JAKARTA – Perkembangan ruang digital dinilai membawa perubahan mendasar dalam cara manusia membentuk keinginan, memaknai pencapaian, hingga menentukan prioritas hidup. Arus informasi yang cepat dan berlimpah membuat berbagai standar baru terus bermunculan dan mudah diakses oleh masyarakat.
Pengamat Komunikasi Digital dari Laju Institute, Mandra Pradipta atau Dipta, menilai kondisi ini menciptakan situasi ketika manusia berada dalam posisi yang terus-menerus berhadapan dengan hal-hal baru yang tampak menarik untuk dikejar.
Ia menyebut, persoalan utama di era digital bukan sekadar banyaknya pilihan, melainkan kemampuan individu dalam memahami dan mengelola dorongan keinginan tersebut agar tidak kehilangan arah.
“Kita hidup di masa ketika hampir selalu ada sesuatu yang baru untuk diinginkan. Persoalannya bukan terletak pada banyaknya keinginan, melainkan pada apakah kita masih memiliki ruang untuk memahami keinginan tersebut,” kata Dipta.
Dipta menjelaskan bahwa ruang digital mempercepat proses seseorang dalam melihat pencapaian orang lain. Berbagai bentuk kesuksesan, mulai dari karier, gaya hidup, hingga simbol status sosial, tampil secara intens di berbagai platform digital.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat proses perbandingan sosial berlangsung lebih cepat dan lebih sering, sehingga seseorang dapat tanpa sadar menjadikan standar orang lain sebagai acuan hidupnya.
Dalam situasi ini, batas antara kebutuhan dan keinginan menjadi semakin kabur. Tanpa kesadaran yang kuat, seseorang berpotensi terdorong mengikuti apa yang sedang dianggap ideal oleh lingkungan digitalnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa hasrat tetap merupakan bagian alami dari kehidupan manusia. Yang menjadi perhatian adalah arah dari hasrat tersebut agar tidak sepenuhnya dikendalikan oleh tren atau tekanan sosial.
“Hasrat tidak selalu menjadi masalah. Yang perlu dijaga adalah jangan sampai kita terus bergerak mengikuti apa yang diinginkan orang lain, tetapi semakin jauh dari apa yang benar-benar bernilai bagi diri kita sendiri,” ujarnya.
Dipta juga menyoroti fenomena kelelahan yang kerap dirasakan masyarakat di era digital. Menurutnya, kelelahan tersebut tidak selalu berasal dari aktivitas yang padat, melainkan dari dorongan untuk terus mengejar hal-hal yang belum tentu benar-benar dibutuhkan.
Ia menilai, situasi ini berkaitan erat dengan budaya digital yang serba cepat, di mana individu merasa perlu terus mengikuti perkembangan agar tidak tertinggal.
“Tidak sedikit orang yang merasa lelah bukan karena terlalu banyak bekerja, melainkan karena terlalu banyak mengejar hal-hal yang belum tentu benar-benar ia butuhkan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Dipta menekankan bahwa mengelola hasrat bukan berarti menekan ambisi atau mengurangi cita-cita. Sebaliknya, hal tersebut berkaitan dengan kemampuan untuk memilah mana yang benar-benar penting dan mana yang hanya muncul sebagai dorongan sesaat.
Di tengah kemajuan teknologi yang membuka semakin banyak peluang, kemampuan menentukan prioritas menjadi semakin penting agar individu tidak terjebak dalam siklus keinginan tanpa batas.
Ia menambahkan bahwa kualitas hidup tidak hanya ditentukan oleh apa yang berhasil dimiliki, tetapi juga oleh kemampuan seseorang dalam memahami batas kecukupan dan nilai yang benar-benar relevan dalam hidupnya.
“Pada akhirnya, kualitas hidup tidak hanya ditentukan oleh banyaknya hal yang berhasil kita miliki. Ada kalanya, kedewasaan tidak diukur dari seberapa banyak yang berhasil diraih, melainkan dari kemampuan memahami apa yang cukup, apa yang bernilai, dan apa yang tidak perlu terus dikejar,” pungkasnya.