JAKARTA – Amerika Serikat dan Iran resmi menandatangani nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) yang menjadi dasar penghentian konflik antara kedua negara selama 60 hari ke depan. Kesepakatan yang diteken di Istana Versailles, Prancis, itu disebut sebagai terobosan diplomatik terbesar dalam konflik Washington-Teheran dalam beberapa tahun terakhir.
- Isi kesepakatan damai sementara AS-Iran?
- 1. Gencatan Senjata Diperpanjang 60 Hari
- 2. Seluruh Operasi Militer Dihentikan
- 3. Selat Hormuz Dibuka Kembali
- 4. Pengamanan Jalur Energi Dunia
- 5. Iran Kembali Tegaskan Tidak Mengembangkan Senjata Nuklir
- 6. Sanksi Ekonomi AS Dicabut Bertahap
- 7. Paket Rekonstruksi Senilai Rp4.900 Triliun
- Menuju Perjanjian Damai Permanen
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa dokumen tersebut telah ditandatangani dan mulai berlaku sebagai landasan menuju perjanjian damai permanen.
“Sudah diteken,” kata Trump kepada wartawan usai menghadiri jamuan makan malam bersama Presiden Prancis Emmanuel Macron di Versailles.
Pemerintah Iran juga mengonfirmasi bahwa kedua negara telah menyelesaikan teks nota kesepahaman yang menjadi dasar perpanjangan gencatan senjata sekaligus penghentian eskalasi konflik yang selama ini mengguncang kawasan Timur Tengah.
Isi kesepakatan damai sementara AS-Iran?
1. Gencatan Senjata Diperpanjang 60 Hari
Kesepakatan pertama adalah perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari. Dalam periode tersebut, kedua negara sepakat menghentikan seluruh tindakan yang dapat memicu eskalasi konflik baru sambil melanjutkan negosiasi menuju perjanjian permanen.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei mengatakan bahwa teks kesepakatan telah disetujui oleh kedua pemimpin negara.
“Kami telah menyelesaikan teks Nota Kesepahaman Islamabad dengan tanda tangan para presiden. Kini saatnya menguji implementasi kesepakatan tersebut,” ujarnya.
2. Seluruh Operasi Militer Dihentikan
Salah satu poin paling signifikan dalam MoU tersebut adalah penghentian seluruh operasi militer yang berkaitan dengan konflik AS-Iran.
Dokumen kesepakatan menyebutkan bahwa Amerika Serikat, Iran, serta sekutu masing-masing akan menghentikan operasi tempur di seluruh wilayah konflik.
“AS, Iran, dan sekutu masing-masing menyatakan penghentian segera dan permanen seluruh operasi militer di semua front, termasuk di Lebanon.”
Ketentuan ini mencakup operasi darat, laut, dan udara yang selama berbulan-bulan terakhir menjadi sumber ketegangan di kawasan Timur Tengah.
3. Selat Hormuz Dibuka Kembali
Poin yang paling mendapat perhatian dunia adalah pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak global.
Iran berkomitmen membuka kembali jalur pelayaran tersebut dan menjamin keamanan kapal-kapal komersial yang melintas selama masa gencatan senjata.
“Iran akan berupaya semaksimal mungkin untuk menjamin pelayaran aman kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz selama 60 hari tanpa mengenakan biaya.”
Sebagai bagian dari kesepakatan, Amerika Serikat juga akan mulai mengakhiri blokade angkatan laut yang diterapkan selama konflik berlangsung.
4. Pengamanan Jalur Energi Dunia
Selain pembukaan Selat Hormuz, kedua pihak sepakat memulihkan aktivitas pelayaran secara bertahap hingga kembali ke tingkat sebelum perang.
Proses tersebut akan mencakup pembersihan ranjau laut, penghapusan hambatan militer, serta normalisasi jalur perdagangan internasional yang selama ini terganggu akibat konflik.
Langkah ini dinilai penting untuk menstabilkan pasokan energi dunia dan meredam gejolak harga minyak global.
5. Iran Kembali Tegaskan Tidak Mengembangkan Senjata Nuklir
Program nuklir Iran menjadi salah satu isu utama yang dimasukkan dalam kesepakatan.
Dalam dokumen yang dibacakan pejabat senior AS, Teheran kembali menegaskan komitmennya untuk tidak mengembangkan senjata nuklir.
“Republik Islam Iran menegaskan kembali bahwa mereka tidak akan memperoleh ataupun mengembangkan senjata nuklir.”
Iran juga disebut akan menurunkan tingkat pengayaan uranium tertentu di bawah pengawasan Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
Meski demikian, rincian teknis mengenai pengelolaan stok uranium yang telah ada masih akan dibahas dalam perundingan lanjutan.
6. Sanksi Ekonomi AS Dicabut Bertahap
Sebagai imbalan atas berbagai komitmen Iran, Amerika Serikat sepakat memulai proses pencabutan sejumlah sanksi ekonomi.
Pengecualian akan diberikan terhadap ekspor minyak mentah Iran, produk turunannya, layanan perbankan, sektor asuransi, hingga transportasi internasional.
Selain itu, akses terhadap aset dan dana Iran yang selama ini dibekukan di luar negeri akan mulai dibuka secara bertahap sesuai perkembangan implementasi kesepakatan.
Langkah ini berpotensi menjadi stimulus besar bagi pemulihan ekonomi Iran yang selama bertahun-tahun tertekan akibat sanksi internasional.
7. Paket Rekonstruksi Senilai Rp4.900 Triliun
Kesepakatan tersebut juga memuat rencana kerja sama ekonomi jangka panjang.
Amerika Serikat bersama negara-negara mitra disebut akan menyusun program pembangunan dan rekonstruksi ekonomi Iran dengan nilai minimal US$300 miliar atau sekitar Rp4.900 triliun.
Dana tersebut dirancang untuk mendukung pemulihan infrastruktur, sektor energi, industri, dan aktivitas perdagangan pascakonflik.
Menuju Perjanjian Damai Permanen
Meski menjadi langkah besar dalam hubungan kedua negara, nota kesepahaman yang diteken di Versailles masih berstatus kesepakatan sementara.
Selama 60 hari ke depan, Washington dan Teheran akan melanjutkan negosiasi guna menyusun perjanjian damai permanen yang ditargetkan memperoleh legitimasi internasional melalui resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB).
Kedua negara juga akan membentuk mekanisme pengawasan bersama untuk memastikan seluruh poin kesepakatan berjalan sesuai komitmen.
Jika seluruh tahapan berhasil dilaksanakan, perjanjian Versailles berpotensi mengubah peta geopolitik Timur Tengah, mengurangi risiko konflik kawasan, sekaligus membawa dampak signifikan terhadap stabilitas energi dan perekonomian global.