BANTEN – Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) memastikan akan mengusut tuntas penyebab kebakaran yang melanda Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, Banten. Namun, proses penyelidikan baru dilakukan setelah seluruh titik api berhasil dipadamkan dan lokasi dinyatakan aman untuk investigasi.
Hingga memasuki hari keenam, kebakaran masih menjadi fokus utama pemerintah. Selain memadamkan api yang terus membara di bawah timbunan sampah, petugas juga berupaya menekan penyebaran asap yang berdampak pada kualitas udara di sekitar lokasi.
Deputi Bidang Penegakan Hukum Lingkungan KLH, Irjen Rizal Irawan, mengatakan investigasi belum memungkinkan dilakukan karena kondisi di lapangan masih berbahaya.
“Yang seperti saya bilang kemarin, kita sekarang fokusnya adalah pemadaman dan pencegahan penyebaran. Tidak mungkin juga kita olah TKP di sini untuk cari penyebab (kebakaran),” ujar Rizal di Tangerang, Minggu (5/7/2026).
Menurut Rizal, tim penegakan hukum KLH akan kembali turun ke lokasi setelah proses pemadaman dinyatakan selesai. Penyelidikan tersebut bertujuan mengungkap penyebab pasti kebakaran sekaligus menjadi dasar apabila ditemukan dugaan pelanggaran dalam pengelolaan TPA.
“Nanti upaya-upaya penegakan hukum kita lihat setelah prosesnya selesai. Baru kita akan turun lagi tim ke sini,” katanya.
Pernah Dijatuhi Sanksi
Dalam kesempatan itu, Rizal mengungkapkan bahwa TPA Jatiwaringin sebelumnya telah menjadi perhatian KLH. Pada 2025, pemerintah menjatuhkan sanksi administratif kepada pengelola karena tata kelola persampahan dinilai belum memenuhi ketentuan.
Sebagai tindak lanjut, pemerintah daerah diminta menerapkan sistem controlled landfill atau penimbunan sampah secara terkendali untuk mengurangi risiko pencemaran maupun kebakaran.
Rizal menyebut implementasi sistem tersebut telah berjalan, meski belum mencakup seluruh area TPA yang memiliki luas sekitar 33 hektare.
“Dari tahun lalu dengan sekarang, upaya yang dilakukan oleh pemkab itu sudah melakukan controlled landfill. Ternyata selama setahun dia baru bisa berhasil lima atau enam hektare. Memang kita bisa mengerti bahwa dari total lahan 33 hektare ini enggak mungkin satu tahun, pasti,” jelasnya.
Ia juga mengungkapkan fakta penting bahwa titik kebakaran berada di luar area yang telah menerapkan sistem controlled landfill.
“Nah, yang terbakar ini di area yang di luar controlled landfill,” ungkap Rizal.
Temuan tersebut akan menjadi salah satu bahan yang didalami dalam proses penyelidikan setelah kebakaran berhasil dikendalikan.
Evaluasi 390 TPA
Di tengah penanganan kebakaran, KLH juga menyiapkan evaluasi nasional terhadap sekitar 390 Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di berbagai daerah yang dijadwalkan dimulai pada 1 Agustus 2026.
Evaluasi dilakukan untuk menilai kepatuhan pemerintah daerah dalam menerapkan standar pengelolaan sampah sesuai ketentuan yang berlaku.
“Itu evaluasi nanti di 1 Agustus. Jadi semua, sekitar 390 TPA itu nanti akan dilakukan evaluasi. Mana yang taat dan tidak,” tegas Rizal.
Drone Thermal dan Manggala Agni Dikerahkan
Sementara itu, Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Faisal Malik Hendropriyono mengatakan operasi pemadaman terus dilakukan secara terpadu dengan melibatkan berbagai instansi.
KLH telah mengoperasikan thermal drone untuk memetakan titik panas yang masih aktif di bawah permukaan timbunan sampah. “Jadi kami hanya bisa melakukan monitoring analisa melalui drone secara berkala,” ujar Diaz.
Selain itu, pemerintah mengerahkan dua unit mobile monitoring system untuk memantau kualitas udara di sekitar lokasi, termasuk kadar sulfur dioksida (SO₂), nitrogen dioksida (NO₂), serta partikel PM1.0 dan PM2.5.
Menurut Diaz, indeks kualitas udara sempat mencapai angka yang sangat tinggi sebelum mulai menunjukkan tren penurunan.
“Dan ini sudah sampai ke tingkat 1.000. Jadi berapa hari ini sudah tingkat 1.000, tetapi tadi malam saya lihat langsung menurun drastis,” katanya.
Karakteristik kebakaran di TPA Jatiwaringin disebut menyerupai kebakaran lahan gambut karena api terus menyala di bawah permukaan timbunan sampah.
Untuk mempercepat pemadaman, Kementerian Kehutanan mengirimkan 30 personel Manggala Agni yang memiliki pengalaman menangani kebakaran bawah permukaan menggunakan peralatan **high pressure injection**.
“Karena TPA ini mungkin bukannya tidak efektif, tapi kurang efektif kalau diairi dari atas saja. Karena di bawahnya tetap kebakaran, sehingga kita butuh bantuan Manggala Agni untuk melakukan inject sampai ke titik di bawah,” tutur Diaz.
Selain pengerahan personel, pemerintah bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga menyiapkan operasi modifikasi cuaca (TMC) untuk membantu mempercepat pemadaman kebakaran yang telah melanda sekitar 15 hektare area TPA Jatiwaringin.
“Sehingga mungkin atau dimungkinkan untuk melakukan operasi TMC besok. Kita akan melakukan bersama BNPB dan BMKG,” pungkasnya.