Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti Saintek) akhirnya angkat bicara demi meluruskan informasi keliru yang telanjur viral di ruang publik. Isu yang menyebutkan ada 60.000 calon mahasiswa baru (camaba) tidak melakukan daftar ulang dipastikan bukan data tahun 2026.
Kementerian yang dipimpin oleh Brian Yuliarto ini menegaskan bahwa angka tersebut merupakan hasil evaluasi total penerimaan mahasiswa baru pada tahun 2025. Adapun proses Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) untuk tahun 2026 saat ini masih berjalan dan belum selesai.
Membongkar Angka 60 Ribu: Tidak Semua Karena “Mundur”
Kemendikti Saintek meminta masyarakat untuk tidak menelan mentah-mentah angka 60.000 tersebut sebagai satu data tunggal peserta yang sengaja mengundurkan diri. Berdasarkan data resmi Panitia SNPMB, angka tersebut sebenarnya terbagi ke dalam dua indikator yang karakteristiknya sangat berbeda jauh:
1. Daya Tampung Tidak Terisi: 42.315 Kursi (6,7%)
Kursi ini sejak awal memang kosong melompong karena tidak ada peserta seleksi yang berhasil memenuhi standar akademik yang ditetapkan oleh PTN tujuan.
Kampus sengaja tidak meluluskan peserta secara asal-asalan hanya demi memenuhi target kuota. Kebijakan ketat ini diambil sebagai komitmen menjaga mutu dan kualitas lulusan pendidikan tinggi agar tetap kompetitif di dunia kerja.
Pada tahun 2025, total daya tampung nasional (SNBP, SNBT, Mandiri) adalah 627.957 kursi, dan yang dinyatakan lolos hanya 585.642 peserta.
2. Lulus tapi Tidak Registrasi Ulang: 17.816 Kursi (2,8%)
Inilah jumlah riil calon mahasiswa yang sudah mendapatkan tiket emas ke PTN, tetapi pada akhirnya memutuskan untuk tidak melanjutkan proses pendaftaran ulang. Secara persentase, mayoritas camaba tahun 2025 sebenarnya sangat patuh, di mana 97,2% (567.826 peserta) sukses melakukan registrasi ulang.
Mengapa Belasan Ribu Camaba Memilih Mundur?
Panitia SNPMB menganalisis ada beberapa faktor krusial yang membuat belasan ribu peserta tersebut melepas status kelulusannya.
Peserta diterima pada program studi yang bukan merupakan pilihan pertamanya, sehingga mereka memilih bertaruh di jalur seleksi lain.
Peserta juga diterima di perguruan tinggi kedinasan atau kampus di bawah kementerian/lembaga lain yang dinilai lebih menjanjikan.
Ada peserta yang mendaftar lewat skema Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah, namun setelah diverifikasi secara ketat demi ketepatan sasaran, mereka dinyatakan tidak memenuhi syarat atau hanya mendapatkan bantuan parsial (sebagian). Pertimbangan biaya hidup mandiri selama kuliah membuat sebagian keluarga memilih mundur.
Menteri Dikti Saintek, Brian Yuliarto, menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara memperluas akses pendidikan dengan mempertahankan mutu akademik.
Sebelumnya, Ketua Umum Tim Penanggung Jawab SNPMB 2026, Eduart Wolok, juga sudah menegaskan hal serupa. Ia meminta netizen menghentikan narasi keliru yang menyebut 60.000 peserta SNBP 2026 mogok daftar ulang. “Itu tidak tepat. Angka 60.000 itu adalah akumulasi seluruh jalur seleksi (SNBP, SNBT, hingga Mandiri) pada tahun 2025 lalu,” pungkasnya.