JATIM — Sekitar 50 ribu jemaah memadati kawasan Jalan Sunan Giri, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, saat peringatan Haul Kanjeng Sunan Giri, Sabtu (5/9/2026) malam. Di tengah kepadatan tersebut, sejumlah dapur umum sibuk menyiapkan makanan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi jemaah yang datang dari berbagai daerah.
Rangkaian kegiatan keagamaan tersebut diisi dengan zikir bersama dan dihadiri Al-Habib Quraisy bin Qosim Baharun. Jemaah berkumpul di sekitar kompleks makam untuk memperingati haul Sunan Giri, salah satu tokoh Wali Songo yang dikenal memiliki peran dalam penyebaran Islam melalui pendekatan budaya dan kearifan lokal.
Kedatangan jemaah sejak pagi membuat kebutuhan konsumsi menjadi salah satu hal yang harus dipersiapkan selama kegiatan berlangsung. Sejumlah relawan pun bekerja di dapur umum untuk mengolah makanan dalam jumlah besar.
Salah satu dapur umum berada di kawasan Jalan Sunan Prapen, sekitar 300 meter di sebelah barat makam Sunan Giri. Para relawan di lokasi tersebut menyiapkan beragam hidangan, mulai dari nasi, kerang hijau hingga sayur sop.
Relawan logistik, Mina (42), mengatakan proses memasak dalam jumlah besar membutuhkan pasokan energi yang memadai agar makanan dapat disiapkan tepat waktu.
“Alhamdulillah kami mendapat dukungan LPG dari ArsyGas. Mantab sekali gasnya, jos gandos. Apinya biru dan masakan bisa cepat matang merata,” ujar Mina saat ditemui di lokasi dapur umum.
Menurut Mina, kelancaran proses memasak menjadi bagian penting dalam memenuhi kebutuhan makanan para jemaah. Relawan harus menyiapkan makanan dalam jumlah banyak seiring dengan terus berdatangannya masyarakat ke kawasan haul.
Dukungan pasokan energi untuk operasional dapur umum tersebut dikonfirmasi General Manager ArsyGas Gresik, Radiansyah. Ia mengatakan keterlibatan tersebut dilakukan untuk mendukung kebutuhan kegiatan selama peringatan haul berlangsung.
“Alhamdulillah kami diperkenankan untuk ambil bagian dalam kegiatan ruhaniah ini bersama jamaah dari Gresik, dari Jawa Timur, dan dari daerah lain,” kata Radiansyah.
Ia juga mengajak masyarakat menjadikan peringatan Haul Sunan Giri sebagai momentum untuk mengenang nilai-nilai yang diwariskan tokoh tersebut.
“Mari teladani akhlak, kegigihan dakwah, dan kearifan budaya Waliullah Sunan Giri dalam membangun peradaban yang madani,” ujarnya.
Pasokan energi untuk kegiatan memasak tersebut berasal dari fasilitas pengolahan di Kawasan Industri Maspion V, Manyar. Lokasi fasilitas itu berjarak sekitar 30 menit perjalanan dari kompleks pemakaman Sunan Giri.
Jejak Sunan Giri dalam Penyebaran Islam
Peringatan haul juga menjadi momentum untuk mengenang perjalanan Sunan Giri dalam sejarah penyebaran Islam di Nusantara. Sunan Giri disebut lahir di Blambangan pada 1442 M dan wafat serta dimakamkan di Desa Giri, Gresik, pada 1506 M.
Dalam catatan sejarah, Sunan Giri mendirikan Giri Kedaton yang kemudian berkembang menjadi salah satu pusat penyebaran agama Islam. Pengaruh dakwahnya disebut meluas hingga Madura, Lombok, Kalimantan, Sulawesi dan Maluku.
Penyebaran ajaran Islam yang dilakukan Sunan Giri dikenal menggunakan pendekatan yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Tradisi dan budaya lokal menjadi bagian dari strategi dakwah sehingga ajaran agama dapat diterima di tengah masyarakat.
Sejumlah karya budaya Jawa yang dikaitkan dengan masa tersebut antara lain permainan anak Jelungan dan Cublak Suweng. Selain itu, terdapat pula gending Jawa seperti Asmaradana dan Pucung.
Warisan tersebut turut menjadikan Haul Sunan Giri sebagai tradisi keagamaan yang terus diikuti masyarakat. Di tengah rangkaian kegiatan, aktivitas relawan di dapur umum menjadi bagian dari persiapan untuk memenuhi kebutuhan jemaah yang memadati kawasan Sunan Giri hingga malam hari.