ARAB SAUDI – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah memuncak setelah serangan udara Israel ke ibu kota Qatar, Doha, memicu respons keras dari Arab Saudi.
Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS), secara tegas mengutuk aksi tersebut yang menewaskan enam orang, termasuk petinggi Hamas, dan langsung menghubungi pemimpin Qatar untuk menawarkan dukungan penuh.
Langkah ini menandakan potensi eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan Arab, dengan implikasi bagi stabilitas global.
Menurut pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Arab Saudi, MBS mengecam serangan Israel sebagai “tindakan kriminal dan pelanggaran berat terhadap hukum dan norma internasional”.
Respons ini datang hanya sehari setelah insiden berdarah di Yerusalem yang diklaim oleh Hamas, memicu serangkaian reaksi berantai dari berbagai pihak internasional.
Latar Belakang Serangan Israel ke Qatar
Serangan udara Israel dilancarkan pada Selasa (9/9/2025) dengan dalih membalas penembakan mematikan di Yerusalem pada hari Senin sebelumnya, yang menewaskan enam warga sipil.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara pribadi memerintahkan operasi tersebut, menargetkan para pemimpin senior Hamas yang sedang berada di Doha. Qatar, sebagai sekutu dekat Amerika Serikat (AS) dan tuan rumah pangkalan militer AS terbesar di kawasan, menjadi sasaran karena menjadi lokasi perundingan damai Gaza yang sensitif.
Dalam pernyataan bersama Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel Katz, disebutkan: “Kemarin, setelah serangan mematikan di Yerusalem dan Gaza, Perdana Menteri Netanyahu menginstruksikan semua badan keamanan untuk bersiap menghadapi kemungkinan menargetkan para pemimpin Hamas.”
Insiden ini bukan hanya menewaskan enam orang, tetapi juga mengguncang dinamika diplomatik regional. Qatar, yang sering memediasi konflik Palestina-Israel, kini berada di posisi defensif, dengan Perdana Menteri Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al-Thani memperingatkan hak negara itu untuk membalas.
“Qatar… berhak menanggapi serangan terang-terangan ini,” ujarnya dalam konferensi pers, seperti dikutip dari AFP.
Ia menambahkan, “Kami yakin bahwa hari ini kita telah mencapai momen penting. Harus ada respons dari seluruh kawasan terhadap tindakan biadab semacam itu.”
Respons Arab Saudi: Dukungan Penuh untuk Qatar
Arab Saudi, yang memiliki hubungan rumit namun semakin dekat dengan Qatar pasca-krisis diplomatik 2017–2021, langsung mengambil sikap tegas. MBS tidak hanya mengutuk serangan tersebut tetapi juga menjanjikan bantuan penuh untuk melindungi kedaulatan Qatar.
Pernyataan Kementerian Luar Negeri kerajaan menegaskan: “Putra Mahkota menyampaikan dukungan penuh Arab Saudi untuk Negara Qatar, dan kecamannya atas serangan terang-terangan Israel terhadap Negara Qatar, yang merupakan tindakan kriminal dan pelanggaran berat terhadap hukum dan norma internasional.”
Lebih lanjut, “Arab Saudi mengerahkan seluruh kemampuannya untuk mendukung Qatar dan langkah-langkah yang diambilnya untuk melindungi keamanan dan kedaulatannya.” Kontak langsung MBS dengan Emir Qatar Sheikh Tamim Al Thani menunjukkan komitmen Riyadh untuk mencegah eskalasi lebih lanjut, meskipun situasi tetap tegang.
Deklarasi siaga I perang oleh Arab Saudi ini menjadi sinyal kuat bahwa kerajaan tersebut siap menghadapi skenario konflik terbuka dengan Israel, yang bisa melibatkan negara-negara Teluk lainnya.
Analis internasional melihat ini sebagai upaya Riyadh untuk memperkuat posisinya di kawasan, terutama di tengah normalisasi hubungan dengan Israel yang sempat dibahas sebelumnya.
Reaksi Internasional: Kecaman dari AS dan Potensi Dampak Ekonomi
Serangan ini juga memicu kecaman langka dari Presiden AS Donald Trump, yang menyatakan ketidaksetujuannya terhadap keputusan Israel.
Gedung Putih mengklaim telah memperingatkan Qatar sebelumnya, meskipun Doha membantah menerima notifikasi apa pun hingga serangan terjadi. Hal ini menambah ketegangan antara AS dan sekutunya di Timur Tengah, di mana Qatar menampung ribuan tentara AS dan menjadi pusat operasi militer penting.
Dari sisi ekonomi, eskalasi ini berpotensi mengganggu aliran minyak dan gas di Teluk Persia, yang menyumbang sebagian besar pasokan energi global. Harga minyak dunia diprediksi melonjak jika konflik membesar, memengaruhi pasar internasional termasuk Indonesia sebagai importir energi utama.
Sampai saat ini, tidak ada laporan korban tambahan atau serangan balasan langsung, tetapi pemantauan ketat dari PBB dan Uni Eropa diperlukan untuk mencegah perang regional.
Update terbaru dari Times of Israel dan AFP menunjukkan bahwa negosiasi darurat sedang digelar untuk meredakan situasi.
Dengan kata kunci seperti “serangan Israel Doha Qatar”, “respons Arab Saudi perang Arab”, dan “konflik Timur Tengah 2025”, berita ini menjadi sorotan utama bagi pembaca yang mencari informasi terkini tentang geopolitik global.