Evakuasi massal secara darurat tengah berlangsung di Guam dan Kepulauan Mariana Utara. Wilayah teritorial pariwisata milik Amerika Serikat di Samudra Pasifik tersebut kini sedang berada dalam jalur intaian mematikan Topan Super Bavi yang bergerak sangat cepat.
Badan Cuaca Nasional AS (NWS) memperkirakan mata topan akan mendarat (landfall) pada Senin pagi waktu setempat. Dengan kecepatan angin yang mengerikan mencapai 257 km/jam (160 mph), badai kategori sangat berbahaya ini diprediksi mampu memicu kerusakan yang katastrofik (luluh lantak total).
Ancaman Nyata: Gelombang Setinggi Ruko dan Banjir Bandang
NWS memperingatkan warga bahwa jendela waktu untuk menyelamatkan diri sudah hampir tertutup rapat. Dampak destruktif badai bahkan akan terasa selama 8 hingga 10 jam sebelum dan sesudah pusat topan melintas.
Ombak laut di wilayah pesisir diproyeksikan melonjak hingga ketinggian 11 meter (35 kaki). Potensi banjir bandang besar akibat hujan deras yang mengguyur tanpa henti.
Guam, yang berpenduduk 170.000 jiwa, telah membuka lima sekolah sebagai posko darurat. Namun, baru memasuki Minggu siang, posko-posko tersebut dilaporkan mulai penuh sesak dan kelebihan muatan.
Derita Turis dan Pelaku Usaha di Garis Depan
Di balik statusnya sebagai destinasi wisata tropis yang biasanya bermandikan cahaya matahari, ketakutan mendalam kini menyelimuti warga dan pelancong:
Bukan hanya warga lokal, Miku Sakurai (25 tahun), seorang turis asal Jepang, mengaku terjebak di pulau tersebut setelah penerbangan pulang menuju Tokyo pada hari Minggu dibatalkan total akibat cuaca buruk. “Kami hanya bisa mengurung diri di dalam hotel saat badai datang. Saya sangat takut,” tuturnya kepada AFP.
Berdasarkan data Joint Typhoon Warning Center (JTWC) milik Angkatan Laut AS, kekuatan Topan Bavi yang setara dengan badai Hurikan Kategori 4 atau 5 ini merupakan dampak nyata dari krisis iklim global.
Para ilmuwan menjelaskan bahwa fenomena El Niño kuat tahun ini telah menghangatkan suhu permukaan laut di Pasifik secara drastis. Air laut yang hangat ini menguapkan lebih banyak uap air ke atmosfer, yang secara mekanis menjadi “bahan bakar utama” untuk mengubah badai biasa menjadi topan super mematikan dalam waktu singkat.