JAKARTA – Pemerintah China mendesak Amerika Serikat (AS) dan Iran segera menghentikan eskalasi konflik yang kembali memanas di kawasan Teluk Persia. Beijing menilai pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi langkah mendesak untuk memulihkan stabilitas perdagangan global sekaligus mencegah dampak ekonomi yang lebih luas.
Seruan tersebut disampaikan Kementerian Luar Negeri China di tengah meningkatnya ketegangan militer antara Washington dan Teheran yang memicu terganggunya jalur pelayaran internasional di salah satu titik paling strategis bagi distribusi energi dunia.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, menegaskan bahwa kelancaran pelayaran di Selat Hormuz merupakan kepentingan bersama masyarakat internasional. Menurutnya, jalur tersebut harus segera kembali beroperasi secara normal agar aktivitas perdagangan global tidak semakin terdampak.
“Memulihkan jalur normal dan aman di selat sesegera mungkin adalah aspirasi bersama komunitas internasional,” ujar Lin Jian dalam konferensi pers, seperti dikutip Al Jazeera.
Lin menambahkan, Beijing terus melakukan berbagai upaya diplomatik guna meredakan ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. China, kata dia, berharap kedua negara menahan diri dan mengedepankan penyelesaian melalui jalur dialog.
“Kami terus berusaha tanpa henti untuk membantu meredakan situasi,” kata Lin.
Pernyataan tersebut muncul setelah konflik kembali meningkat menyusul insiden penyerangan terhadap tiga kapal komersial yang melintas di Selat Hormuz. Serangan itu memicu respons militer baru antara Iran dan Amerika Serikat, sehingga memperburuk situasi keamanan di kawasan.
Washington kemudian mengambil langkah dengan mengaktifkan kembali blokade angkatan laut terhadap Iran. Pemerintah AS juga mencabut kembali izin ekspor minyak Iran yang sebelumnya menjadi bagian dari nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani pada 17 Juni.
Tidak berhenti di situ, militer Amerika Serikat melancarkan serangkaian operasi militer yang menyasar sejumlah wilayah Iran, terutama kawasan pesisir yang dinilai memiliki nilai strategis.
Langkah tersebut langsung mendapat respons keras dari Teheran. Pemerintah Iran meluncurkan serangan balasan yang menyasar sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Di saat yang sama, Iran kembali menutup Selat Hormuz sebagai bagian dari respons terhadap tekanan militer dan ekonomi yang diberikan Washington.
Penutupan jalur pelayaran itu memicu kekhawatiran baru di pasar global. Selat Hormuz selama ini dikenal sebagai salah satu jalur distribusi minyak paling vital di dunia, yang menjadi lintasan utama ekspor energi dari negara-negara Teluk menuju pasar internasional.
Gangguan terhadap aktivitas pelayaran di kawasan tersebut dinilai berpotensi memicu lonjakan harga minyak dunia, mengganggu rantai pasok energi, hingga meningkatkan biaya logistik internasional.
Situasi itu mendorong berbagai negara untuk menyerukan deeskalasi konflik agar stabilitas kawasan segera pulih. China menjadi salah satu negara yang paling vokal meminta kedua pihak mengutamakan jalur diplomasi dibandingkan konfrontasi militer.
Beijing menilai pemulihan keamanan di Selat Hormuz bukan hanya menyangkut kepentingan kawasan Timur Tengah, tetapi juga menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas ekonomi global yang saat ini masih menghadapi berbagai tekanan.
Dengan meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran, perhatian dunia kini tertuju pada perkembangan di Selat Hormuz. Jalur strategis tersebut dipandang sebagai indikator penting bagi stabilitas perdagangan internasional, sehingga setiap gangguan berpotensi memberikan dampak langsung terhadap pasar energi dan perekonomian global.