JAKARTA – Cuaca ekstrem yang melanda sejumlah wilayah Indonesia mengakibatkan kerusakan rumah dan fasilitas umum hingga memaksa warga mengungsi. Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, menjadi salah satu daerah dengan dampak cukup besar setelah angin kencang merusak 80 rumah dan berdampak pada 294 jiwa.
Berdasarkan laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sebanyak 82 kepala keluarga (KK) atau 294 jiwa terdampak bencana yang terjadi di empat desa di Kecamatan Lebakwangi dan Maleber, Kabupaten Kuningan, pada Kamis (29/10/2026).
Dari jumlah tersebut, dua KK atau delapan jiwa dilaporkan mengungsi. Kerusakan rumah warga terdiri atas 66 unit rusak ringan, enam unit rusak sedang, dan delapan unit rusak berat. Selain permukiman, satu ruas jalan dan satu fasilitas umum juga terdampak.
Hingga Jumat (30/10/2026), warga masih bergotong royong membersihkan material bangunan yang rusak akibat terjangan angin kencang. Peristiwa tersebut berlangsung sekitar pukul 15.00 hingga 17.30 WIB dan dipicu hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyampaikan bahwa kejadian tersebut merupakan bagian dari rangkaian bencana yang terjadi di sejumlah daerah dalam periode Jumat (30/10) pukul 07.00 WIB hingga Sabtu (31/10) pukul 07.00 WIB.
Selain Kuningan, dampak cuaca ekstrem juga dilaporkan di beberapa wilayah lain, termasuk Kabupaten Magetan dan Ngawi di Jawa Timur serta Kabupaten Tapin di Kalimantan Selatan.
Di Kabupaten Magetan, hujan sedang hingga lebat yang disertai angin kencang pada Kamis (29/10) sekitar pukul 16.00 WIB menyebabkan pohon tumbang dan merusak 11 rumah. Sebanyak 10 rumah mengalami rusak ringan, sedangkan satu rumah lainnya rusak sedang.
Bencana tersebut juga berdampak pada satu fasilitas kesehatan dan satu fasilitas pendidikan. BPBD Provinsi Jawa Timur bersama BPBD Kabupaten Magetan telah melakukan asesmen dan penanganan pohon tumbang.
Sementara di Kabupaten Ngawi, kejadian serupa menyebabkan 11 pohon tumbang di enam desa yang berada di Kecamatan Kedawung dan Kecamatan Ngawi. Empat rumah dilaporkan mengalami kerusakan ringan, sedangkan kabel listrik terputus akibat kejadian tersebut.
Dampak lebih luas juga terjadi di Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan. Hujan deras disertai angin kencang pada Senin (26/10) mengakibatkan 28 rumah dan satu fasilitas pendidikan mengalami kerusakan. Dampak bencana tersebar di Kecamatan Salam Babaris, Tapin Selatan, dan Bungur.
Tim gabungan telah melakukan pendataan dan membersihkan material pohon tumbang yang menimpa rumah warga. Namun, hingga Jumat (30/10), kerusakan pada bagian atap sejumlah rumah masih membutuhkan penanganan dan bantuan lanjutan.
Banjir dan Longsor Terjadi di Sejumlah Daerah
Selain cuaca ekstrem, BNPB juga mencatat kejadian banjir dan tanah longsor di sejumlah wilayah.
Di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, banjir terjadi setelah hujan berintensitas tinggi menyebabkan tanggul jebol pada Kamis (29/10) sekitar pukul 21.30 WIB. Sebanyak 310 rumah di tiga desa di Kecamatan Tanjung Pura terdampak.
BPBD Kabupaten Langkat bersama Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang telah meninjau lokasi serta melakukan pengukuran terhadap tanggul yang rusak. Penanganan lanjutan direncanakan dengan pemasangan geobag untuk membantu mengatasi kerusakan tanggul.
Banjir yang disertai tanah longsor juga melanda Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi pada Kamis (29/10) sekitar pukul 23.00 WIB menyebabkan 27 rumah di tiga desa di Kecamatan Munjungan mengalami kerusakan ringan.
BPBD Kabupaten Trenggalek bersama TNI, Polri, perangkat desa, dan masyarakat masih melakukan pemantauan terhadap ketinggian air di wilayah terdampak.
Di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, banjir melanda Kelurahan Plumbungan, Kecamatan Karangmalang, pada Jumat (30/10) sekitar pukul 19.10 WIB. Sebanyak enam KK atau 29 jiwa terdampak, dengan enam rumah turut terkena banjir.
Selain curah hujan yang cukup tinggi dan berlangsung lama, banjir dipicu tersumbatnya gorong-gorong akibat material tanah longsor. BPBD Kabupaten Sragen telah melakukan kaji cepat dan penanganan di lokasi. Dalam laporan BNPB, banjir tersebut telah surut.
Karhutla Melanda Tiga Daerah
Di tengah rangkaian bencana hidrometeorologi tersebut, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga dilaporkan terjadi di sejumlah daerah, yakni Kabupaten Kolaka Timur, Kota Tual, dan Kabupaten Sinjai.
Di Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara, kebakaran terjadi di Desa Matabondu, Kecamatan Tirawuta, pada Kamis (29/10) sekitar pukul 11.30 WITA. Api membakar sekitar satu hektare lahan milik warga yang berada tidak jauh dari kawasan permukiman. Petugas berhasil memadamkan api dan tidak ada korban jiwa.
Sementara di Kota Tual, Maluku, karhutla berlangsung sejak 3 hingga 28 Oktober 2026. Kebakaran melanda Kecamatan Pulau Dullah Selatan dan Pulau Dullah Utara, mencakup satu kelurahan dan enam desa. Total lahan yang terbakar mencapai 3,24 hektare.
BPBD Kota Tual bersama pihak terkait telah melakukan asesmen dan koordinasi penanganan. Hingga Jumat (30/10), seluruh titik kebakaran dilaporkan berhasil dipadamkan tanpa menimbulkan korban jiwa.
Adapun di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, kebakaran terjadi pada Jumat (30/10) sekitar pukul 12.00 WITA. Api membakar kebun di Desa Puncak, Kecamatan Sinjai Selatan, dan Desa Biroro, Kecamatan Sinjai Timur, dengan total luas lahan terdampak mencapai 4,7 hektare.
Kebakaran dipicu pembakaran ranting sisa penebangan. Proses pemadaman melibatkan petugas pemadam kebakaran, Babinsa, dan masyarakat dengan mengerahkan satu unit mobil pemadam serta pompa gendong. Api berhasil dikendalikan dan tidak ada korban jiwa.
BNPB mengingatkan pemerintah daerah dan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana, terutama banjir, tanah longsor, dan cuaca ekstrem.
Masyarakat juga diminta rutin memantau informasi cuaca melalui sumber resmi. Apabila kondisi lingkungan menunjukkan tanda-tanda ancaman bencana, warga diharapkan segera mengambil langkah evakuasi secara mandiri untuk menghindari risiko yang lebih besar.