JAKARTA – Kementerian Sosial dan Kementerian Pariwisata memperkuat kolaborasi untuk mempercepat pengembangan Sekolah Rakyat melalui penandatanganan MoU di Poltekpar NHI Bandung.
Kesepakatan tersebut menjadi pijakan sinergi dalam penyediaan lahan, fasilitas pendidikan, penguatan kurikulum, hingga perluasan akses beasiswa bagi lulusan.
Kolaborasi ini juga menandai langkah pembangunan Sekolah Rakyat permanen di Kampus Dayeuhkolot Poltekpar NHI Bandung sebagai pusat pendidikan masa depan.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana memastikan pihaknya menghibahkan lahan seluas lima hektare untuk pembangunan Sekolah Rakyat.
“Kami di Kementerian Pariwisata, di Politeknik Pariwisata NHI Bandung ini akan memberikan tanah lima hektare untuk pembangunan Sekolah Rakyat dan dua hektare untuk pembangunan fasilitas olahraga yang bisa digunakan bersama dengan anak-anak NHI Bandung,” kata Widiyanti.
Selain lahan, Kementerian Pariwisata akan memperkuat kompetensi siswa melalui kurikulum berbasis pariwisata yang relevan dengan kebutuhan industri.
Lulusan Sekolah Rakyat juga memperoleh peluang melanjutkan pendidikan tinggi di Poltekpar melalui jalur beasiswa.
“Sekolah Rakyat ini kami berikan alokasi 20% bisa masuk ke politeknik pariwisata dengan beasiswa,” kata Widiyanti.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf menyebut lokasi tersebut akan menjadi salah satu kompleks Sekolah Rakyat permanen milik pemerintah.
Pembangunan gedung akan dilakukan setelah seluruh persyaratan administrasi dan teknis dipenuhi sesuai standar yang ditetapkan pemerintah.
“Tanah yang disiapkan oleh Kementerian Pariwisata ini akan menjadi bagian dari salah satu gedung permanen yang akan dibangun pada tahap tiga atau tahap empat.”
“Jika semua persyaratannya sudah dicukupi, insyaallah Kemen PU akan membangun sesuai standar yang telah ditetapkan,” jelas Gus Ipul didampingi Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono dan Sekretaris Jenderal Kementerian Sosial Robben Rico serta Wakil Bupati Bandung Ali Syakieb.
Sekolah berasrama tersebut dirancang mampu menampung sekitar 2.000 peserta didik mulai jenjang SD, SMP, hingga SMA.
Seluruh siswa akan memperoleh pendampingan selama 24 jam dengan dukungan pembelajaran digital berbasis Learning Management System.
“Intinya sekolah rakyat ingin menghadirkan proses pembelajaran dengan lingkungan berkualitas dan mempersiapkan anak-anak kita ini menjadi generasi emas tahun 2045,” kata Gus Ipul.
Program Sekolah Rakyat diprioritaskan bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera berdasarkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional tanpa proses pendaftaran.
Sasarannya mencakup anak putus sekolah, berisiko putus sekolah, belum sekolah, maupun yang belum pernah mengenyam pendidikan.
Gus Ipul menegaskan program yang berjalan sejak Juli 2025 telah menghasilkan berbagai capaian membanggakan dari para siswanya.
“Sudah berjalan satu tahun sejak Juli 2025 yang lalu dan kita bangga ada prestasi-prestasi yang sudah dicapai oleh siswa-siswa sekolah rakyat,” kata Gus Ipul.
Acara penandatanganan kerja sama juga menampilkan kemampuan akademik dan karakter siswa Sekolah Rakyat di hadapan para tamu.
Empat siswa memperagakan pidato menggunakan bahasa Inggris, Arab, Mandarin, dan Jepang secara percaya diri.
Paduan suara turut membawakan lagu berbahasa Sunda dan lagu bertema keluarga yang mendapat apresiasi para undangan.
Suasana semakin menyentuh ketika puisi tentang harapan melalui Sekolah Rakyat dibacakan hingga mengundang haru para peserta.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan yel-yel penuh semangat serta demonstrasi karate yang menunjukkan hasil pembinaan karakter dan nonakademik.
Sejumlah pejabat dari Kemensos, Kementerian Pariwisata, Pemerintah Kabupaten Bandung, serta jajaran Poltekpar NHI Bandung menghadiri penandatanganan kerja sama tersebut.***