MAGELANG – Divisi Humas Polri bersama Bidhumas Polda Jawa Tengah dan Polresta Magelang menggelar kegiatan Silaturahmi Kamtibmas bertajuk “Terorisme Musuh Kita Bersama” pada Senin, 21 April 2025.
Acara tersebut dihadiri oleh Ketua Tim Divisi Humas Polri Kombes Pol Erdi Adrimulan Chaniago, Kabidhumas Polda Jateng Kombes Pol Artanto, serta jajaran Polresta Magelang.
Selain itu, turut dihadirkan narasumber yang pernah bergelut di lingkaran kelompok radikal, Khoirul Ikhwan.
Mantan pelaku ini membuka cerita bagaimana dirinya terjerumus ke ideologi ekstrem hingga akhirnya memilih kembali ke pangkuan NKRI.
Kehadiran Khoirul bukan sekadar berbagi kisah kelam, melainkan menyuarakan transformasi batin yang mengubah arah hidupnya.
Ia menuturkan bagaimana celah-celah sosial dan informasi digital dapat menjadi pintu masuk doktrin kebencian. Kini, ia berdiri di pihak sebaliknya—menjadi agen pencegahan.
“Selalu berpikir positif tentang keluarga, jangan meragukan kasih sayang mereka. Hati-hati dalam pertemanan di media sosial, termasuk dalam menerima dan menyebarkan informasi,” pesannya.
Berbekal pengalaman pribadi, Khoirul menggugah kesadaran akan bahaya infiltrasi ideologi kekerasan yang seringkali tersembunyi di balik dalil dan narasi agamis.
Baginya, kekerasan bukan jawaban atas ketidakadilan, dan keberagaman adalah kekuatan yang harus dirawat.
“Indonesia terdiri dari beragam suku, agama, dan sekte, namun semua bersatu dalam satu sistem: ideologi Pancasila, yang menjadi benteng utama dalam menangkal radikalisme,” ujarnya lantang.
Selain itu, ia mengingatkan pentingnya menjaga hubungan dengan keluarga dan waspada terhadap pertemanan di dunia maya.
“Jangan membalas ketidakadilan dengan ketidakadilan. Kita harus menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari konflik. Indonesia ini kuat karena keberagamannya, dan Pancasila adalah benteng kita bersama,” ungkap Khoirul.
Sosok Mantan Radikalis yang Kini Jadi Duta Damai
Khoirul Ikhwan tak banyak dikenal publik sebelumnya, namun kisah hidupnya kini menjelma inspirasi. Ia pernah terperangkap dalam jaringan radikal yang menggoda dengan narasi surgawi dan justifikasi kekerasan.
Dalam berbagai sumber dan wawancara terbuka yang pernah dilakukan Khoirul Ikhwan, ia menyebut dirinya mulai terpapar paham radikal sekitar tahun 2007.
Saat itu, ia berada dalam situasi yang membuatnya rentan—merasa terasing, haus akan pemahaman agama, namun minim literasi, dan akhirnya mudah percaya terhadap narasi ekstrem yang tersebar melalui media sosial dan forum-forum tertutup.
Adapun titik tobatnya atau momen saat ia memutuskan keluar dari lingkaran radikalisme dan kembali ke jalan damai terjadi sekitar tahun 2013.
Proses tersebut tidak instan, melainkan melalui perenungan panjang, terutama karena ia mulai tersentuh kembali oleh kasih sayang keluarganya dan mulai mempertanyakan ajaran yang selama ini ia anut.
Sejak saat itu, Khoirul aktif dalam program deradikalisasi dan kini dikenal sebagai narasumber penting dalam berbagai forum yang membahas bahaya ekstremisme dan pentingnya ideologi Pancasila.
Ia menemukan cahaya melalui kasih sayang keluarga yang tak pernah pudar. Momen itu menjadi titik balik yang membawanya pada proses panjang deradikalisasi.
Kini, ia aktif mengedukasi generasi muda di berbagai wilayah. Pesannya sederhana tapi kuat: radikalisme bisa menjangkit siapa pun bila tidak cermat menyikapi derasnya informasi digital.
Dalam setiap sesi diskusi, Khoirul menekankan pentingnya literasi digital dan pemahaman ideologi kebangsaan sebagai tameng dari propaganda ekstrem.
Ia menjadi suara bagi mereka yang nyaris tenggelam dalam kegelapan, sekaligus bukti bahwa deradikalisasi bukan isapan jempol.
Transformasinya menjadi duta perdamaian adalah pengingat bahwa setiap orang berhak atas kesempatan kedua.***