Karena dalam pandangan masyarakat, keberhasilan pemerintahan Prabowo tentu merupakan bagian dari keberhasilan Gerindra.”
Di level bawah (akar rumput), kader dan kekuatan partai Gerindra menjadi penopang pelaksanaan program-program pemerintahan Presiden Prabowo,” tutur Fadhli.
Peta Awal 2029 Mulai Terbentuk
Hasil survei Adidaya Institute memperlihatkan bahwa Prabowo Subianto masih menjadi poros utama politik nasional menjelang Pemilu 2029.
Namun demikian, kemunculan Dedi Mulyadi sebagai figur dengan tren elektabilitas yang terus meningkat menjadi sinyal bahwa persaingan politik mendatang berpotensi lebih kompetitif dibandingkan yang diperkirakan sebelumnya.
Jika tren tersebut bertahan dalam beberapa tahun ke depan, Dedi berpeluang menjadi salah satu penantang terkuat yang dapat mengubah peta pertarungan menuju Pilpres 2029.***