JAKARTA – Piala Dunia 2026 kembali menghadirkan peristiwa yang memicu perdebatan setelah FIFA memutuskan menghapus jeda hidrasi pada babak kedua pertandingan Prancis melawan Irak yang terganggu cuaca ekstrem di Philadelphia.
Keputusan tersebut menjadi sorotan karena FIFA sebelumnya telah menetapkan aturan baru berupa jeda hidrasi selama tiga menit di setiap babak pertandingan sepanjang turnamen guna mengantisipasi suhu tinggi yang diperkirakan melanda Amerika Utara selama penyelenggaraan Piala Dunia.
Aturan tersebut mulai diberlakukan sejak turnamen bergulir dan dirancang untuk menjaga kondisi fisik pemain sekaligus memberikan kesempatan tambahan bagi tim pelatih dalam mengatur strategi di tengah pertandingan.
Hujan Lebat dan Petir Paksa Laga Terhenti
Pertandingan yang berlangsung di Lincoln Financial Field mendadak terganggu menjelang berakhirnya babak pertama ketika hujan deras disertai ancaman petir menghampiri kawasan stadion.
Demi alasan keselamatan, penyelenggara meminta penonton meninggalkan area tempat duduk terbuka saat jeda pertandingan berlangsung.
Awalnya FIFA hanya mengumumkan penundaan kick-off babak kedua selama sekitar 15 menit.
Namun kondisi cuaca yang tidak kunjung membaik membuat pertandingan harus dihentikan lebih lama hingga lebih dari dua jam sebelum akhirnya dapat dilanjutkan kembali.
Saat pertandingan dihentikan, Prancis memimpin 1-0 berkat gol cepat Kylian Mbappe pada menit ke-14.
FIFA Hapus Jeda Hidrasi Babak Kedua
Setelah pertandingan kembali berjalan, FIFA mengambil langkah yang tidak biasa dengan membatalkan jeda hidrasi pada babak kedua.
Juru bicara FIFA hanya memberikan penjelasan singkat terkait keputusan tersebut.
“Tidak ada jeda hidrasi di babak kedua,” kata juru bicara FIFA seperti dikutip The Daily Express.
Langkah itu langsung menarik perhatian karena bertentangan dengan kebijakan awal yang menjadikan jeda hidrasi sebagai bagian wajib dari seluruh pertandingan Piala Dunia 2026.
Jeda Hidrasi Terus Menuai Kontroversi
Sejak diperkenalkan, kebijakan jeda hidrasi tidak hanya dikaitkan dengan faktor kesehatan pemain, tetapi juga memunculkan kritik dari berbagai kalangan.
Sejumlah pengamat menilai jeda tersebut mengganggu ritme alami pertandingan karena laga menjadi terpecah dalam beberapa fase.
Di sisi lain, jeda tersebut juga memberi kesempatan bagi stasiun televisi untuk menayangkan iklan tambahan selama pertandingan berlangsung.
Tidak sedikit penonton yang mulai menunjukkan ketidakpuasan dengan menyuarakan sorakan ketika jeda hidrasi dimulai.
Virgil van Dijk Kritik Kebijakan FIFA
Kapten Belanda Virgil van Dijk menjadi salah satu pemain yang secara terbuka mempertanyakan efektivitas aturan tersebut.
Bek tengah berpengalaman itu mengaku kurang menyukai konsep jeda hidrasi yang dianggap terlalu sering menghentikan alur permainan.
“Jeda hidrasi cukup menarik untuk dibahas karena saya menonton hampir semua pertandingan dan setiap kali pertandingan berhenti untuk jeda komersial rasanya kurang ideal,” ujar Van Dijk.
Menurutnya, kebijakan tersebut seharusnya diterapkan secara fleksibel berdasarkan kondisi cuaca di setiap pertandingan.
“Jika cuaca memang sangat panas, tentu itu masuk akal, tetapi menurut saya setiap pertandingan harus dinilai secara terpisah,” tambahnya.
Didier Deschamps Justru Mendukung
Berbeda dengan Van Dijk, pelatih Prancis Didier Deschamps menyambut positif penerapan jeda hidrasi.
Menurutnya, waktu tambahan tersebut memberi kesempatan bagi pelatih untuk melakukan evaluasi singkat dan menyampaikan instruksi penting kepada para pemain.
“Jeda tiga menit memungkinkan pemain berkumpul dengan pelatih sehingga kami bisa melakukan beberapa penyesuaian berdasarkan situasi pertandingan,” kata Deschamps.
Ia juga menilai suhu tinggi yang berpotensi terjadi selama turnamen membuat keberadaan jeda hidrasi menjadi kebutuhan penting bagi para pemain.
Deschamps mengakui bahwa format tersebut mengubah ritme pertandingan karena laga terasa seperti terbagi menjadi empat kuarter, namun ia menegaskan bahwa tim harus mampu beradaptasi dengan regulasi baru yang telah ditetapkan FIFA.
Cuaca Ekstrem Jadi Tantangan Besar Piala Dunia 2026
Insiden dalam laga Prancis kontra Irak menjadi bukti bahwa faktor cuaca berpotensi menjadi tantangan besar selama Piala Dunia 2026 berlangsung.
Selain suhu tinggi yang sudah diprediksi sebelumnya, ancaman badai petir dan hujan deras juga mulai memengaruhi jalannya pertandingan di sejumlah kota tuan rumah.
Keputusan FIFA menghapus jeda hidrasi pada babak kedua setelah penundaan lebih dari dua jam menunjukkan bahwa regulasi turnamen masih dapat disesuaikan berdasarkan situasi darurat di lapangan.***