JAKARTA – Piala Dunia 2026 kembali memunculkan perdebatan terkait aturan baru FIFA yang mulai diterapkan secara tegas soal pemain yang menutupi mulut saat berbicara kepada lawan di lapangan.
Peraturan baru tersebut menjadi sorotan dunia setelah gelandang Paraguay, Miguel Almiron, tercatat sebagai pemain pertama yang menerima kartu merah akibat melanggar ketentuan tersebut dalam laga melawan Turki pada 19 Juni 2026.
Keputusan wasit yang mengusir Almiron menjelang turun minum langsung memicu beragam reaksi dari penggemar sepak bola internasional, namun dukungan justru datang dari gelandang tim nasional Australia, Jackson Irvine.
FIFA Perketat Pengawasan Komunikasi di Lapangan
Menjelang penyelenggaraan Piala Dunia 2026, FIFA mengajukan aturan yang mengategorikan tindakan menutupi mulut saat berbicara dalam situasi konfrontatif sebagai pelanggaran serius.
Usulan tersebut kemudian mendapat persetujuan bulat dari International Football Association Board (IFAB) pada April 2026.
Melalui regulasi baru ini, pemain yang sengaja menutupi mulut ketika berbicara kepada lawan dapat dikenakan hukuman kartu merah secara langsung.
FIFA menilai kebijakan tersebut diperlukan untuk meningkatkan transparansi komunikasi di lapangan sekaligus mencegah tindakan diskriminatif maupun penghinaan verbal yang sulit terdeteksi.
Jackson Irvine Beri Dukungan Terbuka
Sehari setelah insiden yang menimpa Almiron, Jackson Irvine dimintai tanggapan mengenai aturan yang tengah menjadi perdebatan tersebut.
Alih-alih mengkritik kebijakan FIFA, pemain Australia itu justru menyatakan dukungannya terhadap penerapan aturan baru tersebut.
“Aturannya sebenarnya cukup jelas dan seluruh pemain sudah diberi penjelasan sebelumnya,” kata Irvine dikutip dari Newsweek, Senin.
Menurutnya, meski publik belum mengetahui secara pasti isi percakapan yang terjadi dalam insiden Almiron, aturan tersebut dapat menghilangkan ruang abu-abu yang selama ini kerap memicu kontroversi.
“Jika seseorang mengatakan sesuatu yang tidak ingin terlihat atau diketahui orang lain, maka mungkin memang hal itu seharusnya tidak diucapkan,” ujar Irvine.
Publik Nilai Sikap Irvine Tegas dan Berani
Pernyataan Irvine segera menyebar luas di media sosial dan mendapat respons positif dari banyak kalangan.
Banyak penggemar menilai komentarnya mencerminkan dukungan terhadap upaya menciptakan lingkungan sepak bola yang lebih inklusif, aman, dan bebas diskriminasi.
Sejumlah akun sepak bola internasional bahkan menyebut jawaban Irvine sebagai contoh sikap atlet profesional yang mampu memberikan pandangan jelas terhadap isu sensitif tanpa menimbulkan polemik baru.
Berawal dari Kasus Vinicius Junior
Latar belakang lahirnya aturan tersebut tidak terlepas dari insiden yang melibatkan bintang Brasil, Vinicius Junior, dalam pertandingan Liga Champions Eropa pada Februari 2026.
Saat itu, pemain Benfica, Gianluca Prestianni, terlihat berbicara kepada Vinicius sambil menutupi mulut menggunakan jersey.
Vinicius kemudian menuduh lawannya melontarkan kata-kata bernada penghinaan dan diskriminatif.
Setelah melakukan penyelidikan, UEFA menjatuhkan sanksi larangan bermain enam pertandingan kepada Prestianni.
Tak lama berselang, FIFA mengumumkan rencana penerapan langkah khusus untuk mencegah praktik serupa terjadi selama Piala Dunia 2026.
Aturan Baru Masih Menuai Perdebatan
Meski mendapat dukungan dari sejumlah pemain dan pemerhati sepak bola, aturan tersebut masih menjadi bahan diskusi di kalangan penggemar.
Sebagian pihak menilai kebijakan itu dapat membantu memberantas ujaran kebencian di lapangan.
Namun tidak sedikit pula yang menganggap penerapannya berpotensi menimbulkan interpretasi berbeda karena sulit mengetahui isi percakapan yang sebenarnya terjadi.
Terlepas dari perdebatan yang muncul, FIFA tampaknya tetap berkomitmen menjalankan regulasi tersebut sebagai bagian dari kampanye menciptakan sepak bola yang lebih transparan dan menghormati semua pihak.***