JAKARTA – Di balik kobaran api yang membakar kawasan hutan Gunung Lawu, ada perjuangan para prajurit TNI Angkatan Udara (TNI AU) yang datang dari langit. Dengan helikopter NAS-332 Super Puma, mereka berulang kali menerobos medan pegunungan, mengangkut ribuan liter air, dan menjatuhkannya tepat ke titik-titik kebakaran yang sulit dijangkau melalui jalur darat.
Bagi awak helikopter, misi water bombing bukan sekadar terbang membawa air lalu melepaskannya di atas kobaran api. Setiap manuver membutuhkan konsentrasi tinggi, perhitungan matang, dan kerja sama seluruh personel. Terlebih ketika titik kebakaran berada di tengah kawasan berbukit dengan tebing-tebing tinggi yang membatasi ruang gerak helikopter.
Pengalaman itu dirasakan langsung Komandan Skadron Udara 6 Letkol Pnb M. Ravi Rakasiwi, S.E., M.I.Pol. yang bertindak sebagai pilot sekaligus Pilot in Command (PIC) NAS-332 Super Puma dalam misi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Gunung Lawu, Jawa Tengah.
Dalam perbincangan melalui sambungan telepon dengan tim redaksi Saksi Mata Network, Ravi menceritakan bagaimana kondisi medan yang tampak bersahabat dari kejauhan ternyata menyimpan tantangan besar bagi awak pesawat.
“Gunung yang terlihat friendly ternyata punya medan yang cukup sulit. Terdapat banyak obstacle (rintangan) yang harus dilalui untuk mencapai titik api maupun dalam proses perilisan air. Titik api berada di tengah atau dikelilingi tebing yang menjulang tinggi, sehingga butuh penanganan dengan perhitungan dan koordinasi yang sangat baik dalam proses perilisan air,” ujar Ravi.
Kondisi tersebut membuat setiap pendekatan menuju titik kebakaran harus diperhitungkan dengan cermat. Sedikit saja kesalahan dalam membaca medan dapat memengaruhi proses pelepasan air. Pilot dan kopilot harus memastikan helikopter berada dalam posisi yang tepat agar air yang dibawa benar-benar dapat diarahkan ke lokasi kebakaran.
Lima Awak Bekerja Dalam Satu Misi
Di dalam kabin Super Puma, keberhasilan operasi bukan hanya ditentukan oleh pilot yang memegang kendali penerbangan. Ada lima personel dengan tugas masing-masing yang harus bekerja dalam koordinasi penuh.
Pilot dan kopilot bertanggung jawab menjaga kendali helikopter sekaligus memastikan penerbangan berlangsung aman. Konsentrasi keduanya harus tetap terjaga, terutama saat bermanuver di kawasan pegunungan yang dipenuhi rintangan alam.
Dua personel lainnya bertugas sebagai operator. Mereka memantau situasi di sekitar sasaran dan mengoperasikan katup Bambi Bucket, perangkat penampung air yang digantungkan di bawah helikopter. Sementara satu personel lainnya merupakan juru mesin yang bertanggung jawab memantau kondisi teknis mesin selama penerbangan.
Kelima awak tersebut memiliki peran yang saling melengkapi. Komunikasi dan ketepatan mengambil keputusan menjadi bagian penting, mulai dari proses mengambil air, terbang menuju titik kebakaran, hingga melepaskan air dari ketinggian.
Ravi menegaskan, tanpa kerja sama yang baik, misi pemadaman melalui udara tidak akan berjalan maksimal. Insting dan pengalaman setiap awak juga menjadi bekal penting ketika menghadapi situasi yang berubah selama penerbangan.
3.000 Liter Air Dibawa dalam Sekali Penerbangan
Di balik manuver yang dilakukan di tengah medan pegunungan, helikopter Super Puma membawa perangkat Bambi Bucket dengan kapasitas maksimal 2.950 liter air dalam sekali pengambilan.
Dalam satu kali pelepasan, air yang dibawa dapat menjangkau titik api dengan jarak sekitar 300 hingga 500 meter. Bahkan, dalam satu misi, helikopter mampu melakukan pengambilan dan pelepasan air sebanyak 10 sampai 15 kali.
Kemampuan tersebut menjadi salah satu keunggulan metode water bombing, terutama untuk menangani kebakaran di kawasan yang sulit dijangkau petugas dari darat.
Namun, ada bagian dari operasi yang justru memiliki risiko besar sebelum air sampai ke titik kebakaran. Menurut Ravi, proses pengambilan air atau water pick up menjadi salah satu tahapan paling menantang bagi pilot dan seluruh awak.
“Risiko terbesar yang kami hadapi di lapangan justru ketika pick up air,” ungkapnya.
Persoalan muncul ketika sumber air yang digunakan memiliki area terbatas. Ruang yang sempit membuat pilot harus menjaga posisi dan kestabilan helikopter agar Bambi Bucket dapat terisi penuh.
“Jika tempat tidak terlalu besar, kami harus bisa stabil sampai Bambi Bucket terisi penuh,” kata Ravi.
Tantangan tidak berhenti di situ. Sumber air yang berada di waduk atau cekungan dan dikelilingi perbukitan juga menghadirkan risiko tersendiri. Setelah mengambil air, helikopter harus mengangkat beban hingga mendekati kapasitas maksimal, kemudian bermanuver melewati kawasan dengan elevasi lebih tinggi.
Dalam kondisi tersebut, kemampuan pilot dan kopilot benar-benar diuji. Keduanya harus memperhitungkan tenaga atau power helikopter agar mampu mengangkat beban air sekaligus melewati kontur perbukitan dengan aman.
Keselamatan Warga Tetap Menjadi Perhatian
Tantangan lainnya muncul ketika lokasi pengambilan air berada dekat dengan permukiman penduduk. Hembusan angin yang dihasilkan baling-baling helikopter memiliki kekuatan besar sehingga berpotensi membahayakan masyarakat apabila arah pendekatan tidak diperhitungkan dengan baik.
Karena itu, awak harus menentukan jalur approach yang tepat sebelum melakukan pengambilan air. Posisi dan arah pergerakan helikopter menjadi pertimbangan penting agar aktivitas tersebut tidak menimbulkan risiko bagi warga sekitar.
“Kami harus benar menentukan arah approach jauh dari pemukiman penduduk, karena angin yang dihasilkan sangat kencang dan bisa membahayakan,” ujar Ravi.
Berbagai tantangan tersebut menjadi bagian dari risiko yang harus dihadapi para awak selama menjalankan misi. Mereka tidak hanya dituntut mampu menjangkau titik kebakaran, tetapi juga memastikan setiap tahapan operasi berlangsung dengan memperhatikan keselamatan.
TNI AU Kerahkan Helikopter di Lima Wilayah
Misi di Gunung Lawu merupakan bagian dari operasi penanganan karhutla yang dilakukan TNI AU di sejumlah daerah. Berdasarkan keterangan resminya, terdapat lima lokasi yang telah menjadi sasaran pemadaman melalui metode water bombing.
Kelima lokasi tersebut yakni Pekanbaru, Riau; Pontianak, Kalimantan Barat; Balikpapan, Kalimantan Timur; Gunung Lawu, Jawa Tengah; dan Gunung Ciremai, Jawa Barat.
Dalam operasi tersebut, TNI AU mengerahkan helikopter H225M Caracal dari Skadron Udara 8 dan NAS-332 Super Puma dari Skadron Udara 6. Kedua armada dilengkapi Bambi Bucket dengan kapasitas maksimal 2.950 liter air dalam sekali pengambilan.
Penggunaan helikopter menjadi salah satu upaya untuk mempercepat penanganan kebakaran, terutama ketika titik api berada di kawasan yang sulit dijangkau melalui jalur darat.
Bagi Ravi dan seluruh awak Super Puma, setiap penerbangan memiliki tantangan yang berbeda. Ada medan yang harus dibaca, sumber air yang harus diperhitungkan, hingga titik api yang mesti dijangkau dengan ketepatan tinggi.
Di tengah situasi tersebut, kerja sama lima personel di dalam kabin menjadi bagian penting dari keberhasilan misi. Mereka bekerja dalam satu tujuan, membawa air dari sumber terdekat untuk membantu memadamkan api yang membakar kawasan hutan.
Semangat pengabdian itu sejalan dengan jargon TNI AU, AMPUH, yang berarti Adaptif, Modern, Profesional, Unggul, dan Humanis.
Melalui operasi water bombing, TNI AU terus mengambil bagian dalam upaya penanganan karhutla di Tanah Air. Dari balik kabin Super Puma, perjuangan itu berlangsung dalam setiap penerbangan, setiap manuver, dan setiap tetes air yang dijatuhkan ke kawasan hutan yang terbakar.


